Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Books Review’ Category

Bagaimana cara agar anak-anak kita menjadi pribadi yang PD? itu juga masih menjadi PR kami ^^ Memberi rasa aman pada anak, konon bisa membuat anak merasa nyaman dengan dirinya, merasa dirinya berharga dan akhirnya membuat anak lebih PD.

Berikut 7 Langkah Ortu membangun percaya diri anak, menurut buku “Parenting for Character Building” karya Andri Priyatna :
1. Menyimak
2. Jangan menyepelekan
3. Jangan memberi kritik bernada negatif
4. Segera bertanya setiap kali terjadi perubahan perilaku
5. Tidak pelit memberi pujian
6. Mendorong anak untuk “berfikir”
7. Berfokus pada hal-hal positif.

Karena saya seorang muslimah, jadi saya akan mengulas point demi point tersebut diatas, dalam perspektif pemahaman agama saya ^^

1. Menyimak
Menurut ebook “30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama” terbitan IslamHouse.Com, merupakan keistimewaan anak adalah banyak bertanya dengan pertanyaan yang memenatkan. Bagi setiap ayah dan ibu jangan menghardik putra-putri mereka karenanya. Keistimewaan ini memiliki banyak manfaat:
a. Membuka wawasan akal anak
b. Anak akan lebih dekat dengan orangtuanya
c. Mengetahui kecenderungan anak dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya.

Pada ebook tsb juga disertakan contoh praktis mengenai hal ini. Jika anak anda bertanya tentang api, maka jawab dan katakan “Api diciptakan oleh Allah. Jika Allah berkehendak maka akan mengatakan ‘jadi! maka jadilah apa yang dikehendaki-Nya’….

2. Jangan menyepelekan
Terkadang anak bertengkar karena masalah yang kita anggap sepele. Tetapi ketahuilah, masalah tersebut menurut mereka besar, hingga timbul pertengkaran tsb.

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam mencontohkan perhatian kepada anak. Abu Thalhah punya anak bernama Abu umair. Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dahulu suka bercanda dengannya. Suatu hari beliau melihatnya sedih lalu bertanya, “Hai Abu Umair apa yang dilakukan Nughair (burung kecilnya)?” (HR. Ahmad dalam Musnad 3/155 dengan sanad shahih)

Demikian Rasulullah shalallahu alayhi wa sallam tidak menyepelekan perasaan Abu Umair saat itu.

3. Jangan memberi kritik bernada negatif
Ketika anak melakukan sesuatu yang salah, jangan memberikan kritik bernada negatif. Langsung saja kita memberi koreksi positif atas setiap kesalahan yang telah dia lakukan, agar lain waktu jangan terulang kembali.

Umar bin Salamah berkata:
“Ketika Aku dalam pengasuhan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, tanganku mengacak-acak nampan ketika makan. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam pun berkata kepadaku:
‘Nak, makanlah dengan menyebut nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan dari yang terdekat denganmu.’ Dan demikianlah cara makanku setelahnya.

Contoh lainnya, Anas radiallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah, aku telah berkhidmat kepadanya selama 9 tahun, dan tidak pernah mendapatinya berkata: ‘Kenapa kamu lakukan demikian dan demikian’ atau berkata ‘Kenapa kamu tidak melakukan demikian dan demikian’. (HR. Muslim no. 2304-2310 kitab: al-Fadhail bab: Kana Rasulullah Ahsanunnas Khuluqon)

4. Segera bertanya setiap kali terjadi perubahan perilaku
Jika kita merasa ada suatu perilakunya yang tidak seperti biasanya, cobalah segera untuk bertanya kepada anak. Dan bangun komunikasi yang baik dengannya.

5. Tidak pelit memberi pujian
Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, mendahulukan memberikan pujian dalam memberi nasehat, “Sebaik-baiknya pemuda adalah Ibnu Umar jika dia selalu qiyamullail.”

6. Mendorong anak untuk “berfikir”
Memang sudah tidak zamannya lagi, anak hanya mengikuti orangtua tanpa alasan yang jelas. Sebaiknya kita bangun komunikasi yang baik dengan anak, bangun sikap kritisnya pada koridor syariat. Adakalanya akal tidak dapat menjangkau ilmu Allah yang sangat luas. Pada tataran ini, kita sebagai muslim sebaiknya bersikap sebagaimana para shahabat dahulu bersikap, yaitu sami’na wa atho na, saya dengar dan saya patuhi. Tidak bersikap sebagaimana kaumnya nabi Musa alayhis salam kepada Nabinya.

Sikap kritis ini harus tunduk dibawah naungan ilmu Ilahi, agar menjadi kebaikan di akhirat dan dunia kita. Misalnya, tidak dengan serta merta mengekor pada perkataan seseorang, tanpa dalil yang jelas dalam masalah agama. Untuk masalah keduniaan kita, sikap kritis diperlukan hampir disemua bidang. Bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi dlsb. Sehingga anak-anak mempunyai pemikirannya sendiri, tidak mengekor pada orang lain. InsyaAllah.

7. Berfokus pada hal-hal positif.
Fokus pada setiap kelebihan anak. Sebab, jarang sekali ada manusia yang unggul di semua bidang. Ada hal yang dikuasai dan disenanginya, ada hal yang dia tidak suka. Fokus pada kelebihan anak juga membuat kita lebih fokus dalam mengasuh dan mendidiknya.

Demikianlah pemahaman saya mengenai ketujuh hal tersebut. Sebaik-baiknya contoh adalah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam. Terakhir, bila ada kritik, saran atau tambahan bagi tulisan ini, dipersilahkan untuk menambahkan yha ^^

Daftar Pustaka:
1. “Tarbiyatul Abna’: Bagaimana Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mendidik anak”, Syaikh Musthofa Al Adawi, Media Hidayah.
2. Ebook “30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama”, Salin Sholih Ahmad Ibn Madhi, IslamHouse.
3. “Parenting for Character Building, Andri Priyatna, Elex Media Komputindo.

Read Full Post »

Hafal Al Qur’an dalam sebulan
Penulis: Ir. Amjad Qosim
Penerbit: Qiblat Press
Jumlah halaman: 153 halaman

Buku ini memberikan semangat kepada kaum muslimin yang bercita-cita untuk menghafal Al-Qur’an. Manusia dikaruniai Allah akal yang luar biasa yang tidak dikaruniai oleh makhluk selainnya. Mengenai kekuatan akal dalam logika dan memorize tertulis dalam Al Qur’an bagaimana kakek moyang kita Adam alahis salam belajar nama-nama (benda-benda), “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya…” (QS. Al Baqarah: 31)

Akal yang Allah karuniakan ini memiliki potensi yang luar biasa. Menurut Prof Rosensen weiz dari universitas California bahwa kemampuan penyimpanan memori pada otak manusia sangat besar, hingga tidak seorang pun yang mampu menghitungnya. Ia menyingkap bahwa seandainya otak disuplai secara sempurna dengan informasi-informasi baru sebanyak 10 informasi setiap detiknya, maka diperkirakan selama 60 tahun siang-malam tanpa henti penyuplaian informasi ini tidak akan memenuhi otak manusia. Subhanallah…

Tetapi sayang kebanyakan dari kita tidak menggunakan potensi akal ini dengan sebaik-baiknya. Setiap kali kita mendengar kabar bahwa seseorang telah hafal Al Qur’an atau sekumpulan hadits, kita tercengang. Atau ketika kita membaca perjalanan hidup orang sebelum kita, atau kita melihat sesuatu peninggalan mereka, maka kita membayangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang diciptakan dengan bakat bawaan dan bahwa mereka adalah manusia yang tidak biasa sebagaimana yang kita dengar. Bahkan, kebanyakan dari kita meratapi diri dan berharap seandainya kita bisa seperti mereka. Dan sungguh, seandainya ia tahu apa yang menyebabkan mereka seperti itu, niscaya ia akan berhenti terkagum.

Kita mampu untuk menonton film berjam-jam, membaca koran, majalah, buku dan seterusnya dalam bilangan jam. Tapi sedikit dari kita yang mau untuk bersusah payah membaca Al Qur’an, menghafalnya dan menjadikannya sebagai pelajaran dalam hitungan jam. (saya jadi merasa tersindir ;p). Kita sering mengatakan “terang saja si fulan bisa hafal Al Qur’an soalnya gini…dan gini.” Padahal usaha kita bila dibandingkan dengan fulan tidaklah seberapa, tetapi kita mengharapkan hasil yang sama. Tentu saja itu tidak bisa… Yuk kita bergegas ke “Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Ali Imron: 133).

Ketika dikatakan, ayo kita belajar dan menghafal Al Qur’an. Yang dikatakan adalah “Ah, saya tidak mungkin bisa menghafal sebanyak itu.” “Ingatan saya tidak sekuat itu.” “saya seseorang yang cepat lupa.” Maka yang terjadi adalah demikian seperti yang di persangkakannya. Tetapi jika yang terjadi adalah sebaliknya, kita meyakini bahwa “kita mempunyai ingatan kuat!”, ” kita bisa menghafal Al Qur’an dan bahkan lebih dari itu!” maka InsyaAllah itulah yang akan kita dapatkan. Tentu saja kerja keras tetap merupakan kuncinya. No pain no gain.

Buku ini memotivasi pembacanya untuk menghafal Al Qur’an, walau mungkin bukan benar-benar dalam waktu satu bulan <<— nah khan impuls negatif lagi ^^

Read Full Post »

Dengarlah anakku…

“Dengarlah anakku: Ayah mengatakan hal ini dihadapanmu ketika kau sedang tertidur pulas. Kau letakkan tanganmu yang mungil di bawah pipimu, beberapa helai rambutmu yang pirang menempel di dahimu yang basah. Ayah diam-diam memasuki kamarmu. Beberapa saat yang lalu, ketika Ayah membaca buku di kamar kerja, tiba-tiba ayah dihantui rasa penyesalan yang mendalam. Oleh karena itu, sekarang ayah datang, duduk disampingmu dengan perasaan penuh dengan  dosa.

Wahai anakku, selama ini tidak terpikirkan olehku bahwa ayah telah bertindak ketus dan bersikap keras terhadapmu. Ayah membentakmu sewaktu kau memakai pakaian ketika kau hendak sekolah karena kau hanya mencuci muka saja. Ayah dibuat kesal olehmu karena kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah-marah sewaktu kau terlantarkan mainanmu dilantai.

Pada waktu sarapan Ayah mendapatkanmu berbuat kesalahan juga. Kau tumpahkan makananmu, kau bunyikan meja dengan sikumu, kau cela makananmu. Keju yang kau taruh di roti terlalu tebal. Dan sewaktu kau masih bermain-main sedangkan ayah sudah bersiap berangkat bekerja hendak ke stasiun kereta api, kau membalik sambil melambaikan tangan dan berseru, “Selamat jalan Ayah!” Aku balas dengan cemberut lalu kukatakan, “Berdirilah yang tegak!”

Di sore hari, terjadi lagi ketegangan. Sewaktu ayah berjalan pulang menuju rumah, ayah melihat kau sedang bermain kelereng sambil berlutut. Kulihat kaos kakimu berlubang. Kau kupermalukan di depan teman-temanmu dengan mendorongmu berjalan pulang di depanku. “Kaos kaki itu mahal dan andaikan kau membelinya dengan uangmu sendiri, kau pasti akan berhati-hati!” Bayangkan wahai anakku apakah itu tindakan ayah yang baik?

Ingatlah kau -setelah itu- waktu ayah membaca di kamar kerja, lalu kau datang melongok dengan wajah yang murung, kau bolak-balik melongok ke kamar membuat ayah terganggu dan tidak konsentrasi dalam membaca sehingga aku membentakmu, “Mau apa?” Kau menjawab, “Tidak mau aoa-apa.” Tetapi setelah itu kau lari menghampiriku dan merangkulku kuat-kuat lalu menciumku. Kedua lenganmu yang mungil merangkulku dengan kuat penuh kecintaan dari lubuk hati yang paling dalam, cinta yang tidak pernah layu dari seorang anak kepada ayahnya, meskipun aku memperlakukanmu dengan keras. Setelah itu kau berlari dan naik ke latai atas.

Baik, anakku, tidak lama sesudah itu, bukuku terjatuh dari tanganku dan tiba-tiba ayah diliputi perasaan takt yang sangat dan merasa jijik terhadap diriku sendiri. Apa hasilnya dari kebiasaan burukku itu? Kebiasaan mencari-cari kesalahan, bersikap keras, inikah hadiah dari seorang ayah kepada anak yang masih kecil sepertimu? Tindakan kasarku bukan karena aku tidak mencintaimu, melainkan ayah menuntut terlalu banyak darimu. Ayah mengukur dirimu dengan ukuran orang dewasa.

Sungguh banyak sifat-sifat terpuji dalam kepribadianmu. Hatimu yang kecil bagaikan cahaya fajar yang menyinari cakrawala yang luas. Ini nampak ketika kau menghampiriku secara spontan dan emnciumku sebelum tidur. Yang ayah pikirkan malam ini hanyalah dirimu. Ayah berada di sisimu dalam kegelapan, duduk belutut, malu pada diriku sendiri!

Ini sedikit upaya untuk menghapus kesalahan, ayah tahu kau tidak akan mengerti semua ini jika kukatakan kepadamu. Tetapi besok aku akan menjadi seorang ayah yang sesungguhnya, aku akan bersahabat denganmu, menderita bila kau menderita, sedih jika kau sedih dan ikut bergembira jika kau gembira. Lidahku akan kutahan, kalau ada perbuatanmu yang membuatku kesal. Ayah akan terus mengucapkan suatu kalimat yang akan kujadikan sebagai moto, ‘Maklum, ia masih anak-anak.’

Ayah takut emmperlakukanmu sebagai orang dewasa sebagaimana sikapku selama ini kepadamu. Tapi, ketika aku memandangimu sekarang ini, wahai anakku, tidur meringkuk di kasurmu, aku memandangmu, kau adalah anak kecil. Sepertinya baru kemarin kau digendong ibumu, kepalamu menempel dibahunya. Ayah telah menuntutmu terlalu banyak, ayah telah menuntutmu terlalu banyak.”
(Kaifa Tuatstsiru ‘alaa al-Aakhariin wa Taktasibu Al-Ashdiqaa’, hal 18-20)
Disalin dari buku :29 pelajaran berharga dari kisah Da’i Cilik”, Fariq Gasim Anuz.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya…” [HR at-Tirmidzi dan Abu Dâwud].

Read Full Post »

Buku June R Oberlander yang berjudul “Slow and Steady Get Me Ready” ini banyak mendapat puji-pujian dari para mama. Alhamdulillah setelah cari sana sini, saya dapatkan juga versi terjemahan bahasa Indonesianya. Buku ini berisi 260 kegiatan untuk si kecil yang baru lahir hingga usia 5 tahun. Kebetulan anak ketiga kami baru berumur sebulan, mudah-mudahan saya bisa sedikit mempraktekkan kegiatan dari buku ini. InsyaAllah ta’ala akan saya share disini jika saya berkesempatan.

Idenya sebenarnya sederhana, beliau mencatat kegiatan yang bisa dilakukan bersama buah hati secara kontinyu yang bisa ditiru oleh para orangtua. Untuk teman-teman yang mau membaca bukunya langsung tapi kesulitan untuk memperolehkan bisa membaca versi aslinya lewat google books disini.

Rumah Inspirasi juga mengulas buku ini dan mempersilahkan teman-teman untuk mengunduh alat bantu memantau perkembangan anak menurut June R Oberlander.

Read Full Post »

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Jika manusia telah mati maka terputuslah amalannya kecuali dari 3 perkara: Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim)

Pernah ada seseorang yang bertanya kepada Ust Abdul hakim disalah satu kajian. Mengapa anak sholih yang mendo’akan kedua orangtuanya bisa memberikan manfaat bagi kedua orangtuanya diakhirat? Bukankah setiap orang hanya membawa amalnya sendiri-sendiri? Jawab ustadz Abdul Hakim waktu itu, “karena anak (maksudnya mendidik anak) adalah salah satu usaha terbesar (amal) yang dilakukan manusia… dst” *kurang lebih narasinya begitu* ^^. Sekarang setelah jadi orangtua, saya baru benar-benar paham dengan apa yang beliau maksud dengan mendidik anak adalah salah satu usaha terbesar manusia.

Mendidik anak memang membutuhkan kesabaran, keuletan, dan usaha yang terus menerus. Semisal menyentuh hati anak untuk sadar akan sholat lima waktu, para orangtua menyediakan tidak sedikit tenaga untuk mengingatkannya dengan cara yang ma’ruf. Setiap hari kurang lebih lima kali, dan itu dilakukan secara terus-menerus. Tentu itu adalah usaha yang tidak kenal jemu, yang dilakukan para orangtua muslim yang sadar dengan tanggung jawabnya.

Begitu juga dengan usaha mengakrabkan Al Qur’an kepada jiwa anak-anak. Anak-anak memang pada dasarnya mudah untuk menghafal. Coba perhatikan saja anak-anak yang hafal dengan sendirinya lirik-lirik lagu yang sering didengarkan, tidak peduli apakah liriknya diperuntukkan untuk orang dewasa atau anak-anak. Jadi tidak heran jika kemudian ada seorang anak usia 3 tahun, melantunkan lagu cinta, rindu kepada manusia yang sedang populer dikalangan masyarakat.

Tetapi jika kelebihan ini difasilitasi dengan mengakrabkan anak dengan ayat-ayat Al Qur’an tentu akan sangat bermanfaat sekali. Secara Al Qur’an itu adalah Kalamullah (perkataan Allah), yang akan mengguggah hati dan sanubari seseorang, apalagi pada jiwa seorang anak. Senang tentu jika kita melihat anak-anak yang menganggap Al Qur’an adalah merupakan bagian dari dirinya, dan lantunan terindah yang pernah didengarnya. Hal ini tentu saja harus dimulai dari contoh orangtua yang memberi contoh untuk akrab dengan Al Qur’an -InsyaAllah-.

****

Demi untuk mewujudkan kesadaran yang baik pada anak, saya sering merasa butuh akan nasehat ‘alim ulama dalam mendidik anak. Salah satu buku yang baru saja saya baca adalah “Anakku hafal Al Qur’an” karya Muhib bin Muhammad Khair, penerbit Qaula.

Diantara tipsnya adalah bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri pada anak didik -yang akhirnya merupakan faktor terpenting dalam menghafal-. Hal tersebut bisa ditempuh dengan beberapa hal berikut:
1. Menumbuhkan rasa percaya kepada Allah ‘azza wa jalla. Dia menolong  orang yang meminta pertolongan kepada-Nya, Dia datang kepada orang yang mendatangi-Nya, bahwa setiap usaha yang dikerahkannya akan diberi pahala dan tidak akan hilang sia-sia, berpegang teguh pada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, selalu ingat pengawasan Allah, menjaga aturan-aturanNya, dan bekerja untuk akhirat; Semua itu menumbuhkan percaya kepada Allah ‘azza wa jalla.

2. Keyakinannya pada manfaat yang akan diperoleh dari apa yang dipelajarinya. Karena orang yang tidak mengetahui nilai yang diusahakannya maka dia tidak akan mengerahkan usaha apapun untuknya. Untuk itu perlu dilakukan dengan cara menjelaskan keutamaan Al Qur’an, keutamaan mempelajarinya, dan kebaikan ahlinya.

3. menampakkan sisi-sisi keberhasilan anak didik dan keunggulannya atas rekan-rekannya serta memujinya. Semua itu akan menumbuhkan percaya dirinya.

4. Mengukur keberhasilan anak didik dengan kemampuannya sendiri, bukan dengan kemampuan rekan-rekannya. Maka bagi yang dalam satu hari tidak mampu menghafal lebih dari satu halaman, katakan kepadanya: “Kamu berhasil karena kamu telah mengerahkan semua kemampuanmu,” dan bukannya mengatakan: “Kamu gagal, karena si dulan telah menghafal dua halaman.”

5. Membawanya ke majlis-majlis orang dewasa dan bergaul dengan mereka dengan pengarahan terus menerus, mengandalkannya untuk memenuhi beberapa keperluan, mengikut sertakannya dalam beberapa acara siaran dan semisalnya, menilai kata-katanya mendengarkannya, dialog bersamanya dan membicarakan pendapat-pendapatnya dengan serius.

Read Full Post »

Saya baru saja menyelesaikan buku “Dunia Tanpa Sekolah” karya M Izza Ahsin. Sebenarnya saya cukup telat membacanya dari waktu gaungnya buku ini disebut-sebut dulu. Saya memang kesulitan untuk memperoleh buku tersebut di toko-toko buku. Alhamdulillah, sampai kemudian Mbak Andini menuliskan tentang buku tersebut dalam status facebooknya. Akhirnya, Saya bisa mendapatkan buku ini melewati jalur beliau. Sekarang saya lihat banyak juga toko buku online yang menjualnya.

Sama seperti ketika Saya membaca buku biografi ataupun kisah orang lain. Saya sering memasang tameng skeptis kepada tokoh dalam cerita. Sikap saya ini lebih untuk membentengi diri perkara-perkara negatif diluar dari idealisme saya sebagai muslimah (ciee…). Yang keren menurut orang lain, belum tentu keren menurut kita khan? Karena seperti teman yang bisa menularkan bau minyak wangi, atau bara dari arang. Bukupun begitu, dapat menularkan aura positif dan negatifnya. Itu menurut saya lho, Jika menurut Anda tidak demikian, Saya-pun tidak memaksa ^^.

Dalam buku “Dunia Tanpa Sekolah”, Saya hanya akan menulis hal-hal positif yang bisa Saya timba dari buku ini. Bukan…bukan misalnya, bagian dimana Izza (penulis) dengan idealisme remajanya menentang, jika tidak bisa disebut melawan, dengan berani kedua orangtuanya agar diijinkan keluar dari sekolah. Tetapi sudut pandang yang saya ambil adalah disaat Izza yang masih belia, berani menyuarakan isi hatinya kemudian menjelaskan secara gamblang latar belakang keputusannya keluar sekolah tersebut. Saat itu, Saya menganggumi keteguhan hatinya.

Penulis mengisahkan bahwa keputusan untuk tidak bergantung pada lembaga bernama sekolah untuk pendidikannya berasal dari hasil olah pemikiran yang jauh ke depan. Dengan berani pula, Izza menantang dunia bahwa ia akan dapat hidup dari kemampuannya tanpa mengandalkan selembar kertas sakti bernama ijazah. Anak berusia 14 tahun ini, sudah paham dan mengerti dengan apa yang dia inginkan, apa yang dia mau, dan mau jadi apa dia nantinya. Untuk lebih lengkap ceritanya, Saya sarankan Anda juga membaca buku tersebut sendiri, tentu saja dengan sedikit pikiran terbuka.

Sikap seperti Izza tersebut tentu saja berbeda dengan anak-anak di zaman sekarang ini. Saya sendiri dulu pada usia 14 tahun masih belum tahu keinginan saya dan mau jadi apa saya nantinya. Jangankan ketika berusia 14 tahun, ketika kuliah dulu pun saya tidak tahu keinginan saya sendiri dan ingin menjadi apa. Alhamdulillah setelah menikah, saya memiliki suami yang mendidik saya dengan baik. Dia memahamkan tujuan kita seorang muslim dalam keluarga dan tujuan jangka panjang sebagai muslim. Sehingga secara tidak sadar Saya tergiring pada kenikmatan saya sebagai ibu dan juga kenikmatan membaca buku-buku untuk mendukung peran saya tersebut. Sungguh nikmat yang luar biasa ketika tahu visi kita sendiri walau memulainya setelah memasuki usia dua puluhan (tidak seperti Izza tentunya).

Dalam buku ini dikisahkan seorang anak yang memiliki cita-cita sebagai penulis buku. Tetapi cita-cita itu bukan hanya sekedar cita-cita seperti kebanyakan anak. Cita-cita itu lahir atas pemahamannya akan kemampuannya, akan keinginannya mewujudkan potensi terbesarnya. Akan hasil pemikirannya dan pengaruh dari buku-buku yang dibacanya. Cerita sederhana ini dikupas dalam 248 halaman. Lembar yang cukup banyak untuk anak 14 tahun menulis sebanyak itu. Karena menganggumi antara umur dan hasil karyanya, maka saya coba ulas hal positif yang dapat saya timba dari buku ini:

1. Penulis/tokoh dalam cerita, Izza (14 tahun) mengerti apa yang dia inginkan. Tidak hanya sekedar itu, dia pun paham bahwa keinginan itu harus diperjuangkan. Sepaham dengan saya, bahwa untuk menjadi bahagia juga harus diperjuangkan.

2. Kita bisa memilih menyalahkan orang lain atas kesulitan-kesulitan yang kita alami dalam hidup. Atau menyalahkan seseorang atas pendapat yang tidak sesuai/menyulitkan diri kita. Tetapi memilih untuk menghadapi kesulitan-kesulitan itu dengan berani, juga memilih untuk tidak terlalu terpengaruh dengan pendapat orang kebanyakan (selain tentu pendapat Allah Azza wa Jalla), itu adalah pilihan yang sangat bijak sekali dalam hidup. Dan kita semua tentu berusaha untuk ini ^^.

3. Isi suatu buku itu memiliki pengaruh yang sangat kuat pada seseorang. Saya diingatkan untuk menyediakan buku bacaan yang bergizi di rumah, semoga dapat menambah gizi rohani dan pikiran anggota keluarga.

4. Saya harus ingat kisah dalam buku ini ketika anak saya berusia baligh nanti -benar-benar mengerikan jika harus bersilat lidah dengan anak seperti Izza-. Sikap emosional seorang anak -apalagi anak yang pintar dan melahap beratus buku- memang sebaiknya diatasi dengan kepala dingin (suami saya yang ahli dalam hal ini). Menghadapinya dengan emosi hanya akan melukai perasaan kedua belah pihak. (Ayo, diingat-ingat yha nanti! ^^)

5. Buku ini mendobrak pemahaman bahwa sekolah menjadi satu-satunya cara agar kita menjadi terdidik. Tidak benar! Yang benar adalah kita wajib untuk belajar, tapi tidak wajib untuk sekolah. Slogan wajib belajar 9 tahun-pun dibantahnya, Izza mau belajar seumur hidup, tidak sembilan tahun saja kemudian dilupakan.

Sekolah selama ini dipandang sebagai satu-satunya institusi yang mencerdaskan, di buku tersebut disentil untuk dipikir ulang kembali. Ada banyak jalan selain melalui sekolah agar bisa menjadi pribadi terdidik. Kurikulum sekolah dewasa ini yang banyak menimbulkan perdebatan, sistem konvensional yang masih saja terus dianut, menyontek dan menghalalkan cara-cara yang tidak baik untuk sekedar prestise sekolah dan nama baik guru seakan-akan mengaburkan makna pendidikan itu sendiri.

Ditambah dengan banyak guru, (saya katakan banyak, sebab tidak semua demikian) penghancur mental (bukannya membangun jiwa positif anak, tapi malah mengata-ngatai anak), guru yang mempermalukan murid di depan umum. Guru yang tidak mempergunakan jangka sebagai alat mengajar, melainkan sebagai alat menghajar.

Walau demikian, Saya sungguh dari hati paling dalam mendoakan semoga berkah Allah Azza wa Jalla senantiasa tercurah kepada mereka yang berdedikasi tinggi dengan profesinya sebagai guru. Profesi yang mulia, dengan gaji yang tidak seberapa tetapi memiliki tanggung jawab tinggi yaitu membentuk karakter seorang anak generasi penerus bangsa.

6. Ada dua kutipan dalam buku tersebut yang saya tulis kembali disini:
“Ada perbedaan antara manusia yang mendapat deraan lalu menyerah dan putus asa, dengan manusia yang menyikapinya secara positif untuk kemudian bangun lagi dan mulai memperbaiki hidup.” (Dunia Tanpa Sekolah, Bab 24)

“Bahwa tua itu pasti, sedang dewasa itu pilihan.”
Menjadi tua itu suatu kepastian, tapi tidak sedikit manusia yang secara fisik sudah tua, tetapi masih memiliki jiwa kanak-kanak.
Ah, begitu dewasanya nasehat dari anak berusia 14 tahun.

Terakhir saya bangga dengan M. Izza Ahsin sebagai anak muslim, anak Indonesia memiliki pemikirannya yang mendalam tentang dunia sekelilingnya khususnya dunia pendidikan. Mudah-mudahan Saya (mau ikut kebagian didoakan ;p) dan Ia dapat bermetamorfosis menjadi lebih baik lagi, dalam masalah agamanya juga sumbangsihnya pada dunia di sekelilingnya.

Penulis: Ary Susanti
Ary Susanti adalah ibu dari dua orang anak (sebentar lagi tiga, InsyaAllah). Sering juga dipanggil Ummu Abbas sebagai nama kunyahnya, dari nama Abbas anak pertamanya. Pernah berprofesi sebagai guru, dan kemudian berhenti dan berfokus untuk mendidik anak-anaknya sendiri di rumah. Ary Susanti sangat bangga dengan tanggung jawab utamanya sebagai ibu rumah tangga.

Read Full Post »

Judul buku : Anakku Tidak (mau) Sekolah? Jangan Takut – Cobalah Home Schooling!
Karya : Maria Magdalena
Penerbit : GPU
Tebal :  208 halaman
Tahun : 2010

Bocorannya sih, judul yang tertulis seharusnya tidak seperti itu. Ibu Maria lebih senang menggunakan kata Home-Ed, untuk menamai kegiatan belajar bersama anaknya dibandingkan menggunakan kata homeschool. Maka bila kita membaca bukunya, ada ketidaksamaan istilah yang digunakan. Istilah dalam sampul buku menggunakan istilah homeschool sedang istilah isi buku yang menggunakan istilah home-ed. Apakah berbeda antara istilah homeschool dengan home-ed? pada prinsipnya sama saja. Hanya saja di Indonesia banyak juga lembaga kursus dan pendidikan formal yang menggunakan istilah homeschool untuk manamai bisnis mereka. Mungkin penulis ingin membedakan proses belajar yang mereka lakukan dengan praktik-praktik homeschool lembaga.

Isi buku setebal 208 halaman ini syarat dengan pengalaman dan pemikiran penulis mengenai pendidikan dirumah. Saya lebih terkesan pada bagian “Tidak bisa bertepuk sebelah tangan”. Bahwa sebuah proses Home-Ed tidak bisa dibebankan kepada satu pihak, ayah saja, atau ibu saja. Itu butuh komitmen dari seluruh keluarga. Saya melihat peran ayah yang tak kalah besar dalam proses home-ed keluarga penulis. Sang ayah rela meninggalkan aktivitas yang dilakukannya dirumah, demi melayani keingintahuan putra mereka. Saya terus membacakan bagian ini ke Ayah abbas, hehehe…Alhamdulillah beliau mudah terinspirasi.

Berikut sedikit isi mengenai buku tersebut,
1. Menjawab pertanyaan “Mengapa?”
Berisi alasan keluarga penulis menjalani home-ed.
2. Tidak bisa bertepuk sebelah tangan.
Ini adalah bab yang saya tuliskan diatas, It Takes a whole family untuk melaksanakan home-ed.
3. Guru home education kami
Dalam buku ini penulis mengisahkan bagaimana Pandu, anak penulis belajar membuat kue putu dari bertanya langsung pada pembuatnya. Hal ini tentu menekankan kepada kita bahwa ilmu bisa didapat dimana saja, dan diajarkan oleh siapa saja.

Menurut saya, pada ilmu-ilmu dunia, seperti membuat kue, mengaduk semen, membuat keranjang dari rotan, sains, matematika dan sebagainya kita memang bisa menjadikan siapa saja menjadi guru. Tetapi pada ilmu agama -Islam-, tentu kita mencarinya pada orang berilmu yang shohih pengetahuan agamanya. Perkataannya ilmiah, ada dalil yang melatar belakanginya. Bukan membawakan perkataannya belaka sebagai manusia, tetapi membawakan ilmu-ilmu mengenai Allah, rasul-Nya dan Islam dengan ilmiah berdasarkan ilmu yang shohih.

4. Super hemat untuk ilmu tak terbatas
Hari gini, dengan biaya pendidikan selangit. Home-ed bisa jadi solusi yang sangat baik sekali.
5. John holt menjawab pertanyaan sosialisasi dalam home education Kutipan lain yang saya suka adalah perkataan John Holt menjawab mengenai sosialisasi dalam Home-Ed, “Lebih masuk akal hidup dengan bahagia, berguna dan sukses daripada menjadi seragam dengan kebanyakan orang.”

Bersosialisasi tidak harus dengan puluhan anak. Bersosialisasi jangan sampai mengorbankan prinsip-prinsip hidup, hanya agar bisa diterima orang lain. Para nabi dan orang sholeh lebih mengedepankan ridho Allah dibandingkan makhluknya.

6. Dunia kerja bicara tentang kompetensi, bukan ijazah
7. Tanpa tantangan terasa hambar
8. Exactly the right way
9. Beda latar belakang beda cara

Dalam penilaian saya, penulis berhasil keluar dari kerangka anggapan bahwa anak home-ed harus lebih hebat dibandingkan anak yang bersekolah formal. Penulis berani mengisahkan bahwa selain keberhasilan ada juga kegagalan-kegagalan (kendala) dalam ber-home-ed. Menurut saya prinsip jujur pada diri sendiri juga orang lain, juga berani menerima kritik seperti ini adalah suatu langkah menuju langkah lain yang lebih besar.

Buku ini baik untuk mere-fresh semangat home-ed saya.

Read Full Post »

Older Posts »