Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Buah Hati’ Category

Meronce asyik lho, bisa melatih motorik halus anak juga…^^ Ini Kakak, sedang meronce. Abang juga ikutan lho, tapi tidak di foto ^^

 

 

 

 

Mengenai Balita dan perkembangan fisik, psikomotriknya Anda bisa membacanya di Wiki.

Read Full Post »

Kudapan

Ngomong-ngomong soal kudapan siang. Begini kudapan disela-sela waktu kegiatan kami…

 

 

 

Ada jagung rebus, kacang bogor, mayonaise. Tadinya ada brokoli dan wortel, tapi sudah di ‘gadoin’ duluan. Yes! sukses deh kudapannya. Eit… jagungnya dimakan dede kecil… ^^

 

 

 

Wah… kamu kecil-kecil makannya banyak juga De…

 

 

 

Hmm… kalau ini namanya pisang goreng. Oh, sudah tahu yha? ini adalah kegemaran kami semua dirumah. Termasuk makhluk kecil  yang lucu ini.

 

 

Nyam…nyam…

Read Full Post »

Sambungan dari tulisan pertama: akibat-berbicara-tidak-sengaja-kepada-buah-hati

Komunikasi yang kurang baik antara orang tua dengan anak, suami dengan istri, maupun sebaliknya adalah penyebab tingginya angka kenakalan remaja dan  perceraian suami istri. Bukan masalah frekuensi komunikasinya. Sering berkomunikasi tapi tidak sampai pada tujuan alias ‘gak nyambung’ bisa juga menjadi masalah.

Elly Risman menyebutkan beberapa masalah yang muncul karena  miss-communication:
– Pacaran ( selingkuh buat suami/istri)
– Seks bebas
– Aborsi
– Putus sekolah
– MBA (Married By Accident: Nikah karena hamil duluan)
– Perceraian
– Narkoba
– HIV/AIDS
– Bunuh Diri

Beberapa tahun yang lalu, kita sempat dikejutkan oleh kasus anak 5,9 tahun yang gantung diri karena dimarahi ayahnya  malam hari sebelum tragedi itu terjadi. Padahal sebelumnya, ia habis dimarahi ibunya karena tidak mau mandi sore. Keesokan paginya, ia ditemukan gantung diri dengan tali melilit lehernya di sebuah rumah kosong. Anak tersebut bernama Renaldi Sembiring. Ayahnya adalah seorang pengacara di Semarang (ada juga yang bilang hakim). Ini hanya 1 kasus dari puluhan kasus bunuh diri anak akibat orang tua tidak memahami perkembangan jiwa anak dan mengabaikan perasaan mereka ketika berkomunikasi. Na’udzubillahimindzalik.

10 kekeliruan dalam berkomunikasi yaitu:
1. Bicara tergesa-gesa.
Pemandangan yang lazim di pagi hari ketika ibu berteriak kepada anaknya: “Cepaattttt…!! Sudah jam berapa ini ayo mandi siapin baju jangan lupa buku-bukunya masukin ke tas langsung sarapan tuh sepatu dan kaos kakinya di belakang pintu buruan keburu mobil jemputan dateng pokoknya kalo ketinggalan jemputan Mama gak mau nganter!”

Walah, paleng’e… Butuh konsentrasi tinggi untuk menangkap puluhan kata yang diteriakkan bagai laju kereta api itu. Apakah anak mendengarkan? Bagaimana responnya? Paling ia berjalan gontai ke kamar mandi seperti tidak terjadi apa-apa. Karena sudah terbiasa dengan kicauan itu setiap hari.

Lantas, apa gunanya teriak-teriak gak jelas seperti itu? Bagi orang tua:
– Menghabiskan energi
– Dongkol
– Makin emosi

Bagi anak:
– Makin sebel sama orang tua
– Gak ngaruh dibegitukan, sudah biasa.

Solusinya?
Tidak tergesa-gesa ketika bicara, atur kalimat, jangan emosi sehingga lawan bicara mengerti apa yang kita komunikasikan.

2. Tidak kenal diri sendiri.
Mari kita uji coba. Sebutkan 3 keunikan Anda yang berbeda dari orang lain. Entah itu kebiasaan, hobby, warna kesukaan. Waktunya 1 menit!
Apakah Anda kesulitan menemukan keunikan Anda? Ya, kebanyakan peserta seminar memang bingung. Alasannya: tergesa-gesa, keburu waktu, panik. Namun alasan sesungguhnya adalah: Anda tidak mengenal diri Anda sendiri. Bukankah kalau kenal- bisa reflek menyebutkan keunikan diri sendiri?
Lantas, apakah kita sudah mengenal keunikan pasangan hidup kita? Anak kita?

Disinilah pentingnya mengenali lawan bicara ketika sebelum berkomunikasi. Adakalanya suami begitu angkuh dan cuek ketika istri nangis bombay saat berantem. Bisa jadi karena waktu kecil, sang suami dididik ayahnya kalau : laki-laki gak boleh nangis!. Besarnya pun ia akan anti nangis, malah tidak suka melihat orang nangis.  Atau istri begitu sensitif karena sering diremehkan oleh orang tuanya.

Atau anak kita :
Usia 5 tahun, ketika disuruh: “Sayang, buangin sampah, dong, ketempatnya!”. Sang anak pasti dengan senang hati melakukannya.

Usia  7 tahun, ketika disuruh hal yang sama, responnya : “Ntar!” atau “Kok, gak mamah aja?”

Usia 10 tahun, responnya : “Capek!” alias menolak untuk diperintah.

Ternyata, cara bicara orang tua yang itu-itu saja tidak membuat anak makin pintar atau nurut. Anak jenuh dan bosan dari kecil diperlakukan seperti itu. Itulah mengapa orang tua harus kenal, tanggap dan menggunakan bahasa komunikasi yang berbeda sesuai perkembangan jiwa dan pertambahan umur anak.
Kenali lawan bicara kita.

3. Lupa : setiap individu U N I K.
Dari jutaan sperma yang menghampiri sel telur, hanya 1 sperma yang paling unggul, paling kuat, dan paling berkualitas yang mampu menembus ke dalam sel telur dan membuahinya. Baik sel sperma maupun sel telur turut bertanggungjawab menghasilkan zigot yang terlahir sebagai bayi mungil untuk orang tuanya. Tapi kenapa kebanyakan suami selalu membebankan pengasuhan dan pendidikan anak kepada istri? Bukankah anak itu hasil dari suami istri berdua?

Kemudian, betapa banyak orang tua yang kesulitan memiliki anak, bersedia mengeluarkan uang ratusan juta rupiah dan melakukan pengorbanan besar agar ada suara tangis bayi di rumahnya.
Tetapi, mengapa orang tua yang dimudahkan Allah untuk memiliki keturunan tidak mensyukuri hal ini?
Tidak jarang ketika orang tua greget melihat kenakalan anaknya lantas berkata, “Iiiiiiiiihh..!! Sebenarnya kamu anak siapa, siihhh!!!”
Jika terus menerus dibegitukan, lama-lama anak akan bertanya, “Iya, yah, aku ini anak siapa, sih?”

Kembali, bahwa anak terlahir, apapun keadaannya, kekurangan dan kelebihannya, itu atas kuasa Allah Azza wa Jalla semata. Ada anak yang terlahir normal, mewarisi kecerdasan, dan kelincahan. Ada pula yang terlahir dengan kekurangan seperti: dislexia (kesulitan membaca), disgrafia (kesulitan menulis) dan diskalkulia (kesulitan berhitung). Semua itu adalah keunikan anak yang harus dihargai, disyukuri. Tentunya orangtua tidak bisa memaksa anak yang dislexia untuk cepat membaca, anak diisgrafia untuk menulis indah, dan seterusnya. Perlakukan anak sesuai keadaan dan keunikannya.
Setiap individu berbeda. Perlakukan ia sebagai pribadi yang unik.

4. Perbedaan Needs and Wants (Kebutuhan dan keinginan)
Anak menyukai design grafis, tapi orang tua ingin anaknya jadi dokter. Jelas dua kebutuhan dan keinginan yang berbeda ini menjadi pemicu salah paham dan ketidakharmonisan. Orang tua tidak punya banyak waktu untuk mempertimbangkan keinginan anak. Orang tua mengabaikan kebutuhan anak. Akhirnya berujung pada pemaksaan kehendak dari orang tua kepada anaknya. Adu urat syaraf sudah menjadi skenario sehari-hari.Padahal yang menjalani hidup adalah anaknya, bukan orang tuanya. Yang kenal kemampuan diri sendiri adalah anak, bukan orang lain.

Ada pula orang tua yang sibuk bekerja dan memberikan apapun kebutuhan materi yang diperlukan anak. Padahal anak membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Tapi orang tua merasa sudah mencukupi keinginan dan kebutuhan anak. Maka hancurlah hubungan. Satu sama lain tidak nyambung. Anak butuh A, orang tua ngasih Z.
Sadari dan pahami bahwa keinginan dan kebutuhan tiap individu itu BERBEDA!

5. Tidak membaca bahasa tubuh
Ketika anak memecahkan gelas, otomatis sang ibu berteriak dan memarahi. Tak jarang juga yang main fisik dengan memukul atau mencubit.

Seandainya ada rekaman video ketika anak menyenggol gelas dan memecahkannya, perhatikan ekspresinya. Mulutnya menganga, sekujur tubuhnya tegang tak berkutik, kedua tangannya kaku, ekspresinya menunjukkan kekhawatiran, rasa penyesalan dan ketakutan kalau dimarahi. Jika sang ibu membaca bahasa tubuh anak, masihkah tega untuk memarahinya? Anak sudah ketakutan, masih ditambah dengan dimarahi dan dipukul. Begitu berhargakah sebuah gelas dibandingkan perkembangan jiwa anak?
Lidah bisa berbohong, tapi bahasa tubuh tidak. Baca bahasa tubuh.

6. Tidak mendengar perasaan.
Bayangkan anak Anda, pulang sekolah, kehujanan, membawa ransel berat di punggungnya, pulang ke rumah dengan sepatu belepotan lumpur. Ia masuk dengan wajah cemberut, melepas sepatu yang penuh lumpur dengan menendangnya, dan melempar tas ke mana saja. Padahal Anda sudah susah payah menyapu, mengepel dan membereskan rumah.

Apa yang Anda lakukan?
“Hei, apa-apaan kamu! Masuk gak salam, sepatu dilempar sembarangan, lantai jadi kotor, tuh! Ayok beresin! Taruh yang bener!”

Sebagai anak, apa yang akan dilakukan? Sudah pasti langsung masuk kamar dan menguncinya. Males ngomong dengan ibunya.

Kita ulang lagi kejadian di atas. Ketika anak melempar sepatu dan tasnya, perhatikan ekspresinya. Ya! Ia lelah, capek, lapar, pusing.
Ketika Anda mengenali perasaannya, dan berkata, “Wah, anak ibu sudah pulang. Capek, ya?”
Kira-kira, apa respon anak?
“Ngga!” sambil manyun. Setidaknya ia mau ngomong.
Jangan menyerah, coba kenali perasaan yang lain dan jangan takut salah. “Oh, pasti laper?”
Jawab anak, “Ngga!”
Ibu : “Lagi kesal?”
Anak : “Iya! Tadi PR aku ketinggalan di rumah. Aku disetrap Pak Guru. Eh, si Riko ngetawain aku di bangkunya. Pulang sekolah aku mau jajan, laper, tapi uangku hilang. Terus si Riko dan teman-temannya menjegal kakiku sampai aku jatuh. Aku kesakitan, tapi aku paksa aja karena mau pulang. Uuhh, di tengah jalan malah hujan. Mana becek lagi!”

Wow, ternyata masalah yang dihadapi anak begitu bertubi-tubi. Perasaan dia sedang marah, kesal, dongkol dan capek. Masihkah tega memarahinya?
Dari dua kejadian di atas, manakah komunikasi yang baik?

Dengarkanlah perasaan. Tandai pesan dari gelagat dan bahasa tubuhnya. Jangkau perasan lawan bicara. Buka komunikasi dengan menamai perasaan lawan bicara, misal: Capek, ya? Marah? Wah, kesal, dong?.
Jangan takut salah, karena lawan bicara akan dengan senang hati membetulkan.

O,ya, kalau ibu merespon dengan kata, “Duh, kasihan anak ibu.” Itu tidak tepat. Karena kasihan itu adalah perasaan ibu. Bukan perasaan anak. Dengan menyebut seperti itu, sama saja dengan menghentikan curhatan anak. Konsentrasilah pada perasaan anak. Biarkan emosi dan permasalahannya keluar sehingga ia tenang.

7. Menggunakan 12 gaya populer.
a. Memerintah.
b. Menyalahkan
c. Meremehkan
d. Membandingkan
e. Mencap/label
f. Menasehati
h. Membohongi
i. Menghibur
j. Mengritik
k. Menyindir
l. Menganalisa.

(Catatan penulis: yang dimaksud memerintah, menasihati dan menghibur di atas adalah ketika dilakukan dengan cara yang salah)
-Memerintah :
“Eh.. eh.. eh… jangan lewat situuu…!! ntar jatuuhhh..!!!”
Tapi anak makin penasaran, malah tambah ngebut main sepedanya.
Akhirnya si anak beneran jatuh dan nangis sekencang-kencangnya.

-Menyalahkan
“Naaahh…kaann!! Jatuh juga! Mama bilang apa tadi? Kamu sih dikasih tau gak mau denger!”
(Ya, iya, tau. Abisnya Mama gak bilang di situ ada lobang. Kalau bilang ada lobang kan, saya gak akan lewat situ!”)

– Meremehkan
“Halaaah, luka kecil aja nangis!”
Anak meringis kesakitan, sambil megangin lututnya yang lecet dan berdarah. Kagetnya juga belum hilang.
(Luka segede ini masak dibilang kecil? Jadi luka gede itu seperti apa, yak?)

– Membandingkan
Anak dibawa ke dalam rumah. Di sana ada papanya. Kata papa, “Kemarin temen kamu, si Difta, jatuh dari sepeda gak nangis, tuh!”
(Beeu… dia ya dia, gue ya gue!)

– Mencap/ label
Kata papa lagi, “Jangan cengeng, ah! Anak papah gak ada yang cengeng!”
(Ini  nahan sakit bukan cengeng, plus sebel! Lagi sakit bukannya dihibur!)

– Mengancam
“Kalau masih nangis gak dibeliin mainan lagi, lho!”
(Ya, elaaahh….ditambah ngancem lagi, sebeeellll bin benciiiii!!)

– Menasihati
“Lain kali, kalau mama ngomong itu didenger yah!”
(iya, iya udah tauuuuuuuuuuuuuukkkkkkkkkkkkkk!!)

– Membohongi & Menghibur
“Ah, luka cemen gitu mah besok juga sembuh!”
Keesokan harinya, ketika mandi pagi, lukanya terkena air dan terasa perih. Pikir anak: “Sakiiit, kata mama papa lukanya sembuh besok, ini kan udah besok, kok belum sembuh?” –> anak bingung. Ia tahu kalau papa mamanya berbohong. “Berarti bohong itu boleh, kan papa mama udah bohongin aku.” Si anak belajar bohong langsung dari orang tuanya sendiri.

-Mengritik
“Kamu tuh kalau dibilangin suka ngeyel, gak mau denger! Tau rasa kan akibatnya!”
(Isi sendiri deh, gimana perasaan anak kalau dibegitukan, hehehe)

– Menyindir
“Biasanya, kalau anak bandel itu suka sial nasibnya. Jatuuhh melulu!”
(…………..)

– Menganalisa
“Kalau seorang anak tidak mendengar nasihat ibunya, sudah pasti kualat tuh. Papa yakin kamu denger peringatan mama, tapi kamu langgar, kan? Mangkanya kamu jatuh. Itu peringatan buat kamu supaya lain kali jangan diulangi lagi!”
(Zzzzzzzzzzzzz)

Akibat menggunakan 12 gaya populer tidak pada tempat dan porsinya alias sekenanya:
– Anak tidak percaya pada perasaannya sendiri. “Kata saya sakit, tapi kata mama, segini itu gak sakit.”
– Tidak percaya pada diri sendiri.

8. Tidak memisahkan: Masalah Siapa?
Ketika anak pulang sekolah, ia baru sadar kalau tugas prakaryanya yang belum selesai ketinggalan di rumah temannya. “Ibu,…tugasku ketinggalan di rumah temen. Padahal besok harus dikumpulin. Kalau belum selesai dan gak dikumpulin, ntar aku dihukum bu guru. Anterin, dong, bu…!”

Sebagai orang tua tentu tidak tega melihat anaknya susah. Pilihannya dua, membantu atau membiarkan. Salah memilih tindakan, akan berakibat fatal bagi perkembangan anak.

Tapi, sebagai orang tua harus bisa memisahkan masalah siapa. Prakarya ketinggalan di rumah teman adalah masalah yang ditimbulkan anak. Bukan masalah orang tua. Ajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya. Apapun pilihan anak, pasti ada konsekuensinya.

Jika orang tua berhasil dalam tahap ini, maka anak terbiasa untuk berpikir, memilih dan mengambil keputusan. Anak pun akan menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.
Anak perlu BBM : Berfikir – Memilih – Mengambil Keputusan.

9. Kurang mendengar aktif.
Betapa banyaknya orang tua yang sok tahu permasalahan anak padahal dia tidak tahu apapun. Ketika anak mendapat nilai jelek, kesimpulan orang tua :malas belajar. Padahal ia sedang bermasalah dengan kesehatan matanya, temannya atau cara pengajaran gurunya.

Orang tua tidak punya waktu untuk mendengarkan permasalahan anak. Tidak heran banyak anak yang tidak patuh pada orang tua sendiri tapi nurut pada guru (yang baik) atau orang lain. Hal itu dikarenakan orang tua tidak menempatkan diri sebagai problem solving  tapi malah nambah problem anak.

Jadilah cermin untuk menjadi pendengar aktif.
– “oo.. begitu?”
– “Hmm… masya Allah..”
– “… terus?”
– “Sedih bener, dong?”
– “Kecewa, ya?”
– “… hmm, mangkanya kamu marah betul…”

Menjadi pendengar aktif akan membuka komunikasi dan hubungan yang harmonis dengan lawan bicara.

10. Selalu menunjuk, “kamu!”
“Kamu, tuh, ya, jadi anak bla bla bla…!”
“Kamu, kok, begitu? bla bla bla..!”
Lawan bicara akan tersudutkan dan reflek untuk membela diri sehingga terjadilah cekcok.
Seharusnya:
Sampaikan pesan S A Y A:
“Saya……. (sampaikan perasaan Anda)…….kalau ……… karena………..
Contoh:
“Papa tidak suka kalau kamu pulang malam karena berbahaya untuk kesehatanmu.”

Note : Catatan ini bukan antara orang tua dengan anak, tapi bisa juga direfleksikan kepada suami/istri atau siapapun lawan bicara kita.

Ditulis oleh: Amalia Husna M.
Narasumber : Dra. Elly Risman, Psi.
Seminar: Peran Komunikasi Orang Tua dalam Membangun Pribadi Anak yang Tangguh Menyongsong Era Milenium Development Goals.

Read Full Post »

Ditulis oleh: Amalia Husna M
Narasumber : Dra. Elly Risman, Psi.
Seminar: Peran Komunikasi Orang Tua dalam Membangun Pribadi Anak yang Tangguh Menyongsong Era Milenium Development Goals.

Kebiasaan orang tua yang nampaknya biasa, ternyata berdampak buruk sekali terhadap masa depan anak. Apakah itu? Bicara sekenanya! Bicara tanpa sengaja. Bicara seolah orang tua lah yang paling benar, dan anak selalu salah. Akibatnya untuk anak?

1. Melemahkan konsep diri.
Cap nakal, bandel, keras kepala, susah diatur, akan tercap pada jiwa anak. Kalau stempel tinta biasa dicap ke wajah, masih bisa dicuci bersih. Tapi kalau stempel kata2 negatif sudah tercap dalam jiwa anak, bertahun-tahun orang tua menjulukinya dengan ‘bodoh’, ‘nakal’, ‘sulit diatur’, beritahu saya (Elly Risman) bagaimana cara menghapusnya. *Saya juga mau dikasih tau -pen- hehe*

2. Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerja sama.
Anak tidak memiliki banyak kata untuk mengungkapkan isi hati. Ketika ditanya, ia hanya menjawab: “terserah”, “ntar”, atau diam ngeloyor pergi. Kenapa? Karena orang tua selalu memaksakan kehendaknya dan anak tidak boleh membela diri atau berpendapat.

Ketika anak minta minum air putih, si ibu maksa untuk minum susu. Ketika anak tidak lapar, anak dipaksa makan. Ketika anak tidak ngantuk, dipaksa tidur. Dan semua harus nurut kata ortu! Ortu selalu benar! Anak selalu salah! Jadi, anak milih jalan aman yaitu nurut meski terpaksa.

Nnnnaah!! Kalau anak diam saja, jangan dulu GR kalau dia anak baik. Jangan-jangan dia menjadi pendiam gara-gara gak mau ribet bin ribut ma ortunya.
Atau sebaliknya, anak menjadi penentang yang paling keras. Ortunya ngomong 10 kata, ia membalas dengan 100 kata. Ortu ngomong dengan nada mi, anak ngomong sampai nada sol. Anak tidak punya respect sama sekali kepada orang tuanya, dan nampaknya sudah tidak peduli jika dibenci orang tuanya.
Akhirnya, anak mudah terjerumus pada pergaulan bebas, narkoba, dan lingkungan negatif yang mendukung dirinya untuk melawan orang tua.

3. Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
Ini, nih, yang FATAL. Ketika anak merasa tidak dihargai oleh orang tua, ia pun akan merasa dirinya TIDAK BERHARGA. Menurut Elly Risman, faktor ini lah yang membuat anak-anak gadis ‘rela memberikan dirinya’ kepada pacarnya, karena ia merasa tidak berharga dan mencari kasih sayang dari orang lain yang menurutnya mencintai dia apa adanya.

Kondisi ini juga dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggungjawab, baik itu ketemu di fesbuk atau langsung via HP. Oknum biadab itu tahu jika si gadis kurang kasih sayang dari ayahnya, maka ia akan berperan jadi ayah lewat status fesbuk atau sms, dst. Mangkanya banyak kejadian penculikan melalui fesbuk karena banyak anak-anak yang kurang perhatian sehingga mudah diperdaya dengan janji-janji semu.

Kehadiran HP, Internet dan teknologi sebenarnya adalah peringatan bahwa : YOUR FAMILY IS UNDER ATTACK!
Bahaya itu ada di telapak tangan anak-anak kita!

4. Kemampuan berfikir menjadi rendah.
Apabila ortu mengatur segala keperluan anak, memasakkan untuknya, menjahitkan kancingnya yang lepas, membela anak ketika menghadapi masalah, ternyata hal-hal tersebut membuat kemampuan berfikirnya menjadi rendah. Apalagi jika memiliki pembantu yang mengatur segala tetek bengeknya.

Jika ortu terlalu mengatur A to Z nya anak: kamu harus sekolah di situ! kamu harus begini beginu! Lihatlah ketika dewasa ia akan sulit mencari kerja (salah satunya) karena tidak bisa menentukan apa yang terbaik bagi dirinya.

Berilah anak tantangan untuk berpikir. Contoh kecil: Tawarin ke anak: mau minum apa? teh? susu? air putih?. Ketika anak berpikir, ratusan neuron dalam otaknya bekerja dan saling tersambung. Ini akan mengoptimalkan perkembangan otak anak Anda.
Tapi, kalau anak tidak diberi pilihan, tidak diajak berpikir, maka otak akan ‘beku’, tidak encer, karena segala sesuatunya sudah beres, res, res oleh ortunya.

5. Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan.
Terkadang karena alasan ‘kasihan’, ortu mau melakukan apa saja untuk anak. Padahal itu tidak baik untuk dirinya. Sampai kapan ia akan bergantung pada orang tua sedangkan umur tidak akan selamanya bisa mendampingi anak. Atau ketika ia kuliah di luar kota, apakah ia siap untuk mandiri? Ketika berumah tangga?

Jangan hancurkan masa depan anak karena kebiasaan buruk orang tua.
Biarkan dia naik angkot, bis. Biarkan dia memilih warna baju kesukaannya. Ajak berpikir dan diskusi ketika ia melakukan kesalahan (dengan catatan: nasihati dia ketika sendiri, jangan di hadapan orang lain).

6. Iriiiii terussss…!!
Orang tua suka gatel membanding-bandingkan anaknya dengan orang lain. Padahal setiap pribadi itu unik. Kadang karena tidak sengaja memecahkan gelas, ortu lantas ngomel-ngomel: aduuhh, kok, ceroboh yah? gelas bisa pecah gitu. Kok kamu gak seperti kakakmu, sih, yang rajin, sholeh. Gak kayak kamu suka keluyuran malem-malem.

Lha… apa hubungannya coba gelas pecah sama keluyuran malem-malem? Kalo gelas pecah ya udah urus aja gelas pecahnya, gak usah bawa-bawa yang lain.
Kebiasaan ortu membanding-bandingkan dengan si A atau si B akan menumbuhkan sifat iri pada diri anak. Apalagi dibandingkan dengan orang lain yang jelas-jelas beda ibu dan bapaknya.

Anak itu berasal dari separuh gen ibu dan nenek moyang ibu, dan separuh gen ayah dan nenek moyang ayahnya. Itu juga sudah menjadi ketetapan Allah Subhanahuwata’ala untuk memilihkan gen yang mana, warna kulit, bentuk hidung,  karakter, dan lain sebagainya sehingga utuh menjadi manusia. Apapun yang ada pada diri anak, seharusnya orang tua syukuri. Itulah amanah yang dipercayakan kepada orang tua dari Allah.

Jika karakter iri terbawa sampai dewasa: tetangga beli mobil, jadi pengen beli mobil. Tetangga punya TV plasma 42 inch, jadi pengen beli juga. Akhirnya…. inilah cikal bakal munculnya KORUPTOR di negeri ini. Kesalahan komunikasi orang tua lah yang melahirkan koruptor, penipu untuk memenuhi ambisi menjadi orang paling kaya sedunia demi memuaskan rasa irinya.

Terakhir,
cobalah buat list tentang sifat positif dan negatif anak Anda. Mana yang lebih banyak? Jika list negatifnya lebih banyak, berarti selama ini Anda memandang anak Anda dari sisi negatifnya saja. Tentu saja cara pandang ke anak akan memengaruhi cara Anda berkomunikasi dengannya.

Rubah cara pandang Anda. Lihat sisi positif Anak. Hapus sisi negatifnya, hapus pus pus pus! Gunakan pandangan positif terhadap anak Anda, dan lihatlah perubahannya. Anak Anda akan berubah dari cuek menjadi perhatian kepada Anda. Dari yang brutal menjadi penurut. Dari yang minder jadi percaya diri. Hingga akhirnya terlontar ikhlas dari lisannya, “Saya sayang Ayah dan Bunda dan akan selalu berbakti untuk Ayah Bunda.”

Insya Allah bersambung ke bagian dua, 10 Kekeliruan Orang Tua dalam Komunikasi.

Read Full Post »

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Jika manusia telah mati maka terputuslah amalannya kecuali dari 3 perkara: Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim)

Pernah ada seseorang yang bertanya kepada Ust Abdul hakim disalah satu kajian. Mengapa anak sholih yang mendo’akan kedua orangtuanya bisa memberikan manfaat bagi kedua orangtuanya diakhirat? Bukankah setiap orang hanya membawa amalnya sendiri-sendiri? Jawab ustadz Abdul Hakim waktu itu, “karena anak (maksudnya mendidik anak) adalah salah satu usaha terbesar (amal) yang dilakukan manusia… dst” *kurang lebih narasinya begitu* ^^. Sekarang setelah jadi orangtua, saya baru benar-benar paham dengan apa yang beliau maksud dengan mendidik anak adalah salah satu usaha terbesar manusia.

Mendidik anak memang membutuhkan kesabaran, keuletan, dan usaha yang terus menerus. Semisal menyentuh hati anak untuk sadar akan sholat lima waktu, para orangtua menyediakan tidak sedikit tenaga untuk mengingatkannya dengan cara yang ma’ruf. Setiap hari kurang lebih lima kali, dan itu dilakukan secara terus-menerus. Tentu itu adalah usaha yang tidak kenal jemu, yang dilakukan para orangtua muslim yang sadar dengan tanggung jawabnya.

Begitu juga dengan usaha mengakrabkan Al Qur’an kepada jiwa anak-anak. Anak-anak memang pada dasarnya mudah untuk menghafal. Coba perhatikan saja anak-anak yang hafal dengan sendirinya lirik-lirik lagu yang sering didengarkan, tidak peduli apakah liriknya diperuntukkan untuk orang dewasa atau anak-anak. Jadi tidak heran jika kemudian ada seorang anak usia 3 tahun, melantunkan lagu cinta, rindu kepada manusia yang sedang populer dikalangan masyarakat.

Tetapi jika kelebihan ini difasilitasi dengan mengakrabkan anak dengan ayat-ayat Al Qur’an tentu akan sangat bermanfaat sekali. Secara Al Qur’an itu adalah Kalamullah (perkataan Allah), yang akan mengguggah hati dan sanubari seseorang, apalagi pada jiwa seorang anak. Senang tentu jika kita melihat anak-anak yang menganggap Al Qur’an adalah merupakan bagian dari dirinya, dan lantunan terindah yang pernah didengarnya. Hal ini tentu saja harus dimulai dari contoh orangtua yang memberi contoh untuk akrab dengan Al Qur’an -InsyaAllah-.

****

Demi untuk mewujudkan kesadaran yang baik pada anak, saya sering merasa butuh akan nasehat ‘alim ulama dalam mendidik anak. Salah satu buku yang baru saja saya baca adalah “Anakku hafal Al Qur’an” karya Muhib bin Muhammad Khair, penerbit Qaula.

Diantara tipsnya adalah bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri pada anak didik -yang akhirnya merupakan faktor terpenting dalam menghafal-. Hal tersebut bisa ditempuh dengan beberapa hal berikut:
1. Menumbuhkan rasa percaya kepada Allah ‘azza wa jalla. Dia menolong  orang yang meminta pertolongan kepada-Nya, Dia datang kepada orang yang mendatangi-Nya, bahwa setiap usaha yang dikerahkannya akan diberi pahala dan tidak akan hilang sia-sia, berpegang teguh pada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, selalu ingat pengawasan Allah, menjaga aturan-aturanNya, dan bekerja untuk akhirat; Semua itu menumbuhkan percaya kepada Allah ‘azza wa jalla.

2. Keyakinannya pada manfaat yang akan diperoleh dari apa yang dipelajarinya. Karena orang yang tidak mengetahui nilai yang diusahakannya maka dia tidak akan mengerahkan usaha apapun untuknya. Untuk itu perlu dilakukan dengan cara menjelaskan keutamaan Al Qur’an, keutamaan mempelajarinya, dan kebaikan ahlinya.

3. menampakkan sisi-sisi keberhasilan anak didik dan keunggulannya atas rekan-rekannya serta memujinya. Semua itu akan menumbuhkan percaya dirinya.

4. Mengukur keberhasilan anak didik dengan kemampuannya sendiri, bukan dengan kemampuan rekan-rekannya. Maka bagi yang dalam satu hari tidak mampu menghafal lebih dari satu halaman, katakan kepadanya: “Kamu berhasil karena kamu telah mengerahkan semua kemampuanmu,” dan bukannya mengatakan: “Kamu gagal, karena si dulan telah menghafal dua halaman.”

5. Membawanya ke majlis-majlis orang dewasa dan bergaul dengan mereka dengan pengarahan terus menerus, mengandalkannya untuk memenuhi beberapa keperluan, mengikut sertakannya dalam beberapa acara siaran dan semisalnya, menilai kata-katanya mendengarkannya, dialog bersamanya dan membicarakan pendapat-pendapatnya dengan serius.

Read Full Post »

MasyaAllah, keren sekali ibu satu ini! begitu komentar saya ketika melihat artikel ini dalam status ukhti Afra Afifah di facebook. Della Sabrina, istri dari Irfan Hakim, ibu dari 3 orang anak (anak kedua mereka kembar), menargetkan 600 botol x 125 cc = 75000 cc!

Ada perasaan kagum yang membucah didada saya, berhubung dulu juga memberikan ASIP kepada anak kedua saya Yasmin dengan terseok-seok. Sekarang demi melihat seorang Della Sabrina, saya juga yakin saya bisa! InsyaAllah.

Artikel saya ambil dari sini

Della Sabrina, Target 600 Botol ASIP!

Membaca judul diatas, mungkin Mommies terkejut. Saya juga demikian saat mengetahui target yang sedang dikumpulkan oleh Della Sabrina, 26 tahun, istri dari presenter Irfan Hakim ini.

(gambar)

Hebat!  Itulah yang pendapat saya tentang ibunda dari Aisha Maydina Hakim (2 tahun) serta si kembar BhaVna Rakana Hakim dan BhiYan Raina Hakim yang dilahirkan secara normal ini. Della, demikian sapaan akrabnya, saat ini tengah mengejar target 600 botol ASIP (Air Susu Ibu Perahan) karena ia akan menunaikan ibadah haji yang telah direncanakannya sebelum ia hamil 2 putri kembarnya.

Banyak ibu yang kewalahan mengejar stok ASIP, apalagi untuk bayi kembar. Tapi Della yakin, ia pasti bisa!

Apa yang menyebabkan begitu gigih memberikan ASI selama nanti pergi haji?

Karena si kembar kan usia 5 bulan saat naik haji nanti. Dan hanya ASI saja makan/minumnya, tidak ada yang lain. Jadi saya berusaha untuk memenuhi kewajiban saya sebagai ibu untuk memberikan ASI Eksklusif bagi mereka. ASI kan hak asasi bayi.

Sejauh ini sudah terkumpul berapa banyak?

Dari target 600 botol, sekarang baru terkumpul 124botol x 125cc. Masih ada 4 bulan lagi untuk mengumpulkan sisanya 🙂

(gambar)

Kalo melihat target yang luar biasa itu, apakah pernah terbersit rasa pesimis dalam hati?

Nope, tidak pernah pesimis. Karena saya YAKIN pasti bisa 🙂

Menyusui sikembar sambil nyetok ASIP aja saya bisa kok, padahal banyak juga tuh yang meragukan saya, tapi nyatanya kalau kita yakin dan terus berusaha, pasti ALLAH akan membantu mewujudkannya 🙂

Bagaimana bisa me-manage ngumpulin ASIP padahal baby-nya kembar yg tentu kebutuhannya 2x lipat dan Full Time Mom (FTM) yang konon lebih sulit menyiapkan ASIP?

Menurut saya sebenarnya sama saja sih ya, mau anaknya kembar, atau cuma satu. ASI akan selalu cukup, kuncinya hanya RAJIN menyusui dan RAJIN memompa/memerah asip, karena produksi ASI itu kan by demand, kalau sering kita susui dan sering kita perah, pasti payudara akan terus memproduksi ASI. Tapi kalau kita malas menyusui, udah gitu malas memompa, otomatis produksi ASI pun menurun, karena “permintaan” ASI-nya kan sedikit. Jadi payudara menyesuaikan.

Kapan saja memerah ASI-nya?

Saya memerah ASI sebelum, saat, dan setelah menyusui si kembar. Kalau sesi menyusui mereka berbarengan, biasanya saya memompa sebelumnya atau setelah mereka menyusui. Kalau kebetulan sesi menyusuinya satu persatu, jadi saya sambil menyusui sambil memerah di payudara yang lainnya.

Ada asupan khusus untuk memicu produksi ASI nggak?

Awalnya saya beli suplemen, tapi cuma seminggu pertama saja saya minum. Karena saya orang yang paling males minum obat/vitamin. Saya mendingan disuruh makan sayur/buah aja daripada disuruh minum obat/vitamin. Dan saat saya nggak minum suplemen, ternyata produksi ASI malah semakin banyak juga tuh. Berarti sebenarnya yang bekerja adalah KEYAKINAN kita, kalau kita YAKIN bahwa ASI kita banyak, pasti banyak. Kalau kita YAKIN dengan minum suplemen makin banyak, itu pun akan memperbanyak ASI juga. Jadi ASI hanyalah permainan pikiran, ciptakan pikiran positif dan keyakinan, Insya ALLAH itu saja sudah cukup untuk meningkatkan produksi ASI.

(gambar)

Pernah ada omongan miring/ yang sinis tentang keinginan kamu ini?

Tentu saja banyak yang pesimis dan sinis sama saya, bahkan ada yang bilang, “ASI udah basi dong kalau disimpen 5 bulan gitu! Nilai gizinya pasti berkurang kalau dibekukan.” Tapi saya nggak pernah dengerin mereka, karena saya tau, walaupun nilai gizi ASIP beku akan berkurang, tapi tetap saja masih jauuuh lebih baik daripada susu formula merk manapun.

Dukungan suami seperti apa?

Suami sangat mendukung sekali, dia belikan saya freezer 6 rak khusus untuk menyimpan ASIP. Dia belikan saya genset supaya ASIP terus beku saat pemadaman listrik, dia kasih saya semangat setiap hari untuk terus memerah dan menyusui, berapapun hasil ASIP-nya dia selalu bilang “Bunda hebaaaat!”. Dan tentu saja, dari sekian materi yang dia berikan untuk mendukung ASI Eksklusif, supportnya lah yang paling penting dari segalanya 🙂

Aisha sudah disapih? Bagaimana sikap kakak ke adik-adiknya?

Aisha self weaning saat umur 22 bulan, pada saat saya sedang hamil 7 bulan. Tapi sekarang kalau ada ASIP lebih dari 125cc, lebihnya suka diminta sama Aisha untuk diminum :p Aisha sayang banget sama adik-adiknya, dia selalu mau ikutan bantu merawat adik-adiknya. Kalau si adik lagi nangis, Aisha langsung panggil saya “Bundaaaa, adek neneen!” haha.. dia kasih tau saya kalau adiknya mau nenen :p

Ada kekhawatiran meninggalkan anak-anak dalam waktu yg cukup lama?

Tentu saja khawatir pasti ada, ditinggal sebentar ke supermarket aja kita khawatir kok, apalagi ditinggal selama 25 hari ke tempat yang sangat jauh. tapi Insya ALLAH anak-anak nanti akan aman, dirawat oleh keluarga kami.

Khawatir si kembar nanti nggak mau menyusu langsung lagi nggak?

Iya, itu yang saya agak-agak takut. Saya takut nanti begitu saya pulang, merekang gak mau nyusu langsung. Makanya dari awal saya sudah konsultasi sama konselor laktasi di rumah sakit tempat saya melahirkan. Menurut mereka, bayi-bayi itu pintar, mereka tidak akan pernah lupa sama bundanya, asalkan selama ditinggal pergi, jangan diberi ASIP menggunakan dot, lebih baik pakai gelas saja. Ya Bismillah, semoga berhasil nanti 🙂

Apa yang ingin Della sampaikan ke ibu-ibu dengan usaha Della mengumpulkan ASIP ini?

Apapun yang kita lakukan, asal kita percaya dan yakin, pasti akan berhasil.. and it works for breastfeeding too 🙂

________________

Plok-plok-plok…

Saya bangga sekali mendengar cerita Della, mudah-mudahan targetnya tercapai dan ibadah haji-nya lancar serta selamat sampai tujuan dan tiba dirumah lagi untuk memeluk buah hatinya ya…

Ditulis oleh: Lita

Read Full Post »

ASI (air susu ibu)

Download:

1. SKB 3 Menteri Tentang Pemberian ASI di Tempat Kerja

2. Strategi Nasional PP-ASI

3. Keputusan Menteri Kesehatan RI No : 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang Pemberian air susu ibu (ASI) secara ekslusif pada bayi di Indonesia

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1623/MENKES/SK/XII/2003 tentang Spesifikasi makanan pendamping air susu ibu (MP_ASI) Instan untuk bayi umur 6-11 bulan

sumber: asiku

Read Full Post »