Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘imunisasi’ Category

Bertebaran beberapa tulisan di dunia maya bahwa jika melakukan imunisasi dan vaksinasi itu berarti tidak tawakkal kepada Allah, berarti tidak percaya terhadap respon imun alamiah tubuh yang telah Allah anugrahkan kepada hamba. Akan tetapi hal ini tidaklah benar, berikut penjelasan para ulama mengenai hal ini.

Dalam permakluman yang dikeluarkan oleh  Majma’ Fiqih Al-Islami[1] dengan judul (بيان للتشجيع على التطعيم ضد شلل الأطفال) “penjelasan untuk memotivasi gerakan imunisasi memberantas penyakit polio”, dijelaskan sebagai berikut,

إن دفع الأمراض بالتطعيم لا ينافي التوكل؛ كما لا ينافيه دفع داء الجوع والعطش والحر والبرد بأضدادها، بل لا تتم حقيقة التوكل إلا بمباشرة الأسباب الظاهرة التي نصبها الله تعالى مقتضيات لمسبباتها قدرا وشرعا، وقد يكون ترك التطعيم إذا ترتب عليه ضرر محرما.

Mencegah penyakit dengan imunisasi tidak menafikkan tawakkal, sebagaimana mencegah lapar, haus, panas dan dingin. Bahkan tidak sempurna hakikat tawakkal kecuali dengan melakukan sebab-sebab nyata yang telah Allah tetapkan sebagai penyebabnya baik sebagai sebab qadariyah (sebab-akibat, pent) atau sebagai sebab syar’i. Dan bisa jadi tidak melakukan imunisasi kemudian muncul bahaya hukumnya adalah haram.”[2]

Kemudian penjelasan syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad[3] hafidzahullah ketika menjelaskan hadits,

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir” [4]

Beliau berkata

فإن في ذلك وقاية بإذن الله من السم والسحر في ذلك اليوم. وهذا الحديث أصل في باب الطب الوقائي، وهو أنه تستعمل أدوية من أجل الوقاية من شيء قد يحصل، وهذا مثل التطعيمات ضد الأمراض

 “Hal tersebut merupakan bentuk penjagaan dengan izin Allah dari racun dan sihir pada hari itu. Hadits ini merupakan landasan mengenai “pencegahan penyakit dalam ilmu kedokteran”, yaitu menggunakan obat-obat tertentu untuk mencegah penyakit yang mungkin terjadi. Ini [5]semisal vaksinasi dan imunisasi mencegah penyakit

Demikian juga dalam buku panduan haji bagi wanita muslimah dijelaskan oleh syaikh Mazin Abdul Karim Al-farih,

يجب على المسلمة أن تتوكل على الله في جميع أمورها صغيرها وكبيرها والله خير حافظاً وهو أرحم الراحمين ، ومع هذا التوكل ينبغي أن تتخذي الأسباب التي جعلها الله سبباً في الوقاية من الأمراض والأوبئة ومن ذلك التطعيم ضد الحمى الشوكية وغيرها من الأوبئة التي ينصح الأطباء بأخذ التطعيمات ضدها .

“wajib bagi wanita muslimah bertawakal kepada Allah dalam segala urusannya baik kecil maupun besar dan Allah sebaik-baik penjaga dan maha penyayang. Sudah selayaknya ia mengambil sebab-sebab yang telah Allah tetapkan sebagai penyebab untuk mencegah penyakit dan wabah, di antaranya adalah vaksinasi mencegah meningitis dan mencegah wabah lainnya yang telah disarankan oleh para dokter.”[6]

 

dr. Raehanul Bahraen, Mataram, 5 Syawwal 1433 H

Artikel www.muslimafiyah.com


[1] Majma’ Fiqih Al-Islami adalah Perkumpulan yang beranggotakan para ulama yang sering membahas permalahan kontemporer dunia

[3] Beliau adalah ulama Ahlus sunnah yang cukup senior dan mempunyai majelis tetap di Masjid Nabawi

[4] HR Al-Bukhari (no. 5769) dan Muslim (no. 2047) (155)

[6] Sumber: http://www.saaid.net/mktarat/hajj/15.htm

Tulisan ini saya dapatkan di Grup Gesamun. Tulisan aslinya bisa diperoleh disini. Dengan penjelasan penulis paling atas dengan tulisan, syrah sunan abi dawud, dengan pensyarah syaikh abdul muhsin al-‘abbad

( شرح سنن أبي داود [436] ) للشيخ : ( عبد المحسن العباد )

Iklan

Read Full Post »

Seorang sejawat mengirimkan e-mail di bawah ini:“kalau bisa Anda buat tulisan tentang pentingnya imunisasi/vaksinasi karena sekarang mulai banyak keluarga muslim yang tidak mau anaknya divaksinasi dan lebih memilih “bahan-bahan” alternatif sperti beberapa merek yang sudah banyak bereder melalui sistem MLM di kalangan tertentu, walaupun saya tahu persis produk-produk tersebut belum ada penelitian Randomized Controlled Trials-nya. Ini potensi destruktifnyakanbesar sekali untuk potensi generasi di masa yang akan datang.. Mereka bahkan sdh ada yg meminta utk diadakan semacam penyuluhan untuk menginformasikan tentang bahaya/tidak perlunya vaksinansi, di antara argumennya ialah bahwa vaksin itu buatan Yahudi/strategi Amerika utk meracuni anak-anak muslim…”

Baiklah kawan, saya coba memberikan pendapat saya. Sebuah buku yang (ternyata) ditulis oleh seorang dokter (si penulis tidak menyebutkan dengan tegas bahwa ia dokter, setelah menelusuri profilnya di internet baru saya tahu) memberikan keterangan seperti ini: “Vaksinasi bisa menghancurkan sistem kekebalan tubuh kita.Paraahli klinis yang meneliti penyakit sebelum dan sesudah vaksinasi menyimpulkan bahwa vaksin dapat melemahkan sistem imun. Akibat buruk suntikan vaksin bisa terus berlanjut. Dalam kasus-kasus tertentu yang buruk, suntikan vaksin itu malah bisa membunuh orang yang diberi suntikan. Beberapa ahli juga mengatakan kalau vaksin justru melemahkan upaya tubuh untuk bereaksi secara normal terhadap penyakit. Bahkan, ia berpotensi juga memunculkan penyakit autoimun. Terdapat beberapa penyakit autoimun, di antaranya: sindrom Guillain Barre, trombositopenia, dan artritis.” Padahal beberapa halaman sebelumnya penulis menyebutkan, “sistem imun adalah upaya silaturahmi yang bertugas untuk mengembangkan suatu pola interaksi yang sehat. Hal ini dapat diamati pada proses vaksinasi, yaitu pada saat sebagian eleman mikroba patogen (penyebab penyakit) yang telah dilemahkan atau bagian yang tidak berbahaya diperkenalkan ke dalam tubuh sebagai faktor “pengingat” bagi sistem imun”. Pernyataannya kontradiktif, di bagian akhir buku penulis mengajak pembaca untuk tidak memberikan imunisasi, tetapi di halaman pembuka, ia menjelaskan imunisasi memberikan pola interaksi yang sehat dalam tubuh.Anyway, saya setuju dengan 90% isi bukunya, hanya statement tentang imunisasi dan beberapa hal kecil lain saja yang saya tidak sepakat.Juga hal-hal yang disebut di atas seperti Guillain Barre syndrome, trombositopenia, dan artritis, disebut sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau post vaccination adverse event, yang relatif jarang terjadi, jarang sekali yang fatal, dan dijelaskan oleh dokter sebelum tindakan imunisasi dilakukan, sehingga mendapat persetujuan tindakan dari orangtua.

Bukan hal baru bagi dokter dan pasien, bahwa sebagian dokter tidak mau memberikan imunisasi bagi pasien-pasiennya.Adayang tidak mau memberikan vaksin jenis tertentu saja, ada yang menunda memberikan vaksin tertentu sampai umur lewat dari usia yang direkomendasikan, dan ada yang tidak mau memberikan semua jenis vaksin. Padahal jelas sekali, di seluruh dunia vaksinasi/imunisasi telah terbukti mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat penyakit infeksi tertentu. Sebut saja cacar (variola, bukan cacar air atau varisela) yang telah musnah dari permukaan bumi sejak tahun 1970-an, padahal sebelumnya penyakit ini telah merenggut jutaan nyawa. Sebut lagi penyakit infeksi lain seperti cacar (measles) yang memiliki komplikasi meningitis (radang selaput otak) dan pneumonia (radang jaringan paru) yang mematikan. Juga ada difteri, pertusis, tetanus, polio, dan lain-lain—name itdeh, semua vaksin yang ada—yang membuat kita hampir tidak pernah menemui kasus ini di keseharian. Padahal beberapa dekade silam ketakutan besar menimpa orangtua yang khawatir anaknya terkena penyakit-penyakit ini. Lalu mengapa dokter tidak memberikan?

Adabeberapa alasan dalam analisis pribadi saya. Pertama, sebuah isu massal menyebutkan bahwa vaksinasi adalah konspirasi Yahudi melemahkan daya tahan anak-anak berbagai umat. Toh sudah diberi vaksinasi campak, cacar air, BCG, masih bisa juga terkena campak, cacar air, dan tuberkulosis! Ya, tidak ada satupun vaksin memiliki efek protektif mencapai 100%. Semua dokter yang lulus dari fakultas kedokteran negeri ini juga tahu. Sebagai contoh, vaksinasi BCG memiliki efektivitas perlindungan terhadap TBC sebanyak 0 sampai 80%. Artinya, anak yang sudah diimunisasi BCG sangat mungkin terinfeksi TBC dan menjadi sakit di negara endemik TBC ini. Tetapi, BCG terbukti sangat efektif mencegah komplikasi TBC seperti TB milier dan meningitis TB. Vaksin-vaksin lain seperti DPT, Hepatitis B, campak, dsb memiliki angka efektifitas yang lebih tinggi dibandingkan BCG. Bayangkan saja kalau tidak ada vaksinasi campak. Padahal Depkes mencatat 30 ribu anakIndonesiameninggal per tahunnya akibat komplikasi campak (pneumonia, meningitis). Sampai-sampai diadakan PIN Campak bulan Februari tahun lalu diJakarta. Vaksinasi campak jauh mengurangi angka kesakitan dan kematian ini.

Banyak orangtua juga membuktikan anak-anak mereka tidak ada satupun yang sakit-sakitan, dan selalu sehat, padahal tidak ada yang diimunisasi barang seorang pun. Hal ini tentunya sangat mungkin. Dalam konsep epidemiologi klinik, satu anak yang tidak diimunisasi polio misalnya, tapi ia adalahcarrier(pembawa) virus polio, dapat menginfeksi seluruh anak lain yang berada di lingkungannya yang tidak mendapatkan imunisasi polio. Ini adalah hipotesis terjadinya heboh polio di Sukabumi tahun 2003 silam. Makanya seluruh anak dalam satu komunitas harus divaksinasi, tanpa kecuali.

Alasan kedua, di dalam vaksin juga disinyalir terdapat zat-zat haram, seperti babi, janin manusia yang diaborsi, dll. Selengkapnya bisa melihat ke www.halal-guide.com

Saya coba menyalin kandungan vaksin yang saya ambil dari kemasannya langsung. Ini daftarnya, sesuai merek dagang (beda pabrik bisa beda pengawet):

Infanrix-Hib (GSK), yaitu vaksinDaPT-Hibdalam satu sediaan (kombo), atau Tetract-Hib (DPT-Hib): isinya toksoid difteri, toksoid tetanus, dan tiga antigen pertusis yang dimurnikan dalam garam aluminium. Juga mengandung polisakarida kapsuler polyribosylribitol-fosfat (PRP) dari Hib. Toksin D dan T diperoleh dari kultur bakteri yang didetoksifikasi dan dimurnikan. Komponen seluler/aseluler P juga diperoleh dari bakteri B. pertusis. Kemudian semuanya diformulasikan dalam garam fisiologis, dan diawetkan dengan 2-fenoksietanol (alkohol).

Act-Hib (Aventis), isinyaHibsaja: mengandung polisakarida Hib yang terkonjugasi dengan protein tetanus, dan pengawet Trometamol dan Sukrosa, dilarutkan dengan Natrium klorida.

Varilrix (GSK), yaitu vaksinvarisela/cacar air: virus varisela-zoster strainOKAhidup yang dilemahkan, dikultur dalam sel diploid manusia MRC5.

Engerix-B (GSK), yaitu vaksinhepatitis B: antigen permukaan virus yang dimurnikan diolah dengan teknik DNA rekombinan, dimasukkan dalam aluminium hidroksida. Antigen dihasilkan melalui kultur sel kapang/yeast (Saccharomyces cerevisiae). Tidak ada satupun sel manusia hidup yang digunakan dalam pembuatannya.

MMR-II (MSD), yaitu vaksin komboMMR: virus campak hidup yang dilemahkan dikultur dalam sel embrio ayam; virus mumps hidup juga dikultur dalam embrio ayam; virus rubella hidup dikultur dalam sel diploid manusia. Tidak mengandung pengawet.

Havrix 720 (GSK), yaitu vaksinhepatitis Amati yang diawetkan dengan formalin, dimasukkan dalam aluminium hidroksida, dan dipropagasi dalam sel diploid manusia.

Typhim Vi, yaitu vaksintifoid, dari polisakarida S. Typhi, diawetkan dengan fenol dan larutan buffer yang mengandung NaCl, disodium fosfat, monosodium fosfat, dan air.

Saya masih belum bisa mendapatkan daftar isi kemasan produk Biofarma seperti BCG, Hepatitis B, polio, DPT, dan campak. Mudah-mudahan segera bisa dilengkapi.

Kira-kira komponen mana dari zat-zat di atas yang berpotensi membahayakan tubuh dan mengandung bahan haram? Saya belum menemukan bukti sahih. Semua obat yang diproses secara kimia di pabrik seharusnya mendapatkan perlakuan yang sama halnya dengan kepedulian terhadap imunisasi ini.Memang negara kita sangat bermasalah dalam status kehalalan obat-obatan dan kosmetika. Andaikan saja bisa mencontoh Malaysia, yang berusaha memproduksi sendiri vaksin halal. Maka saat ini, saya merujuk pada keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di sini (terlalu panjang jika disalin ulang): http://www.halalguide.info/content/view/120/397/atauhttp://www.halalguide.info/content/view/120/55/

Analoginya bisa dipakai untuk seluruh jenis vaksin lain (BTW, vaksin IPV yang disebut dalam fatwa ini tidak digunakan secara luas di Indonesia, yang digunakan adalah OPV). Lebih lengkap lagi tentang imunisasi juga bisa dilihat di blog Bu Lita di http://lita.inirumahku.com/

Surat pembaca saya tentang kontroversi halal imunisasi ini pernah dimuat Majalah Hidayatullah edisi November 2007. Sayangnya tidak ada soft copy-nya di web, dan belum saya salin ulang.

Pro dan kontra terhadap imunisasi atau vaksinasi tidak akan pernah berakhir. Saya bersyukur ada komunitas seperti milis SEHAT (http://groups.yahoo.com/group/sehat) yang selalu mendiskusikan dan memberikan informasi terkini tentang imunisasi dan kesehatan secara umum yang sahih (tidak semua informasi kesehatan di internet terbukti sahih secaraevidence based medicine). Silakan juga buka www.sehatgroup.web.id

Sekian dulu. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Arifianto, blognya saat ini tidak aktif. Saya tidak tau apakah beliau orang yang sama dengan Dr. Arif dalam blog ini. Allahu a’lam.

Read Full Post »

Kandungan vaksin

Tulisan dibawah adalah tulisan Ummu Hamzah, seorang muslimah yang berprofesi sebagai dokter yang tinggal di Damam, Saudi Arabia. Semoga dapat bermanfaat.

–oOo–

Tulisan ini memuat bahan-bahan pembuatan vaksin. Terdiri dari nama vaksin, nama dagang (dalam tanda kurung) dan bahan-bahan yang digunakan.  (saya)
Mencakup bahan-bahan vaksin (termasuk ajuvan dan pengawet) dan bahan-bahan yg digunakan dalam proses pembuatan, media produksi vaksin yang dihilangkan dari produk akhir dan bahan yang ditemukan dalam jumlah sangat kecil. Sebagai tambahan, sebagian besar vaksin mengandung Sodium Chloride (garam dapur)

Anthrax (BioThrax) : Aluminum Hydroxide, Amino Acids, Benzethonium Chloride, Formaldehyde or Formalin, Inorganic Salts and Sugars, Vitamins.

BCG (Tice) : Asparagine, Citric Acid, Lactose, Glycerin, Iron Ammonium Citrate, Magnesium Sulfate, Potassium Phosphate

DTaP (Daptacel) : Aluminum Phosphate, Ammonium Sulfate, Casamino Acid, Dimethyl-beta-cyclodextrin, Formaldehyde or Formalin, Glutaraldehyde, 2-Phenoxyethanol

DTaP (Infanrix) : Aluminum Hydroxide, Bovine Extract, Formaldehyde or Formalin, Glutaraldhyde, 2-Phenoxyethanol, Polysorbate 80

DTaP (Tripedia) : Aluminum Potassium Sulfate, Ammonium Sulfate, Bovine Extract, Formaldehyde or Formalin, Gelatin, Polysorbate 80, Sodium Phosphate, Thimerosal*

DTaP/Hib (TriHIBit) : Aluminum Potassium Sulfate, Ammonium Sulfate, Bovine Extract, Formaldehyde or Formalin, Gelatin, Polysorbate 80, Sucrose, Thimerosal*

DTaP-IPV (Kinrix) : Aluminum Hydroxide, Bovine Extract, Formaldehyde, Lactalbumin Hydrolysate, Monkey Kidney Tissue, Neomycin Sulfate, Polymyxin B, Polysorbate 80

DTaP-HepB-IPV (Pediarix) : Aluminum Hydroxide, Aluminum Phosphate, Bovine Protein, Lactalbumin Hydrolysate, Formaldehyde or Formalin, Glutaraldhyde, Monkey Kidney Tissue, Neomycin, 2-Phenoxyethanol, Polymyxin B, Polysorbate 80, Yeast Protein

DtaP-IPV/Hib (Pentacel) : Aluminum Phosphate, Bovine Serum Albumin, Formaldehyde, Glutaraldhyde, MRC-5 DNA and Cellular Protein, Neomycin, Polymyxin B Sulfate, Polysorbate 80, 2-Phenoxyethanol,

DT (sanofi) : Aluminum Potassium Sulfate, Bovine Extract, Formaldehyde or Formalin, Thimerosal (multi-dose) or Thimerosal* (single-dose)

DT (Massachusetts) : Aluminum Hydroxide, Formaldehyde or Formalin

Hib (ACTHib) : Ammonium Sulfate, Formaldehyde or Formalin, Sucrose

Hib (Hiberix) : Formaldehyde or Formalin, Lactose

Hib (PedvaxHib) : Aluminum Hydroxyphosphate Sulfate

Hib/Hep B (Comvax) : Amino Acids, Aluminum Hydroxyphosphate Sulfate, Dextrose, Formaldehyde or Formalin, Mineral Salts, Sodium Borate, Soy Peptone, Yeast Protein

Hep A (Havrix) : Aluminum Hydroxide, Amino Acids, Formaldehyde or Formalin, MRC-5 Cellular Protein, Neomycin Sulfate, 2-Phenoxyethanol, Phosphate Buffers, Polysorbate

Hep A (Vaqta) : Aluminum Hydroxyphosphate Sulfate, Bovine Albumin or Serum, DNA, Formaldehyde or Formalin, MRC-5 Cellular Protein, Sodium Borate

Hep B (Engerix-B) : Aluminum Hydroxide, Phosphate Buffers, Thimerosal*, Yeast Protein

Hep B (Recombivax) : Aluminum Hydroxyphosphate Sulfate, Amino Acids, Dextrose, Formaldehyde or Formalin, Mineral Salts, Potassium Aluminum Sulfate, Soy Peptone, Yeast Protein

HepA/HepB (Twinrix) : Aluminum Hydroxide, Aluminum Phosphate, Amino Acids, Dextrose, Formaldehyde or Formalin, Inorganic Salts, MRC-5 Cellular Protein, Neomycin Sulfate, 2-Phenoxyethanol, Phosphate Buffers, Polysorbate 20, Thimerosal*, Vitamins, Yeast Protein

Human Papillomavirus (HPV) (Cerverix) : 3-O-desacyl-4’-monophosphoryl lipid A (MPL), Aluminum Hydroxide, Amino Acids, Insect Cell Protein, Mineral Salts, Sodium Dihydrogen Phosphate Dihydrate, Vitamins

Human Papillomavirus (HPV) (Gardasil) : Amino Acids, Amorphous Aluminum Hydroxyphosphate Sulfate, Carbohydrates, L-histidine, Mineral Salts, Polysorbate 80, Sodium Borate, Vitamins

Influenza (Afluria) : Beta-Propiolactone, Calcium Chloride, Neomycin, Ovalbumin, Polymyxin B, Potassium Chloride, Potassium Phosphate, Sodium Phosphate, Sodium Taurodeoxychoalate

Influenza (Agriflu) : Cetyltrimethylammonium Bromide (CTAB), Egg Protein, Formaldehyde or Formalin, Kanamycin, Neomycin Sulfate, Polysorbate 80

Influenza (Fluarix) : Egg Albumin (Ovalbumin), Egg Protein, Formaldehyde or Formalin, Gentamicin, Hydrocortisone, Octoxynol-10, α-Tocopheryl Hydrogen Succinate, Polysorbate 80, Sodium Deoxycholate, Sodium Phosphate, Thimerosal*

Influenza (Flulaval) : Egg Albumin (Ovalbumin), Egg Protein, Formaldehyde or Formalin, Sodium Deoxycholate, Phosphate Buffers, Thimerosal

Influenza (Fluvirin) : Beta-Propiolactone , Egg Protein, Neomycin, Polymyxin B, Polyoxyethylene 9-10 Nonyl Phenol (Triton N-101, Octoxynol 9), Thimerosal (multidose containers), Thimerosal* (single-dose syringes)

Influenza (Fluzone) : Egg Protein, Formaldehyde or Formalin, Gelatin, Octoxinol-9 (Triton X-100), Thimerosal (multidose containers)

Influenza (FluMist) : Chick Kidney Cells, Egg Protein, Gentamicin Sulfate, Monosodium Glutamate, Sucrose Phosphate Glutamate Buffer

IPV (Ipol) : Calf Serum Protein, Formaldehyde or Formalin, Monkey Kidney Tissue, Neomycin, 2-Phenoxyethanol, Polymyxin B, Streptomycin,

Japanese Encephalitis (JE-Vax) : Formaldehyde or Formalin, Gelatin, Mouse Serum Protein, Polysorbate 80, Thimerosal

Japanese Encephalitis (Ixiaro) : Aluminum Hydroxide, Bovine Serum Albumin, Formaldehyde, Protamine Sulfate, Sodium Metabisulphite

Meningococcal (Menactra) : Formaldehyde or Formalin, Phosphate Buffers

Meningococcal (Menomune) : Lactose, Thimerosal (10-dose vials only)

Meningococcal (Menveo) : Amino Acid, Formaldehyde or Formalin, Yeast

MMR (MMR-II) : Amino Acid, Bovine Albumin or Serum, Chick Embryo Fibroblasts, Human Serum Albumin, Gelatin, Glutamate, Neomycin, Phosphate Buffers, Sorbitol, Sucrose, Vitamins

MMRV (ProQuad) : Bovine Albumin or Serum, Gelatin, Human Serum Albumin, Monosodium L-glutamate, MRC-5 Cellular Protein, Neomycin, Sodium Phosphate Dibasic, Sodium Bicarbonate, Sorbitol, Sucrose, Potassium Phosphate Monobasic, Potassium Chloride, Potassium Phosphate Dibasic

Pneumococcal (Pneumovax) : Bovine Protein, Phenol

Pneumococcal (Prevnar) : Aluminum Phosphate, Amino Acid, Soy Peptone, Yeast Extract

Pneumococcal (Prevnar 13) : Aluminum Phosphate, Amino Acid, Polysorbate 80, Soy Peptone, Succinate Buffer, Yeast Extract

Rabies (Imovax) : Human Serum Albumin, Beta-Propiolactone, MRC-5 Cellular Protein, Neomycin, Phenol Red (Phenolsulfonphthalein), Vitamins

Rabies (RabAvert) : Amphotericin B, Beta-Propiolactone, Bovine Albumin or Serum, Chicken Protein, Chlortetracycline, Egg Albumin (Ovalbumin), Ethylenediamine-Tetraacetic Acid Sodium (EDTA), Neomycin, Potassium Glutamate

Rotavirus (RotaTeq) : Cell Culture Media, Fetal Bovine Serum, Sodium Citrate, Sodium Phosphate Monobasic Monohydrate, Sodium Hydroxide Sucrose, Polysorbate 80

Rotavirus (Rotarix) : Amino Acids, Calcium Carbonate, Calcium Chloride, D-glucose, Dextran, Ferric (III) Nitrate, L-cystine, L-tyrosine, Magnesium Sulfate, Phenol Red, Potassium Chloride, Sodium Hydrogenocarbonate, Sodium Phosphate, Sodium L-glutamine, Sodium Pyruvate, Sorbitol, Sucrose, Vitamins, Xanthan

Td (Decavac) : Aluminum Potassium Sulfate, Bovine Extract, Formaldehyde or Formalin, 2-Phenoxyethanol, Peptone, Thimerosal*

Td (Massachusetts) : Aluminum Hydroxide, Aluminum Phosphate, Formaldehyde or Formalin, Thimerosal (some multidose containers)

Tdap (Adacel) : Aluminum Phosphate, Formaldehyde or Formalin, Glutaraldehyde, 2-Phenoxyethanol

Tdap (Boostrix) : Aluminum Hydroxide, Bovine Extract, Formaldehyde or Formalin, Glutaraldehyde, Polysorbate 80

Typhoid (inactivated – Typhim Vi) : Disodium Phosphate, Monosodium Phosphate, Phenol, Polydimethylsilozone, Hexadecyltrimethylammonium Bromide

Typhoid (oral – Ty21a) : Amino Acids, Ascorbic Acid, Bovine Protein, Casein, Dextrose, Galactose, Gelatin, Lactose, Magnesium Stearate, Sucrose, Yeast Extract

Vaccinia (ACAM2000) : Glycerin, Human Serum Albumin, Mannitol, Monkey Kidney Cells, Neomycin, Phenol, Polymyxin B

Varicella (Varivax) : Bovine Albumin or Serum, Ethylenediamine-Tetraacetic Acid Sodium (EDTA), Gelatin, Monosodium L-Glutamate, MRC-5 DNA and Cellular Protein, Neomycin, Potassium Chloride, Potassium Phosphate Monobasic, Sodium Phosphate Monobasic, Sucrose

Yellow Fever (YF-Vax) : Egg Protein, Gelatin, Sorbitol

Zoster (Zostavax) : Bovine Calf Serum, Hydrolyzed Porcine Gelatin, Monosodium L-glutamate, MRC-5 DNA and Cellular Protein, Neomycin, Potassium Phosphate Monobasic, Potassium Chloride, Sodium Phosphate Dibasic, Sucrose

Daftar dimana dicantumkan “thimerosal” yang diberi tanda bintang menunjukkan bahwa produk tersebut bisa disamakan dengan produk bebas thimerosal. Di dalam vaksin-vaksin tersebut masih terlacak < 0.3 mcg merkuri setelah dihilangkannya thimerosal pasca-produksi tetapi jumlah ini TIDAK MEMILIKI EFEK BIOLOGIS. JAMA 1999;282(18) and JAMA 2000;283(16)

Diadaptasi dari Grabenstein JD. ImmunoFacts: Vaccines & Immunologic Drugs. St. Louis, MO: Wolters Kluwer Health Inc.; 2009 dan informasi produk.

Nama vaksin yang ditebalkan adalah vaksin-vaksin yang lazim diberikan dan yang optional. Vaksin-vaksin optional antara lain : vaksin Varicella, vaksin Human Papilloma Virus, dan Hepatitis A. Vaksin Hepatitis B mulai rutin diberikan (artinya diberikan kepada sebagian besar anak terutama di kota-kota besar mengingat risiko penularan masih sangat tinggi dan penderita hepatitis B berisiko menderita kanker hati dalam jangka panjang) tetapi masih belum dilakukan merata di seluruh Indonesia terutama di daerah-daerah terpencil.

Sebagaimana tampak dalam daftar di atas, vaksin MMR yang diisukan mengandung thimerosal (merkuri) sudah tidak lagi menggunakan thimerosal dan vaksin MMR tidak termasuk dalam imunisasi dasar yang artinya juga bersifat optional.

Indonesia sudah memiliki produsen vaksin sendiri, yaitu PT. Biofarma.

Sumber: Umm Hamzah

Sebagaimana janji saya. Di sini saya tampilkan bahan-bahan pembuatan vaksin. Di bagian depan adalah nama vaksin. Dalam tanda kurung adalah nama dagang dan terakhir adalah bahan-bahan yang digunakan. Selamat menikmati…kalo saiah mah udah lieur duluan mindahin semua data ini buat antunna tercinta…Semoga lieur…eh…semoga bermanfaat :

Mencakup bahan-bahan vaksin (termasuk ajuvan dan pengawet) dan bahan-bahan yg digunakan dalam proses pembuatan, media produksi vaksin yang dihilangkan dari produk akhir dan bahan yang ditemukan dalam jumlah sangat kecil. Sebagai tambahan, sebagian besar vaksin mengandung Sodium Chloride (garam dapur)

Anthrax (BioThrax) : Aluminum Hydroxide, Amino Acids, Benzethonium Chloride, Formaldehyde or Formalin, Inorganic Salts and Sugars, Vitamins.

BCG (Tice) : Asparagine, Citric Acid, Lactose, Glycerin, Iron Ammonium Citrate, Magnesium Sulfate, Potassium Phosphate

DTaP (Daptacel) : Aluminum Phosphate, Ammonium Sulfate, Casamino Acid, Dimethyl-beta-cyclodextrin, Formaldehyde or Formalin, Glutaraldehyde, 2-Phenoxyethanol

DTaP (Infanrix) : Aluminum Hydroxide, Bovine Extract, Formaldehyde or Formalin, Glutaraldhyde, 2-Phenoxyethanol, Polysorbate 80

DTaP (Tripedia) : Aluminum Potassium Sulfate, Ammonium Sulfate, Bovine Extract, Formaldehyde or Formalin, Gelatin, Polysorbate 80, Sodium Phosphate, Thimerosal*

DTaP/Hib (TriHIBit) : Aluminum Potassium Sulfate, Ammonium Sulfate, Bovine Extract, Formaldehyde or Formalin, Gelatin, Polysorbate 80, Sucrose, Thimerosal*

DTaP-IPV (Kinrix) : Aluminum Hydroxide, Bovine Extract, Formaldehyde, Lactalbumin Hydrolysate, Monkey Kidney Tissue, Neomycin Sulfate, Polymyxin B, Polysorbate 80

DTaP-HepB-IPV (Pediarix) : Aluminum Hydroxide, Aluminum Phosphate, Bovine Protein, Lactalbumin Hydrolysate, Formaldehyde or Formalin, Glutaraldhyde, Monkey Kidney Tissue, Neomycin, 2-Phenoxyethanol, Polymyxin B, Polysorbate 80, Yeast Protein

DtaP-IPV/Hib (Pentacel) : Aluminum Phosphate, Bovine Serum Albumin, Formaldehyde, Glutaraldhyde, MRC-5 DNA and Cellular Protein, Neomycin, Polymyxin B Sulfate, Polysorbate 80, 2-Phenoxyethanol,

DT (sanofi) : Aluminum Potassium Sulfate, Bovine Extract, Formaldehyde or Formalin, Thimerosal (multi-dose) or Thimerosal* (single-dose)

DT (Massachusetts) : Aluminum Hydroxide, Formaldehyde or Formalin

Hib (ACTHib) : Ammonium Sulfate, Formaldehyde or Formalin, Sucrose

Hib (Hiberix) : Formaldehyde or Formalin, Lactose

Hib (PedvaxHib) : Aluminum Hydroxyphosphate Sulfate

Hib/Hep B (Comvax) : Amino Acids, Aluminum Hydroxyphosphate Sulfate, Dextrose, Formaldehyde or Formalin, Mineral Salts, Sodium Borate, Soy Peptone, Yeast Protein

Hep A (Havrix) : Aluminum Hydroxide, Amino Acids, Formaldehyde or Formalin, MRC-5 Cellular Protein, Neomycin Sulfate, 2-Phenoxyethanol, Phosphate Buffers, Polysorbate

Hep A (Vaqta) : Aluminum Hydroxyphosphate Sulfate, Bovine Albumin or Serum, DNA, Formaldehyde or Formalin, MRC-5 Cellular Protein, Sodium Borate

Hep B (Engerix-B) : Aluminum Hydroxide, Phosphate Buffers, Thimerosal*, Yeast Protein

Hep B (Recombivax) : Aluminum Hydroxyphosphate Sulfate, Amino Acids, Dextrose, Formaldehyde or Formalin, Mineral Salts, Potassium Aluminum Sulfate, Soy Peptone, Yeast Protein

HepA/HepB (Twinrix) : Aluminum Hydroxide, Aluminum Phosphate, Amino Acids, Dextrose, Formaldehyde or Formalin, Inorganic Salts, MRC-5 Cellular Protein, Neomycin Sulfate, 2-Phenoxyethanol, Phosphate Buffers, Polysorbate 20, Thimerosal*, Vitamins, Yeast Protein

Human Papillomavirus (HPV) (Cerverix) : 3-O-desacyl-4’-monophosphoryl lipid A (MPL), Aluminum Hydroxide, Amino Acids, Insect Cell Protein, Mineral Salts, Sodium Dihydrogen Phosphate Dihydrate, Vitamins

Human Papillomavirus (HPV) (Gardasil) : Amino Acids, Amorphous Aluminum Hydroxyphosphate Sulfate, Carbohydrates, L-histidine, Mineral Salts, Polysorbate 80, Sodium Borate, Vitamins

Influenza (Afluria) : Beta-Propiolactone, Calcium Chloride, Neomycin, Ovalbumin, Polymyxin B, Potassium Chloride, Potassium Phosphate, Sodium Phosphate, Sodium Taurodeoxychoalate

Influenza (Agriflu) : Cetyltrimethylammonium Bromide (CTAB), Egg Protein, Formaldehyde or Formalin, Kanamycin, Neomycin Sulfate, Polysorbate 80

Influenza (Fluarix) : Egg Albumin (Ovalbumin), Egg Protein, Formaldehyde or Formalin, Gentamicin, Hydrocortisone, Octoxynol-10, α-Tocopheryl Hydrogen Succinate, Polysorbate 80, Sodium Deoxycholate, Sodium Phosphate, Thimerosal*

Influenza (Flulaval) : Egg Albumin (Ovalbumin), Egg Protein, Formaldehyde or Formalin, Sodium Deoxycholate, Phosphate Buffers, Thimerosal

Influenza (Fluvirin) : Beta-Propiolactone , Egg Protein, Neomycin, Polymyxin B, Polyoxyethylene 9-10 Nonyl Phenol (Triton N-101, Octoxynol 9), Thimerosal (multidose containers), Thimerosal* (single-dose syringes)

Influenza (Fluzone) : Egg Protein, Formaldehyde or Formalin, Gelatin, Octoxinol-9 (Triton X-100), Thimerosal (multidose containers)

Influenza (FluMist) : Chick Kidney Cells, Egg Protein, Gentamicin Sulfate, Monosodium Glutamate, Sucrose Phosphate Glutamate Buffer

IPV (Ipol) : Calf Serum Protein, Formaldehyde or Formalin, Monkey Kidney Tissue, Neomycin, 2-Phenoxyethanol, Polymyxin B, Streptomycin,

Japanese Encephalitis (JE-Vax) : Formaldehyde or Formalin, Gelatin, Mouse Serum Protein, Polysorbate 80, Thimerosal

Japanese Encephalitis (Ixiaro) : Aluminum Hydroxide, Bovine Serum Albumin, Formaldehyde, Protamine Sulfate, Sodium Metabisulphite

Meningococcal (Menactra) : Formaldehyde or Formalin, Phosphate Buffers

Meningococcal (Menomune) : Lactose, Thimerosal (10-dose vials only)

Meningococcal (Menveo) : Amino Acid, Formaldehyde or Formalin, Yeast

MMR (MMR-II) : Amino Acid, Bovine Albumin or Serum, Chick Embryo Fibroblasts, Human Serum Albumin, Gelatin, Glutamate, Neomycin, Phosphate Buffers, Sorbitol, Sucrose, Vitamins

MMRV (ProQuad) : Bovine Albumin or Serum, Gelatin, Human Serum Albumin, Monosodium L-glutamate, MRC-5 Cellular Protein, Neomycin, Sodium Phosphate Dibasic, Sodium Bicarbonate, Sorbitol, Sucrose, Potassium Phosphate Monobasic, Potassium Chloride, Potassium Phosphate Dibasic

Pneumococcal (Pneumovax) : Bovine Protein, Phenol

Pneumococcal (Prevnar) : Aluminum Phosphate, Amino Acid, Soy Peptone, Yeast Extract

Pneumococcal (Prevnar 13) : Aluminum Phosphate, Amino Acid, Polysorbate 80, Soy Peptone, Succinate Buffer, Yeast Extract

Rabies (Imovax) : Human Serum Albumin, Beta-Propiolactone, MRC-5 Cellular Protein, Neomycin, Phenol Red (Phenolsulfonphthalein), Vitamins

Rabies (RabAvert) : Amphotericin B, Beta-Propiolactone, Bovine Albumin or Serum, Chicken Protein, Chlortetracycline, Egg Albumin (Ovalbumin), Ethylenediamine-Tetraacetic Acid Sodium (EDTA), Neomycin, Potassium Glutamate

Rotavirus (RotaTeq) : Cell Culture Media, Fetal Bovine Serum, Sodium Citrate, Sodium Phosphate Monobasic Monohydrate, Sodium Hydroxide Sucrose, Polysorbate 80

Rotavirus (Rotarix) : Amino Acids, Calcium Carbonate, Calcium Chloride, D-glucose, Dextran, Ferric (III) Nitrate, L-cystine, L-tyrosine, Magnesium Sulfate, Phenol Red, Potassium Chloride, Sodium Hydrogenocarbonate, Sodium Phosphate, Sodium L-glutamine, Sodium Pyruvate, Sorbitol, Sucrose, Vitamins, Xanthan

Td (Decavac) : Aluminum Potassium Sulfate, Bovine Extract, Formaldehyde or Formalin, 2-Phenoxyethanol, Peptone, Thimerosal*

Td (Massachusetts) : Aluminum Hydroxide, Aluminum Phosphate, Formaldehyde or Formalin, Thimerosal (some multidose containers)

Tdap (Adacel) : Aluminum Phosphate, Formaldehyde or Formalin, Glutaraldehyde, 2-Phenoxyethanol

Tdap (Boostrix) : Aluminum Hydroxide, Bovine Extract, Formaldehyde or Formalin, Glutaraldehyde, Polysorbate 80

Typhoid (inactivated – Typhim Vi) : Disodium Phosphate, Monosodium Phosphate, Phenol, Polydimethylsilozone, Hexadecyltrimethylammonium Bromide

Typhoid (oral – Ty21a) : Amino Acids, Ascorbic Acid, Bovine Protein, Casein, Dextrose, Galactose, Gelatin, Lactose, Magnesium Stearate, Sucrose, Yeast Extract

Vaccinia (ACAM2000) : Glycerin, Human Serum Albumin, Mannitol, Monkey Kidney Cells, Neomycin, Phenol, Polymyxin B

Varicella (Varivax) : Bovine Albumin or Serum, Ethylenediamine-Tetraacetic Acid Sodium (EDTA), Gelatin, Monosodium L-Glutamate, MRC-5 DNA and Cellular Protein, Neomycin, Potassium Chloride, Potassium Phosphate Monobasic, Sodium Phosphate Monobasic, Sucrose

Yellow Fever (YF-Vax) : Egg Protein, Gelatin, Sorbitol

Zoster (Zostavax) : Bovine Calf Serum, Hydrolyzed Porcine Gelatin, Monosodium L-glutamate, MRC-5 DNA and Cellular Protein, Neomycin, Potassium Phosphate Monobasic, Potassium Chloride, Sodium Phosphate Dibasic, Sucrose

Daftar dimana dicantumkan “thimerosal” yang diberi tanda bintang menunjukkan bahwa produk tersebut bisa disamakan dengan produk bebas thimerosal. Di dalam vaksin-vaksin tersebut masih terlacak < 0.3 mcg merkuri setelah dihilangkannya thimerosal pasca-produksi tetapi jumlah ini TIDAK MEMILIKI EFEK BIOLOGIS. JAMA 1999;282(18) and JAMA 2000;283(16)

Diadaptasi dari Grabenstein JD. ImmunoFacts: Vaccines & Immunologic Drugs. St. Louis, MO: Wolters Kluwer Health Inc.; 2009 dan informasi produk.

Nama vaksin yang ditebalkan adalah vaksin-vaksin yang lazim diberikan dan yang optional. Vaksin-vaksin optional antara lain : vaksin Varicella, vaksin Human Papilloma Virus, dan Hepatitis A. Vaksin Hepatitis B mulai rutin diberikan (artinya diberikan kepada sebagian besar anak terutama di kota-kota besar mengingat risiko penularan masih sangat tinggi dan penderita hepatitis B berisiko menderita kanker hati dalam jangka panjang) tetapi masih belum dilakukan merata di seluruh Indonesia terutama di daerah-daerah terpencil.

Sebagaimana tampak dalam daftar di atas, vaksin MMR yang diisukan mengandung thimerosal (merkuri) sudah tidak lagi menggunakan thimerosal dan vaksin MMR tidak termasuk dalam imunisasi dasar yang artinya juga bersifat optional.

Indonesia sudah memiliki produsen vaksin sendiri, yaitu PT. Biofarma.

Eits…ada yang mau minta keterangan tentang efek masing-masing zat di atas…? Enak aje…gentian dunk…situ yang nyari…ini aja dah puseng mindahin nama segini banyax…pake disuruh njelasin satu-satu zatnya efeknya apa…emang enax njelasin satu-satu…wkwkwk…

Udah ah…mo bubu…yg minta di-tag silahkan daftar di kolom komentar, tapi di-tag-nya 2 hari lagi yaaak…saiah mo cuti nge-tag 2 hari, capex…zzz…zzz…zzz…
http://www.facebook.com/notes/umm-hamzah/bahan-vaksin/493993642709

Read Full Post »

Penulis: Al Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi hafizhahullah

Artikel diambil dari blog Kak Aswad

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), imunisasi diartikan “pengebalan” (terhadap penyakit). Kalau dalam istilah kesehatan, imunisasi diartikan pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan maupun diteteskan pada mulut anak balita (bawah lima tahun).

Vaksin adalah bibit penyakit (misal cacar) yang sudah dilemahkan, digunakan untuk vaksinasi.2 Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak.

Imunisasi memiliki beberapa jenis, di antaranya Imunisasi BCG, Imunisasi DPT, Imunisasi DT, Imunisasi TT, imunisasi Campak, Imunisasi MMR, Imunisasi Hib, Imunisasi Varicella, Imunisasi HBV, Imunisasi Pneumokokus Konjugata. Perinciannya bisa dilihat dalam buku-buku kedokteran, intinya jenis imunisasi sesuai dengan penyakit yang perlu dihindari.

Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.3

Jadi, imunisasi merupakan penemuan kedokteran yang sangat bagus dan manfaatnya besar sekali dalam membentengi diri dari berbagai penyakit kronis, padahal biayanya relatif murah.4

Hukum Asal Imunisasi
Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri dari penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari racun dan sihir”(HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).

Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyari’atkannya mengambil sebab untuk membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi.5 Demikian juga kalau dikhawatirkan terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat tatkala terkena penyakit.6

Penggunaan Vaksin Polio Khusus (IPV)
Setelah sekelumit informasi tantang imunisasi di atas, sekarang kita masuk kepada permasalahan inti yang menjadi polemik hangat akhir-akhir ini, yaitu imunisasi dengan menggunakan vaksin polio khusus (IPV) yang dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang berasal dari babi. Bagaimanakah gambaran permasalahan yang sebenarnya ? Dan bagaimanakah status hukumnya?

A.Gambaran Permasalahan
Berdasarkan surat Menteri Kesehatan RI Nomor: 1192/MENKES/IX/2002, tanggal 24 September 2002, serta penjelasan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Departemen Kesehatan, Direktur Bio Farma, Badan POM, LP POM-MUI, pada rapat Komisi Fatwa, Selasa, 1 Sya’ban 1423 / 8 Oktober 2002; dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1.Pemerintah saat ini sedang berupaya melakukan pembasmian penyakit polio dari masyarakat secara serentak dengan cara pemberian dua tetes vaksin Polio oral (melalui saluran pencernaan).

2.Penyakit (virus) Polio, jika tidak ditanggulangi, akan menyebabkan cacat fisik (kaki pincang) pada mereka yang menderitanya.

3.Terdapat sejumlah anak balita yang menderita immunocompromise (kelainan sistem kekebalan tubuh) yang memerlukan vaksin khusus yang diberikan secara injeksi (vaksin jenis suntik).

4.Jika anak-anak yang menderita immunocompromise tersebut tidak diimunisasi maka mereka akan menderita penyakit Polio serta sangat dikhawatirkan pula mereka akan menjadi sumber penyebaran virus.

5.Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang berasal dari porcine (babi), namun dalam hasil akhir tidak terdeteksi unsur babi.

6.Sampai saat ini belum ada IPV jenis lain yang dapat menggantikan vaksin tersebut dan jika diproduksi sendiri maka diperlukan investasi (biaya/modal) sangat besar sementara kebutuhannya sangat terbatas. 7

B.Jembatan Menuju Jawaban
Untuk sampai kepada status hukum imunisasi model di atas, kami memandang penting untuk memberikan jembatan terlebih dahulu dengan memahami beberapa masalah dan kaidah berikut, setelah itu kita akan mengambil suatu kesimpulan hukum.5

1.Masalah Istihalah
Maksud Istihalah di sini adalah berubahnya suatu benda yang najis atau haram menjadi benda lain yang berbeda nama dan sifatnya. Seperti khamr berubah menjadi cuka, bai menjadi garam, minyak menjadi sabun, dan sebagainya.9

Apakah benda najis yang telah berubah nama dan sifatnya tadi bisa menjadi suci? Masalah ini diperselisihkan ulama, hanya saya pendapat yang kuat menurut kami bahwa perubahan tersebut bisa menjadikannya suci, dengan dalil-dalil berikut :

a.Ijma’ (kesepakatan) ahli ilmu bahwa khamr apabila berubah menjadi cuka maka menjadi suci.
b.Pendapat mayoritas ulama bahwa kulit bangkai bisa suci dengan disamak, berdasarkan sabda Nabi “ Kulit bangkai jika disamak maka ia menjadi suci.” ( Lihat Shohihul-Jami’ : 2711)
c.Benda-benda baru tersebut – setelah perubahan – hukum asalnya adalah suci dan halal, tidak ada dalil yang menajiskan dan mengharamkannya.

Pendapat ini merupakan madzhab Hanafiyyah dan Zhahiriyyah[10], salah satu pendapat dalah madzhab Malik dan Ahmad[11]. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah[12], Inul Qoyyim, asy-Syaukani[13], dan lain-lain.[14]

Alangkah bagusnya ucapan Imam Ibnul-Qoyyim : “Sesungguhnya benda suci apabila berubah menjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah berubah menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis, lantas bagaimana mungkin benda najis tidak bisa berubah menjadi suci? Allah telah mengeluarkan benda suci dari kotoran dan benda kotor dari suci. Benda asal bukanlah patokan. Akan tetapi, yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang. Mustahil benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telah tidak ada, padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya.”[15]

2.Masalah Istihlak
Maksud Istihlak di sini adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan hal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharamannya, baik rasa, warna, dan baunya.

Apabila benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut bisa menjadi suci? Pendapat yang benar adalah bisa menjadi suci, berdasarkan dalil berikut :
Air itu suci, tidak ada yang menajiskannya sesuatu pun.” (Shohih. Lihat Irwa’ul-Gholil:14)

Apabila air telah mencapai dua qullah maka tidak najis.” (Shohih. Lihat Irwa’ul-Gholil:23).

Dua hadits di atas menunjukkan bahwa benda yang najis atau haram apabila bercampur dengan air suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur tak menyisakn warna atau baunya maka dia menjadi suci. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Barang siapa yang memperhatikan dalil-dalil yang disepakati dan memahami rahasia hukum syari’at, niscaya akan jelas baginya bahwa pendapat ini paling benar, sebab najisnya air dan cairan tanpa bisa berubah, sangat jauh dari logika.”[16]

Oleh karenanya, seandainnya ada seseorang yang meminum khomr yang bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat khamr-nya hilang maka dia tidak dihukumi minum khomr. Demikian juga, bila ada seorang bayi diberi minum ASI (air susu ibu) yang telah bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat susunya hilang maka dia tidak dihukumi sebagai anak persusuannya.”[17]

3.Darurat dalam Obat
Dharurah (darurat) adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman, yaitu ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada badanya, hartanya atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan:

Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang

Namun kaidah ini harus memenuhi dua persyaratan: tidak ada pengganti lainya yang boleh (mubah/halal) dan mencukupkan sekadar untuk kebutuhan saja.

Oleh karena itu, al-Izzu bin Abdus Salam mengatakan : “Seandainya seorang terdesak untuk makan barang najis maka dia harus memakannya, sebab kerusakan jiwa dan anggota badan lebih besar daripada kerusakan makan barang najis.”[20]

4.Kemudahan Saat Kesempitan
Sesungguhnya syari’at islam ini dibangun di atas kemudahan. Banyak sekali dalil-dalil yang mendasari hal ini, bahkan Imam asy-Syathibi mengatakan: “Dalil-dalil tentang kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang pasti”.[20]

Semua syari’at itu mudah. Namun, apabila ada kesulitan maka akan ada tambahan kemudahan lagi. Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syafi’i tatkala berkata :
Kaidah syari’at itu dibangun (di atas dasar) bahwa segala sesuatu apabila sempit maka menjadi luas.”[21]

5.Hukum Berobat dengan sesuatu yang Haram
Masalah ini terbagi menjadi dua bagian :

a.Berobat dengan khamr adalah haram sebagaimana pendapat mayoritas ulama, berdasarkan dalil :
Sesungguhnya khomr itu bukanlah obat melainkan penyakit.” (HR. Muslim:1984)
Hadist ini merupakan dalil yang jelas tentang haramnya khamr dijadikan sebagai obat.22

b.Berobat dengan benda haram selain khamr. Masalah ini diperselisihkan ulama menjadi dua pendapat :

Pertama : Boleh dalam kondisi darurat. Ini pendapat Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Ibnu Hazm.23 Di antara dalil mereka adalah keumuman firman Allah : “… Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya….” (QS. Al- An’am [6]:119)

Demikian juga Nabi membolehkan sutera bagi orang yang terkena penyakit kulit, Nabi membolehkan emas bagi sahabat arfajah untuk menutupi aibnya, dan bolehnya orang yang sedang ihrom untuk mencukur rambutnya apabila ada penyakit di rambutnya.

Kedua: Tidak boleh secara mutlak. Ini adalah madzab Malikiyyah dan Hanabillah.24 Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi :“Sesungguhnya allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan benda haram” (ash-Shohihah:4/174)

Alasan lainnya karena berobat hukumnya tidak wajib menurut jumhur ulama, dan karena sembuh dengan berobat bukanlah perkara yang yakin.

Pendapat yang kuat: Pada asalnya tidak boleh berobat dengan benda-benda haram kecuali dalam kondisi darurat, yaitu apabila penyakit dan obatnya memenuhi kriteria sebagai berikut :
1)Penyakit tersebut penyakit yang harus diobati
2)Benar-benar yakin bahwa obat ini sangat bermanfaat pada penyakit tersebut.
3)Tidak ada pengganti lainnya yang mubah.25

6.Fatwa-fatwa
Dalam kasus imunisasi jenis ini, kami mendapatkan dua fatwa yang kami pandang perlu kami nukil di sini :

a.Fatwa Majelis Eropa Lil-Ifta’ wal-Buhuts
Dalam ketetapan mereka tentang masalah ini dikatakan: “Setelah Majelis mempelajari masalah ini secara teliti dan menimbang tujuan-tujuan syari’at, kaidah-kaidah fiqih serta ucapan para ahli fiqih, maka Majelis menetapkan :

1)Penggunaan vaksin ini telah diakui manfaatnya oleh kedokteran yanitu melindungi anak-anak dari cacat fisik (kepincangan) dengan izin Allah. Sebagaimana belum ditemukan adanya pengganti lainnya hingga sekarang. Oleh karena itu, menggunakannya sebagai obat dan imunisasi hukumnya boleh, karena bila tidak maka akan terjadi bahaya yang cukup besar. Sesungguhnya pinti fiqih luas memberikan toleransi dari perkara najis- kalau kita katakan bahwa cairan (vaksin) itu najis- apabila terbukti bahwa cairan najis ini telah lebur denga memperbanyak benda-benda lainnya. Ditambah lagi bahwa keadaan ini masuk dalam kategori darurat atau hajat yang sederajat dengan darurat, sedangkan termasuk perkara yang dimaklumi bersama bahwa tujuan syari’at yang paling penting adalah menumbuhkan maslahat dan membedung mafsadat.

2)Majelis mewasiatkan kepada para pemimpin kaum muslimin dan pemimpin markaz agar mereka tidak bersikap keras dalam masalah ijtihadiyyah (berada dalam ruang lingkup ijtihad) seperti ini yang sangat membawa maslahat yang besar bagi anak-anak muslim selagi tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang jelas.26

b.Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)
Majelis Ulama Indonesia dalam rapat pada 1 Sya’ban 1423H, setelah mendiskusikan masalah ini mereka menetapkan :

1). Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari – atau mengandung- benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram.
2). Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.27

C.Kesimpulan dan Penutup
Setelah keterangan singkat di atas, kami yakin pembaca sudah bisa menebak kesimpulan kami tentang hukum imunisasi IPV ini, yaitu kami memandang bolehnya imunisasi jenis ini dengan alasan-alasan sebagai berikut :

1.Imunisasi ini sangat dibutuhkan sekali sebagaimana penelitian ilmu kedokteran.
2.Bahan haram yang ada telah lebur dengan bahan-bahan lainnya.
3.Belum ditemukan pengganti lainnya yang mubah.
4.Hal ini termasuk dalam kondisi darurat.
5.Sesuai dengan kemudahan syari’at di kala ada kesulitan.

Demikianlah hasil analisis kami tentang masalah ini, maka janganlah kita meresahkan masyarakat dengan kebingungan kita tentang masalah ini. Namun seperti yang kami isyarakatkan di muka bahwa pembahasan ini belumlah titik, masih terbuka bagi semuanya untuk mencurahkan pengetahuan dan penelitian baik sari segi ilmu medis maupun ilmu syar’i agar bisa sampai kepada hukum yang sangat jelas. Kita memohon kepada Allah agar menambahkan bagi kita ilmu yang bermanfaat. Amin.

========================

Diskusi di blog Kak Aswad dan facebook tentang vaksin:

Dari Ummu Syifa:
“Kami pribadi saat ini memilih untuk tidak melanjutkan imunisasi untuk anak kedua kami.

Pertama alasan bahwa katalisator yang digunakan secara jelas dari bahan haram (tripsin babi) atau bahan-bahan kimia berbahaya (merkuri).

Kedua, masalah darurat. Dari dalil di atas dikatakan bahwa bila darurat maka boleh. Kami memandang bahwa kondisi di tempat tinggal kami tidak termasuk dalam endemik penyakit yang berbahaya, sehingga vaksinasi bukan sesuatu yang wajib dilakukan (bukan hal darurat). Berbeda dengan kondisi seperti yang saya lihat di televisi (acara Redaksi Sore beberapa hari lalu), di mana kondisi sekeluarga lumpuh layuh, maka tetangga sekitar wajib diimunisasi polio untuk mencegahnya.
Allahu A’lam.”

Jawaban Kang Aswad:

#Ummu Syifa
“Untuk alasan pertama, tolong dipahami kembali tentang isthlak dan istihalah.
Untuk alasan kedua, darurat dalam istilah syar’i berbeda dengan istilah bahasa Indonesia. Darurat dalam masalah ini, sebagaimana dijelaskan diatas, adalah jika terpenuhi kriteria:
1) Penyakit tersebut penyakit yang harus diobati
2) Benar-benar yakin bahwa obat ini sangat bermanfaat pada penyakit tersebut.
3) Tidak ada pengganti lainnya yang mubah.
Dan setidaknya MUI pun memandang ini termasuk perkara darurat.”

————————-

Diskusi di facebook:

1. Mengenai perkataan anti, bahwa percaya kepada vaksin adalah termasuk menduakan Allah, maka amatlah jauh panggang dari api.
Dalam artikel di atas sudah dijelaskan sbb:

“HUKUM ASAL IMUNISASI

Imunisasi hukumnya BOLEH dan TIDAK TERLARANG, karena termasuk PENJAGAAN DIRI dari penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari racun dan sihir.” (HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).

Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyari’atkannya MENGAMBIL SEBAB UNTUK MEMBENTENGI DIRI DARI PENYAKIT SEBELUM TERJADI.[Ibnul-Arobi berkata: “Menurutku bila seorang mengetahui sebab penyakit dan khawatir terkena olehnya, maka boleh baginya untuk membendungnya dengan obat.” (al-Qobas: 3/1129)]

Demikian juga kalau dikhawatirkan terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat tatkala terkena penyakit.[Majmu’ Fatawa wa Maqolat Syaikh Ibnu Baz: 6/26]”

Maka dalam hal ini, sangat jelas bahwa pencegahan adalah termasuk bentuk ikhtiar, sehingga tidak dapat dikatakan menafikan iman kepada takdir Allah. Adapun iman kepada takdir Allah, bukan berarti menafikan ikhtiar. Sebagaimana di saat terjadi gejala berupa gunung berapi yang AKAN meletus, maka kita pun disyari’atkan untuk PERGI mengungsi. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya. Allahu Ta’ala a’lam.
=================================
‎3. Mengenai perkataan anti, bahwa semua orang tua pasti akan memberikan hal yang terbaik buat si buah hati. Maka saya pun sebagai orang tua tentunya ingin juga memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya. Dalam artikel di atas sudah dijel…askan:

“Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.[Sumber: medicastore.com. Lihat pula al-Adwa kar. Ali al-Bar hlm. 126, Ahkamul Adwiyah Fi Syari’ah Islamiyyah kar. Dr. Hasan al-Fakki hlm. 128]

Jadi, imunisasi merupakan penemuan kedokteran yang sangat bagus dan manfaatnya besar sekali dalam membentengi diri dari berbagai penyakit kronis, padahal biayanya relatif murah.[Ahkamu Tadawi kar. Ali al-Bar hlm. 22]”

Adalah hak anti untuk tidak memberikan imunisasi kepada anak-anak anti, sebab dalam hal ini SANGAT JELAS bahwa tidak ada paksaan bagi setiap orang tua untuk melakukan imunisasi bagi anak-anak mereka. Namun demikian, bukan berarti kita boleh berbicara “ini boleh atau ini tidak boleh” apabila tanpa dilandasi ilmu yang bersumber dari penjelasan para ulama. Sebab apabila kita cermati kembali maksud dari artikel di atas, adalah menjelaskan permasalahan HUKUM-nya dalam Islam. Allahu Ta’ala a’lam.
============================
@ Anna Ummu Fikrina: Sudah barang tentu kita sebagai orang tua ingin menjaga anak-anak kita dari hal yang diharamkan Allah. Tapi mengenai apakah suatu perkara termasuk haram atau tidak, para ulama-lah yang lebih mengetahuinya. Kewajiban kita sebagai orang awam adalah bertanya kepada ulama. Allah Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43).

Zadanallah ilman wa hirshan…….
=================================
“Sesungguhnya benda …suci apabila berubah menjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah berubah menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis, lantas bagaimana mungkin benda najis tidak bisa berubah menjadi suci? Allah telah mengeluarkan benda suci dari kotoran dan benda kotor dari suci. Benda asal bukanlah patokan. Akan tetapi, yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang. Mustahil benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telah tidak ada, padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya.” [15]

Afwan nimbrung Pak..

Sebagai mantan laboran, chemist dan pencinta ilmu tsb ana sangat kagum dengan ucapan Ibnul Qayyim tsb…
Karena itu benar adanya…
Subhanallah…ternyata ilmu pengetahuan saat itu sudah tinggi ya…??
“seperti kotoran/sampah diolah bisa menjadi biogas…”
“Beras menjadi sake”
“Tetes tebu menjadi MSG”
perhatikan asal dan hasil kedua bahan tsb…
bukankah yang halal mengeluarkan yang najis dan yang najis bisa mengeluarkan yang halal?
Antara zat asal dan akhir sungguh berbeda sifat,warna,fungsi dan baunya….(secara fisik dan kimiawi)—

Segala sesuatu yang mengalami proses kimiawi akan berubah menjadi zat lain,dengan sifat yang berbeda—hukum keilmuan kimianya…dan ini bisa dibuktikan denga praktek…
tapi ilmu Qayyim apakah beliau adalah seorang chemist yang melakukan praktikum di lab?
Tidak…beliau menyatakan dari kecerdasan beliau dan kepahaman beliau thd ilmu syar’i…yang membuat beliau paham terhadp ilmu2 Allah…

Saya semakin kagum, Islam sungguh sempurna, dan semua ilmu itu sudah ada dalam Islam dan itu benar2 dari Allah…^_^,

I’m proud to moslem…

=====================

Daftar Referensi
1.Ahkamul-Adwiyah Fi syari’ah Islamiyyah kar. Dr. Hasan bin ahmad al-Fakki, terbetin Darul-Minhaj, KSA, cet. Pertama 1425H.
2.Al-Mawad al-Muharromah wa Najasah fil Ghidza’wad-Dawa’ kar. Dr. Nazih ahmad, terbitan Darul –Qolam, damaskus, cet. Pertama 1425 H.
3.Fiqih Shoidali Muslimin kar. Dr. Kholid abu Zaid ath-Thomawi, terbitan Dar shuma’i, KSA, cet. Pertama 1428 H
4.Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia
5.dan lain-lain

Catatan Kaki :
1.Al-Mawad al-Muharromah wan-Najasah Fil-Ghidza’ wad-Dawa’ kar. Dr. Nazih Hammad hlm. 7-8
2.KBBI Edisi Ke tiga Cetakan ketiga 2005 hlm. 1258.
3.Sumber: medicastore.com. Lihat pula al-Adwa kar. Ali al-Bar hlm. 126, Ahkamul Adwiyah Fi Syari’ah Islamiyyah kar. Dr. Hasan al-Fakki hlm. 128.
4.Ahkamu Tadawi kar. Ali al-Bar hlm. 22
5.Ibnul-Arobi berkata: “Menurutku bila seorang mengetahui sebab penyakit dan khawatir terkena olehnya, maka boleh baginya untuk membendungnya dengan obat.” (al-Qobas: 3/1129)
6.Majmu’ Fatawa wa Maqolat Syaikh Ibnu Baz: 6/26
7.Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia hlm. 369
8.Lihat Al-Mawad al-Muharromah wan-Najasah hlm. 16-38, Ahkamul Adwiyah Fi Syari’ah Islamiyyah hlm. 187-195, Fiqh Shoidali al-Muslim kar. Dr. Khalid abu Zaid hlm. 72-84.
9.Lihat Hasyiyah Ibni Abidin:1/210
10.Roddul-Mukhtar’: 1/217, al-Muhalla: 7/422
11.al-Majmu’: 2/572 dan al-Mughni: 2/503
12.Al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah hlm. 23
13.Sailul-Jarror: 1/52
14.Lihat masalah ini secara luas dalam kitab al-Istihalah wa ahkamuha Fil-Fiqh Islami kar. Dr. Qodhafi ‘Azzat al-Ghonanim.
15.I’lamul-Muwaqqi’in: 1/394
16.Majmu’ Fatawa: 21/508, al-Fatawa al-Kubro: 1.256
17.Al-Fatawa al-Kubro kar. Ibnu Taimiyyah: 1/143, Taqrirul-Qowa’id kar. Ibnu Rojab: 1/173
18.Al-asybah wan-Nazho’ir Ibnu Nujaim hlm. 94 dan al-Asybah wan-Nazho’ir as-Suyuthi hlm. 84
19.Qowa’idul-Ahkam hlm. 141
20.Al-Muwafaqot kar. Asy-Syathibi: 1/231
21.Qowa’idul-Ahkam hlm. 60
22.Syarh Shahih Muslim kar. An-Nawawi: 13/153, Ma’alim Sunan kar. Al-Khoththobi: 4/205
23.Lihat Hasyiyah Ibni Abidin: 4/215, al-Majmu’ kar. An-Nawawi: 9/50, al-Muhalla kar. Ibnu Hazm: 7/426
24.Lihat al-Kafi kar. Ibnu Abdil Barr hlm. 440, 1142, al-Mughni kar. Ibnu Qudamah: 8/605
25.Ahkamul Adwiyah Fi Syari’ah Islamiyyah hlm. 187.
26.Website Majlis Eropa Lil Ifta’wal Buhuts/www.e-cfr.org, dinukil dari kitab Fiqh Shoidali al-Muslim hlm. 107.
27.Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia hlm. 370.

[Sumber : Majalah Al Forqan, Edisi 05 Th. ke – 8 1429 H/2008 M, oleh : Al Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi]

Read Full Post »

Imunisasi, Lagi…

Ada posting susulan mengenai imunisasi dari blognya dr. Arief. Saya sarankan bagi teman-teman yang tertarik untuk mengetahui hal ini, agar merujuk langsung pada sumber artikel aslinya. Disana bisa dilihat pertanyaan dan jawaban dr.Arief pada bagian komentar. Bagus sekali, untuk yang masih belum yakin dengan imunisasi.

Imunisasi Haram Hukumnya….Masa Sih?

Mengingat pentingnya masalah imunisasi ini, saya sih masih merasa belum puas dengan posting-posting saya terdahulu tentang imunisasi, sehingga saya merasa perlu untuk menambahkan beberapa post lagi barangkali seputar imunisasi.

Yang ingin saya bicarakan sekarang adalah isu-isu yang salah di masyarakat seputar imunisasi. Saya mendengar isu ini sejak saya kecil dulu hingga sekarang ini masih ada saja yang beranggapan demikian. Isu tersebut antara lain adalah :

  • Imunisasi tidak penting bagi anak ?
  • Imunisasi berarti memasukkan penyakit ke dalam tubuh anak yang sehat, sehingga hukumnya haram ?
  • Imunisasi adalah program KB terselubung yang bertujuan untuk “memandulkan” anak ?
  • Dan lain sebagainya

Isu-isu di atas adalah TIDAK BENAR. Saat ini informasi bisa kita dapatkan dengan mudah dengan cara apapun. Kita bisa mengetahui dari belahan dunia manapun dengan mudah dan cepat. Kita bisa menyaksikan bagaimana dunia berlomba-lomba meningkatkan kecanggihan vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak, dengan mengurangi efek samping hingga seminimal mungkin. Sekarang kita juga bisa membuktikan bahwa para ahli di seluruh dunia sepakat bahwa imunisasi adalah penting.

Bagi beberapa orang yang termakan isu-isu di atas, silakan Anda cari informasi terkini yang berkenaan dengan imunisasi tersebut. Insya Allah Anda akan menemukan 100% informasi – yang ilmiah tentunya, bukan sekedar asal ngomong belaka – yang akan mendukung dan menguatkan dasar pentingnya dilakukan imunisasi.

“Toh anak saya juga sehat nggak pakai imunisasi…” nah lho? Memang benar ada kemungkinan anak Anda tetap sehat tanpa imunisasi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh dr. Adi di atas tadi, imunisasi bertujuan untuk memproteksi bukan 100%, terhadap penyakit. Ini artinya, bila sang anak yang sehat tanpa imunisasi tadi tidak tertular oleh penyakit yang dia tidak memiliki daya tahan terhadapnya maka kita sebut saja dia “beruntung”. Contohnya penyakit tuberculosis (TBC) yang dinyatakan secara statistik (dihitung orang per orang di setiap negara) bahwa Indonesia salah satu yang menduduki peringkat tertinggi di dunia. Apakah Anda tega membiarkan sang anak tanpa perlindungan dan hanya berbekal “semoga beruntung” saja?

Anak yang sudah diimunisasi dengan baik masih mungkin tertular penyakit tersebut. Namun, dibandingkan dengan yang tidak diimunisasi, tingkat sakitnya akan jauh berbeda.

Sebagai permisalan, pada saat turun hujan; anak yang diimunisasi adalah ibarat anak yang memakai jas hujan dan yang tidak diimunisasi adalah ibarat anak yang tidak memakai jas hujan. Apakah mungkin yang memakai jas hujan masih basah ? Mungkin saja! Tapi coba bandingkan dengan yang tidak pakai jas hujan. Tentu derajat “basahnya” tidak akan sama…

Nah khusus untuk poin isu ke-2 di atas yang – mungkin – diyakini kebenarannya oleh beberapa orang, saya punya penjelasan sedikit… (sedikit terus dari tadi :) ) Imunisasi memang benar berarti memasukkan penyakit ke dalam tubuh anak….. eit tapi tunggu dulu, bukan sembarang penyakit yang dimasukkan ke dalam tubuh sang anak tersayang.Vaksin penyakit yang dimasukkan kedalam tubuh anak pada imunisasi khusus untuk penyakit-penyakit yang terpilih yang berpotensi menimbulkan akibat yang fatal atau cacat yang permanen pada masa depannya. Vaksin tersebut adalah penyakit yang telah dilemahkan di laboratorium dan telah teruji secara klinis, sehingga yang didapatkan oleh sang anak adalah kekebalan terhadap penyakit tersebut dalam wujud sebenarnya – yang tidak dilemahkan.

Tubuh manusia memiliki suatu mekanisme untuk belajar mengatasi rangsangan dari luar. Ini adalah suatu karunia yang sangat besar yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Rangsangan ini bisa berwujud perubahan cuaca dari panas ke dingin (atau sebaliknya), kontak dengan bakteri dan virus yang ada di udara bebas, kontak dengan alergen; atau singkatnya : kontak dengan dunia luar. Anak yang sehat memiliki kemampuan untuk mempelajari dan membuat kesimpulan tentang apa yang dipelajarinya. Ini juga terjadi pada sistem imun (kekebalan) tubuhnya. Proses belajar pada kekebalan tubuhnya akan langsung terjadi sesaat setelah seseorang bersinggungan dengan penyakit (misalnya dari orang lain). Kekebalan akan didapatkan sebagai hasil akhir / kesimpulan dari proses belajar tersebut – dengan catatan – bila status gizi pada tubuhnya baik. Mungkin ia akan mengalami sakit dahulu, namun tubuhnya akan terus mempelajari dan membuat kesimpulan terhadap penyakit tersebut.

Kekebalan dapat diperoleh dengan 2 cara, yaitu kekebalan aktif dan kekebalan pasif. Bedanya, yang satu didapatkan setelah seseorang sembuh dari suatu penyakit, dan yang lainnya didapatkan melalui vaksin penyakit tersebut.

Sebagai contoh : Seseorang bernama A terkena penyakit – sebut saja – penyakit “X”. Setelah sembuh, si A tadi akan memiliki kekebalan terhadap penyakit “X” tersebut. Pada kasus lain, seseorang lainnya bernama B mendapatkan vaksinasi penyakit “X”, dan dia mendapatkan kekebalan terhadap penyakit “X” tersebut. Menurut Anda, mana yang lebih bagus ? si A atau si B ? Anda menjawab “Tentu saja si A !”. Benarkah ?…..

Mungkin jawaban di atas benar, bila penyakit “X” yang dimaksud adalah penyakit yang sederhana, seperti flu biasa. Yang jadi masalah adalah : bagaimana bila penyakit “X” yang dimaksud adalah suatu penyakit yang fatal dan berpotensi untuk meninggalkan kecacatan??? Misalnya penyakit “X” tersebut adalah Polio, si A yang mendapat kekebalan setelah sembuh dari sakitnya belum tentu bisa berjalan dengan baik, bahkan mungkin ia tidak dapat berjalan lagi; sementara si B – yang mendapatkan vaksinasi polio – juga mendapatkan kekebalan terhadap penyakitnya, tetapi tanpa harus mengalami sakit terlebih dahulu…. Apa artinya seseorang memperoleh kekebalan setelah sembuh dari sakitnya, tapi ia kini juga memperoleh kecacatan (buta, lumpuh, dll) ? Tentu tidak banyak artinya. Apalagi pada konteks anak, masa depannya masih sangat-sangat-amat panjang sekali, banget… eh kelebihan yah ? :)

Jadi, ayo kita imunisasi anak-anak kita. Ini adalah salah satu amanah yang harus kita kerjakan sebagai orang tua terhadap anak-anak kita.
:)

Read Full Post »

Fatwa dari orang yang berilmu memang berbeda. Saya menganggumi pengetahuan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz dan juga dalil yang dipaparkannya mengenai imunisasi. Lihat dalil yang dipaparkan dan juga fatwa yang dihasilkan, beliau mengatakan bahwa imunisasi “…termasuk tindakan menghindari penyakit sebelum terjadi.”

Sebetulnya ini bukan kali pertama saya melihat fatwa tersebut. tapi karena pertama kali saya melihatnya saya merasa cukup tahu saja fatwa tersebut tanpa perlu menyebarkannya, jadi saya tidak menyimpan link atau copy fatwa tersebut dalam bentuk dokumen. Tapi karena ada diskusi dari sahabat mengenai imunisasi, akhirnya saya tergerak untuk menyimpan fatwa ini dalam blog pribadi saya. Semoga bisa mendatangkan manfaat bagi saya dan orang-orang yang perduli mengenai kehalalan sesuatu yang mereka pakai dan makan. Untuk melihat diskusi mengenai imunisasi ini cukup menarik bisa dilihat dimilis assunnah. Tetapi kali ini saya mengcopy paste fatwa dan opini mengenainya dari situsnya Dr. Arief.

HUKUM IMUNISASI DALAM ISLAM
Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz ditanya : Bagaimana hukum berobat dengan imunisasi (mencegah sebelum tertimpa musibah) ?

Jawaban
La ba’sa (tidak masalah) berobat dengan cara seperti itu jika dikhawatirkan tertimpa penyakit karena adanya wabah* atau sebab-sebab lainnya. Juga tidak masalah untuk menggunakan obat untuk menolak atau menghindari wabah yang dikhawatirkan.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih, artinya : “Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun”. Ini termasuk tindakan menghindari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga jika dikhawatirkan timbulnya suatu penyakit dan dilakukan immunisasi untuk melawan penyakit yang muncul di suatu tempat atau di mana saja, maka hal itu tidak masalah, karena hal itu termasuk tindakan pencegahan. Sebagaimana penyakit yang datang diobati, demikian juga penyakit yang dikhawatirkan kemunculannya.

Tapi tidak boleh berobat dengan menggunakan jimat-jimat untuk menghindari penyakit, jin atau pengaruh mata yang jahat. Karena Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari perbuatan itu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan bahwa hal itu termasuk syirik kecil, sehingga sudah kewajiban kita untuk harus menghindarinya.
[Fatawa Syaikh Abdullah bin Baaz**. Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427/2006M. Dikutip dari kitab Al-Fatawa Al-Muta’alliqah bi Ath-Thibbi wa Ahkami Al-Mardha, hal. 203. Darul Muayyad, Riyadh]

*Komentar saya pribadi :
Imunisasi dalam sudut pandang Islam pada dasarnya dibolehkan, berdasarkan fatwa di atas. Dasar imunisasi pada anak adalah untuk menghindari wabah, contohnya TBC – yang Indonesia adalah salah satu peringkat tertinggi di dunia – dan penyakit-penyakit terpilih lainnya yang berpotensi (dapat) mengakibatkan  kecacatan atau kematian.
Fatwa ini menyatakan konsep dasar tindakannya, dan sangat berbeda dengan konteks bagaimana cara manusia melakukannya. Bila dilakukan tidak sesuai dengan prosedur (pembuatan, penyimpanan, pemberian, penyuntikan, dll) sehingga menimbulkan efek lain maka ini adalah kasus pembahasan yang berbeda dari fatwa di atas. Fatwa di atas hanya menyatakan dasar tindakan pemberian imunisasi secara umum adalah boleh. Sedangkan bila diberikan dengan cara yang salah dan menimbulkan efek-efek negatif (gagal, timbul alergi, timbul efek samping, dll.) maka itu adalah suatu kesalahan prosedural, dan tidak ada hubungan dengan fatwa yang membolehkan tersebut.

Wallahu a’lam.
** Syaikh Abdullah bin Baaz adalah seorang ulama besar kelas dunia, biografi selengkapnya dapat diperoleh melalui situs http://www.an-naba.com (by request – saya pernah mendapatkan biografinya melalui email).

Read Full Post »