Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Katanya’ Category

Ini adalah tulisan Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A, yang dibagikan oleh Ummu Abdirrahman di facebook. Awal mula tulisannya ini seperti yang diceritakan sendiri oleh Ustadz Abdullah Zaen, “Di bulan Ramadhan tahun ini, kami mendapat amanah untuk mengimami shalat Tarawih dan Subuh di Masjid Agung Darussalam Purbalingga selama lima hari. Masih dalam rangkaiannya, kami ditugaskan untuk memberikan kuliah Tarawih dan kuliah Subuh. Kebetulan materi pengajian Tarawih seputar pilar-pilar penting dalam mendidik anak.

Karena banyaknya permintaan dari jama’ah, bahan materi tersebut kami kumpulkan dalam bentuk makalah yang kami beri judul “Jurus Jitu Mendidik Anak”. Tentu masih terlalu jauh dari  format sempurna, namun semoga yang sederhana ini bisa bermanfaat bagi kita semua….”

Jurusnya sederhana, kata-katanya juga sederhana tapi indah, membuat sadar siapa yang membacanya –insyaAllah– akan tanggung jawab mendidik anak. Saya copas secara bertahap untuk perenungan saya pribadi juga share saya kepada teman-teman. Semoga postingan ini dapat bermanfaat untuk saya dan kaum muslimin yang membacanya. Aamiin.

JURUS PERTAMA: MENDIDIK ANAK PERLU ILMU

Ilmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.

Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.

Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua.

Padahal, menjadi orangtua harus berbekal ilmu yang memadai. Sekadar memberi mereka uang dan memasukkan di sekolah unggulan, tak cukup untuk membuat anak kita menjadi manusia unggul. Sebab, sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap.

Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya.

Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas.

Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang!

Ilmu apa saja yang dibutuhkan?

Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.

Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,

“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”.

“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.

Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Demi merealisasikan wasiat Nabi shallallahu’alaihiwasallam untuk para orangtua,

“مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْر”.

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur sepuluh tahun”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.

Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu kepada orang lain?

Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, tidak lupa adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.

Dalam hal ini Nabi shallallahu’alaihiwasallam mempraktekkannya sendiri, antara lain ketika beliau bersabda menasehati seorang anak kecil,

“يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ”.

“Nak, ucapkanlah bismillah (sebelum engkau makan) dan gunakanlah tangan kananmu”. HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah.

Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.

Ayo belajar!

Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!

Gambar diambil dari infomuslimah.com

Iklan

Read Full Post »

Deep Understanding

Deep Understanding – Rhenald Kasali, SINDO 21 Juli 2011

Salah satu teka-teki yang masih saya ingin tahu jawabannya sepanjang lebih dari 25 tahun menjadi pendidik adalah: mengapa anak-anak kita kesulitan mengungkapkan isi pikirannya?

Maksud saya,kalau diberi pertanyaan, kok jawabannya pendek sekali dan ingin cepat-cepat selesai. Selain tidak argumentatif, terasa miskin dalam konsep. Di Harvard Michael Porter, guru besar ilmu manajemen terkemuka yang menularkan
metode pengajaran partisipatif pernah memberi tahu resepnya.

Ajukan cold call, tunjuk seseorang secara mendadak, lalu gali perlahan-lahan. Mereka mungkin kurang siap, tetapi buatlah sebersahabat mungkin agar mereka nyaman berbicara. Saya pun menerapkannya, dan ternyata hanya berhasil di tingkat pendidikan S-2 dan S- 3. Di tingkat S-1, saya butuh waktu banyak sekali untuk menggali dan mengeluarkan isi pikiran mahasiswa saya.

Dan kalau dikejar lebih jauh, mereka menjawab seragam: Ya gitu deh! Dan kalau sudah mentok, keluarkanlah jargon asyiknya: Au ah, gelaap! Tetapi,saya tidak menyerah. Sampai di pertengahan semester, satu persatu mulai berani memberi jawaban yang agak panjang, lebih panjang, lebih menyatu, dan sistematis.

Dan tahukah Anda, di situlah letak kebahagiaan seorang pendidik, yaitu saat anak-anaknya mendapatkan apa yang disebut deep understanding.

Hubungan Kompleks

Orang dewasa seperti bapak dan ibu yang telah lulus menjadi sarjana dan bekerja barangkali pernah merasakan betapa sulitnya memahami hubungan-hubungan yang kompleks dalam sebuah teori. Nah, kemampuan seorang anak menangkap hubungan-hubungan yang kompleks dalam sebuah teori atau konsep itulah yang kita sebut sebagai deep understanding.

Jadi bukan sekadar tahu banyak hal namun serbasedikit. Bukanlah sekadar menguasai permukaan-permukaan yang ngepop atau sekadar fragmented pieces of information. Deep understanding sangat diperlukan dalam dunia pendidikan, dan untuk itulah seorang guru dituntut untuk bersabar dan memeriksa apakah betul murid-muridnya sudah paham dan bisa mengerjakannya.

Pendidikan seperti itulah yang sebenarnya dirindukan anak-anak kita. Bukan seperti sekarang yang dikenal anak-anak dengan istilah SKS (sistem kebut semalam). Guru-guru yang bijak tahu persis otak manusia memerlukan waktu untuk merangkai satu elemen dengan elemen-elemen lainnya.

Ibarat orang membuat kue lapis legit, dibuatnya harus dengan penuh kesungguhan, dari selapis tipis yang satu ke lapisan tipis berikutnya. Sebaliknya, metode sistem kebut satu malam yang banyak dianut dewasa ini sepertinya sangat mengabaikan kapasitas belajar para murid. Guru ingin cepat-cepat berpindah dari satu halaman ke halaman berikutnya.

Penjelasan-penjelasan mendasar sebuah konsep sering terputus, sehingga anak-anak kesulitan memahami suatu konsep secara mendalam. Cara seperti ini sungguh kejam. Ibarat sopir metromini atau taksi liar, guru bisa dipacu menjadi sopir tembak yang ugal-ugalan kejar setoran.

Tidak mengherankan bila menjelang ujian, guru, dan murid sama-sama panik. Guru-guru yang cerdik tentu tak kehilangan akal, digunakanlah dulu yang kita kenal sebagai jembatan keledai saat ujian di SLTA dulu tentu mengerti mengapa disebut demikian. Guru dan murid telah kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam pendidikan, yaitu waktu. Kita tak bisa menyimpan waktu, apalagi membelinya.

Tetapi, kita tidak bisa memberi mereka waktu yang lebih banyak untuk pen-dalaman suatu konsep. Caranya sederhana saja, rampingkan jumlah mata ajaran yang harus diberikan dan berikan metode yang lebih aktif kolaboratif.

Saya sering diprotes oleh orang-orang yang khawatir mata ajarnya tidak relevan lagi bila pemerintah kelak mendengarkan tulisan reflektif ini dengan mengurangi jumlah mata ajaran yang harus diambil para murid. Tetapi selalu saya katakan,kita
harus berani berkata jujur bahwa anakanak kita telah mengalami penyiksaan otak yang rawan.

Dan dampaknya sudah kita rasakan saat ini dengan beredarnya orang-orang bergelar hebat, pintar, tahu banyak, tetapi selalu bingung harus bergerak ke mana dan harus memulai dari mana.

Kreatif dan Reflektif

Saat menulis kolom ini saya pun tengah membongkar-bongkar program-program belajar dari berbagai sekolah di mancanegara. Bila disimak tulisan-tulisan saya dua minggu terakhir, perampingan-perampingan telah diambil sejumlah bangsa dalam beberapa tahun terakhir ini.

Di sebuah sekolah di Jepang, saya menemukan sebuah buku pedoman belajar dengan tujuh pilar, yaitu berpengetahuan dengan deep understanding, mampu berpikir kompleks dan menjadi pemecah masalah, kreatif namun reflektif, menjadi kontributor yang bertanggung jawab, termotivasi dan terkendali, independen namun interdependen, dan mampu menjadi komunikator yang efektif.

Ketika saya masukkan kata-kata kunci di atas di mesin pencari di internet, sayapun menemukan kesamaan dari banyak sekolah di negara-negara maju bahwa melahirkan orang kreatif saja tidak cukup, tapi juga harus menjadi kontributor yang bertanggung jawab dan reflektif.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita membentuk manusia-manusia seperti itu? Anda mungkin mulai merasakan kegalauan- kegalauan saat orangorang kota yang sudah memiliki kendaraan (roda dua maupun roda empat) tidak bisa membedakan (bahkan tidak tahu cara memakai) antara klakson dengan rem.

Saat posisi di jalan raya kejepit atau tidak bisa menyusul, bukan rem yang dipijak, melainkan klakson. Saya tidak tahu apa jawaban yang harus diberikan untuk membuat seseorang menjadi hebat, tetapi mungkin saya tahu apa kunci kegagalan yang akan dialami bangsa ini.

Yaitu, saat kita merasa bangga dengan banyak pelajaran yang kita dapatkan,padahal semua itu hanya kulit-kulitnya. Hanya sepotong-sepotong, miskin pendalaman dan tidak reflektif.

RHENALD KASALI Ketua Program MM UI
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/414362/34/__

Gambar diambil dari: oscarfrancomediator.com

Read Full Post »

Subhanallah… saya mendapat berita gembira dari seorang ibu HSer (Mira Julia), bahwa beberapa anak homeschool diterima diperguruan tinggai negeri. MasyaAllah….

Anak-anak ini bergabung dengan komunitas homeschooling berkemas, yang diasuh oleh Bu Yayah Komariah. Ketika saya konfirmasi dengan Bu Yayah ternyata dalam status facebooknya sudah tertera berita gembira seperti ini:

SELAMAT pada anak-anakku yg telah diterima di SNMPTN 2011:
1. Irfan Sjarief (Paket C), Fak. Teknik Otomotif – Univ. Negeri Padang
2. Rumaisha Rifdah Mukhlishah (UAN), Fak. Komunikasi – UI
3. Nadira (Paket C), Fak. Hukum – UI
4. Raffi Tarent (Paket C), Fak. Ekonomi – UI
5. Ryan Namora (Paket C), Fak. Hukum – UI
6. Raffta Bastari (Paket C), Fak. Sastra Jepang – UI
7. Masih konfirmasi nama, – Univ. Braw. Malang

Rumaisha Rifdah Mukhlishah adalah anak yang ikut ujian melalui sekolah setempat (umbrella school), dengan tambahan bahwa ia mendapatkan NEM tertinggi disekolah tempat ia menumpang ujian. Sedang anak HS yang lainnya mengambil ijazah dengan jalur kesetaraan (Paket C) juga tetap dapat berprestasi dan diterima di Universitas-universitas bergengsi tersebut.  MasyaAllah ini sungguh berita gembira bagi para homeschooler ^^

Read Full Post »

Melengkapi tulisan Pak Rhenald Kasali. Diambil dari harian seputar indonesia.

Benarkah Makin Berat, Makin Hebat?

Sebagian besar pembaca mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi sulit, sehingga kaya berbagai peribahasa, seperti: hemat pangkal kaya dan rajin pangkal pandai. Kita bermain layang-layang, menangkap belut,bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda, tawa,dan keringat.

Bagaimana anak-anak sekarang? Lahan kosong berganti menjadi kebun sawit atau perumahan mewah.Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook,Twitter,Online Games, warung internet,dan bimbingan belajar.

Pergaulan fisik diganti dunia maya, statistik, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran, sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anakanak kita? Bukannya dikurangi, melainkan semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita semakin banyak.

Sementara di Selandia Baru dan banyak negara maju anakanak sekolah hanya mengambil enam mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit ”The Power of Simplicity”, kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, ”kalau terlalu mudah, tidak akan melahirkan kehebatan”.

Bukan hanya itu, di banyak negara, selain dirampingkan, mata ajar wajib juga dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan karier. Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang ”sakral”, wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan.

Ubah Cara Pandang

Namun, sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, China, dan Selandia baru,adajugaorangtuayangprotes. Mereka tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih mudah. ”Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus berjuang”. Saya dapat mengerti pandangan ini, karena anaknya termasuk cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai tinggi.

Namun, saya kurang mengerti bagaimana orang tua rela menyita seluruh waktu masa muda anaknya hanya untuk belajar. Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang yang tahu semua, tapi selalu bertanya, ”Saya harus melakukan apa?” Ini adalah realita, semakin banyak ditemui orang tak bisa bekerja dengan prioritas.

Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup.Untuk itulah, talenta harus diasah, diberi ruang,dan waktu agar ia tumbuh.Leadership maupun entrepreneurship diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji dalam interaksi kehidupan.

Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping, apakah benar menjadi lebih baik.Saya selalu teringat masa-masa memulai karier sebagai penguji di program S-3.Saat seorang tua,kandidat doktor diuji, yang mengajukan pertanyaan ada 13 orang hebat.

Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi semua penguji tidak puas, kandidat digoreng ke kiri, di-ongseng ke kanan hingga nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak puas.Sebagai doktor muda yang baru kembali dari sekolah doktor, saya tak punya suara yang berarti. Saya hanya bertanya, ”Beginikah cara Bapak-Bapak menguji seorang calon doktor?”

Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di hadapan publik.Karena malu telah berkata- kata bodoh,saya teruskan saja berkata jujur. Saya katakan kita harus percaya diri.

Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede.Lagi pula tak ada yang bisa lulus dengan ujian seperti ini.Semua dosen hanya marah-marah karena kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling bertentangan. Saya pun mengatakan,andaikan saya yang diuji di sini, saya beranijaminsaya puntidakakan lulus.

Pertanyaan ujian terlalu luas.Di Amerika Serikat,kita hanya diuji oleh empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah dibantu. Di SLTA negara-negara maju,jumlah mata ajar memang ramping,tetapisejakremajamereka sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah.

Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.

Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini, kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Tidakkah kita bertanya, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita? Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya belajar enam mata pelajaran seperti di Selandia Baru, Denmark, atau negara-negara industri lainnya?

Namun, fakta yang saya temui ternyata pendidikan yang hanya fokus pada enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan SelandiaBaruterbaikkeenamdi dunia.Rasanya di sana juga tak ada siswa yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal. Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?  RHENALD KASALI Ketua Program MM UI

Gambar diambil dari redbubble.com

Read Full Post »

Sekolah untuk Apa?

Dari milis sekolah rumah, sumber Harian Seputar Indonesia.

Sekolah untuk Apa?

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah kamar”.

Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja.

Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini.

Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.

Lengkap sudah masalah kita. Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serbasulit ini?

Kesadaran Membangun SDM

Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad sadar betul pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM). Dia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S-2 dan S-3 ke berbagai negara maju.

Hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai 10 tahun,lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya Anda bisa lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya. Perubahan bukan hanya sampai di situ.

Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis,serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan.

Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya.Tak mengherankan kalau sekolahsekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah. Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa.

”Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.

Seleksinya sangat ketat. Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? ”Mudah saja,” ujar dekan itu. ”Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,”ujarnya.

Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di Selandia Baru. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi.Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah. Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di Selandia Baru.

Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam 10 besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewawancarai lulusan sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan.

Di luar dugaan saya,pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah. Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guruguru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai ratarata di atas 80 (betapapun stresnya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun tak menguasai semua subjek.

Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengopi isi buku dan catatan. Entah di mana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.

Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri,mungkin guruguru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri.

Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? ”Undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di Selandia Baru. Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan input-nya? ”Itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putra sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga.

Maksudnya,tes masuk tetap ada,tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi. Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu Matematika dan Bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan.

Sekolah dilarang hanya menerima anakanak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super di kedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur.

Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif. Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masingmasing. Bagi mereka yang bercita- cita menjadi dokter, biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai.

Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik,dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Bayangkan, bukankah citacita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super.Seorang lulusan SLTA tahun pertama harus menguasai empat bidang sains (biologi,ilmu kimia, fisika, dan matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer.

Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti kurikulum program S-1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S-1 yang digabung hingga S-3 di Amerika.

Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian, tapi tak ada masalah kok!

Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah mengubah banyak hal, anakanak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melainkan dari segala resources.

Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri,sehingga diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, lifelong learning.

Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, ”Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak 10 tahun lalu. Maka itu, sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah,metode diperbarui,fasilitas baru dibangun,” ujar seorang guru.

Masih banyak yang ingin saya diskusikan,tapi sampai di sini ada baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah dan untuk apa kita bersekolah? Mudahmudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depan yang lebih baik. RHENALD KASALI Ketua Program MM UI

Gambar diambil dari: sau33.com

Read Full Post »

Banyak orangtua yang ingin anaknya bisa membaca diusia dini. Sebenarnya itu keinginan yang wajar, asal diimbangi dengan pemahaman dan pengajaran yang sesuai. Orangtua mana yang tidak ingin anaknya cerdas? Saya juga berharap demikian ^^. Tapi jika kemudian jadi memaksa anak untuk bisa membaca hingga membuatnya kapok, hemmm… jangan deh. Karena bisa membaca itu adalah sebuah keahlian. Sedangkan esensi anak bisa membaca, agar mau membaca buku khan yha? sukur-sukur jadi cinta ilmu. Jika diawal saja anak udah kapok dengan pengalaman baca membaca. Bagaimana ia kemudian bisa menjadi anak yang suka membaca? bener nggak sih? Memori yang indah mengenai belajar membaca, mungkin saja menjadi tonggak utama anak untuk cinta membaca.

Saya belajar dari banyak teman mengenai mengajarkan anak membaca diusia dini, MasyaAllah. Beberapa saya praktekkan sendiri, sedang yang lain saya jadikan sebagai ilmu pengetahuan saja. Syukur-syukur kalau nanti dipakai untuk anak-anak kami lainnya ^^ Berikut beberapa usaha teman-teman yang saya tahu untuk mendampingi anak-anaknya bisa membaca:

1. Read Aloud (membaca buku bersama dengan bersuara).
Ini adalah metode terbaik menurut saya. Sebab didalamnya ada spirit kesenangan dari membaca. orangtua dan anak sama-sama penelusuri buku, membuatnya menjadi petualangan-petualangan yang mengasyikkan. Dari kegiatan ini ternyata ada lho anak yang lantas jadi bisa membaca, hanya dari read aloud bersama. Anak-anak ini merekam pola tulisan berulang yang dibacakan kepadanya. Hei, mungkin ada yang ingat buku berjudul “Matilda”, karya Roal Dahl. Iabisa membaca tanpa belajar membaca ^^ Komunitas Reading Bugs beberapa waktu mencanangkan agar orangtua mau sejenak meluangkan waktunya membaca bersama anak setidaknya 15 menit setiap hari.

Metode read aloud ini juga yang dipakai oleh para ulama salaf (terdahulu) dan khalaf. Mereka membacakan suatu kitab kemudian disimak oleh murid-muridnya. Metode ini bisa dipakai untuk semua umur, tidak hanya anak-anak. Anak kami yang pertama juga demikian, walau ia sudah bisa membaca, tetapi membacakannya suatu buku tetap hal yang mengasyikkan bagi kami.
Ada buku yang tuntas membahas tentang Read Aloud, judulnya Read Aloud Handbook, karya Jim Trelease, penerbit Hikmah.

2. Mengenalkan huruf
Anak-anak kadang belum memahami bahwa “buku” itu berawalan dari huruf “b”. Anak Anda begitu? jangan khawatir, anak kami Yasmin juga begitu. Agak sulit baginya menyadari bahwa “kodok” berawalan huruf “k”. Awalnya ia menduga itu berasal dari huruf “ko”, tetapi kemudian saya komunikasikan, bahwa tidak ada huruf “ko” yang ada adalah huruf “k”. Sedangkan yang ia bilang sebagai “ko” adalah merupakan suku kata.

Saat itu saya sering bermain tebak-tebakkan. “Ayo siapa tahu, apakah yang dimulai dari huruf ‘A’?, apakah batu, rumah atau apel.” Ia lalu menebak apel. Alhamdulillah lama kelamaan ia menyadari bahwa ada kaitan bunyi huruf, dengan huruf diawal kata. Setelah mengenal bahwa simbol itu melambangkan suatu bunyi/makna, maka masuk ke metode selanjutnya.

3. Metode fonik
Ini adalah metode membaca dengan suku kata, tidak dieja seperti jaman saya belajar membaca dulu. Misalnya mengenalkan “ba”, “ca” dst. Tetapi ada juga yang sekaligus mengenalkan “ba, bi, bu, be, bo.”

Seorang ibu dari anak homeschooler, pernah menuliskan ilustrasinya mengajarkan membaca pada anaknya. Ia memakai kertas karton yang bertuliskan “__a, __i, __u, __e, __o”. Hari pertama ia selipkan semua huruf b pada kertas itu. Hingga tulisannya menjadi “ba, bi, bu, be, bo.” Hari selanjutnya diganti dengan c dan seterusnya. Dengan metode ini menurut ibu tersebut, anak jadi memahami pola “a, i, u ,e, o” tersebut. Sehingga memudahkannya untuk mengenali suku kata, dan akhirnya mudah belajar membaca.

Bagi saya, ternyata cara ini kurang cocok. Secara anak saya (Yasmin, 4th 6bln) sering lupa lagi, lupa lagi :p Saya tidak ingin ia jadi tidak PD, karena ia sering lupa pada pola-pola itu. Jadi saya hanya mengenalkan satu suku kata saja setiap hari. Misalnya hari ini ia belajar “ba”, besok belajar suku kata “ca” dan seterusnya. Alhamdulillah ini mendongkrak PDnya, ia jadi senang menuliskan suku kata yang ia tahu. Misalnya “ta di pa gi a da ma ta ha ri.” Senangnya melihat dia bangga bahwa sudah dapat menyusun suku kata menjadi makna.

4. Metode Glen Doman
Metode ini mashyur menggunakan kartu flash. Dimana anak sudah di “flash” dengan banyak kata-kata sejak bayi. Misalnya kata “kapal”, ‘mama”… dituliskan seluruh katanya. Setelah itu kita flash kepada anak/bayi dengan durasi yang sangat cepat. Saya belum pernah mencoba memakai metode ini, mungkin juga karena saya terlanjur melihat VCD dari Discovery Chanel yang mengkritik metode ini. Tetapi ada pengalaman keluarga homeschooler yang menggunakan kartu flash untuk kata berbahasa inggris, berhasil. Hmm… bagus juga menurut saya. Secara kata dalam bahasa inggris memiliki pola yang berbeda dari bahasa indonesia.

Tetapi bila flash card diperuntukkan agar anak memiliki banyak kosa kata, boleh juga. Mungkin sama fungsinya dengan buku, yang membuat anak bisa melihat dunia dari sana. Tidak salah rasanya kalau buku disebut sebagai jendela dunia.

5. Mengeja
Nah, metode ini sepertinya sudah banyak ditinggalkan. Secara mengeja ‘mungkin’ memerlukan waktu yang cukup lama, dan energi yang lebih banyak. Tapi saya pernah bertemu beberapa orang guru, yang tetap percaya bahwa mengajarkan anak membaca dengan mengeja adalah tetap cara yang terbaik mengajarkan anak membaca.

Semua metode tersebut akan lebih asyik bila didukung oleh kegiatan yang juga mengasyikkan. Berikut sedikit ide kegiatan yang berkaitan dengan membaca dan menulis untuk anak usia dini:

1. Mencoba menebak huruf, atau kata yang tertera dijalan-jalan.
2. Mencoba menebak tulisan dibungkus belanjaan atau jajanan anak-anak kita.
3. Membuat kue berbentuk huruf.
4. Bermain puzzle huruf.
5. Bermain tebak kata.
Misalnya, “coba tebak hewan apa yang berawalan huruf ‘Z’?”.
6. Melompat sambil menebak huruf-huruf dalam kata.
Misalnya bisakah kamu menyebutkan huruf-huruf yang menyusun kata ‘kapal’? anak melakukan sambil melompat, ‘k’, ‘a’, ‘p’, ‘a’, ‘l’.
7. Menuliskan kata-katanya sendiri.
Agar memudahkan anak, menurut saya perlu untuk menuliskan contoh suku kata ditempat yang bisa ia lihat. Agar, ia bisa meniru dan menuliskannya dengan benar. Misalnya kita menulis ‘a, ba, ca, da…, za’ diatas kertas kreasinya. Kemudian anak mau menulis ‘ha na’, maka ia memilih sendiri (dengan melihat contoh yang kita tulis diatas) seperti apa huruf ‘ha’ dan ‘na’ itu.
8. Menulis huruf dipasir.
9. Menuliskan nama teman-temannya.
10. Mencocokkan gambar dengan tulisan. Misalnya tulisan ‘rumah’ dicocokkan pada gambar yang sesuai
dan banyak lagi, Anda bisa menambahkan pada kolom komentar kami ^^.
11. Menggunakan software permainan yang mendukung kemampuan membaca.

Dan lain sebagainya, Anda bisa menambahkan kegiatan mengasyikkan lainnya yang Anda tahu, pada kolom komentar dibawah ini ^^

Perlu diingat! Jangan berikan tantangan yang terlalu sulit pada awal-awal berlatih. Biasanya akan membuatnya jera untuk mencoba. Tetapi berikanlah yang termudah, InsyaAllah ia akan dengan mudah mengerjakannya. Dengan demikian ia jadi percaya bahwa dirinya bisa! dan bisa menyelesaikan hal lainnya lagi yang lebih sulit. InsyaAllah Ta’ala.

Gambar diambil dari indonetwork.

Read Full Post »

Copas dari webnya Mbak Andini Joichi Ito, dari Jepang, terpilih menjadi direktur Media Lab di Massachusetts Institute of Technology (MIT) meskipun tidak memiliki ijazah dari universitas, dengan mengalahkan 250 kandidat. Prestasi dan perjalanan kariernya luar biasa sekali. Selengkapnya baca di situs New York Times:

M.I.T. Media Lab Names a New Director.
JOHN MARKOFF
Published: April 25, 2011
Joichi Ito is a 44-year-old Japanese venture capitalist who does not have a college degree but has worked with several Internet organizations and invested in start-ups.

Jabatan universitas bergengsi pasti tidak jatuh begitu saja dari pohon, perjuangannya seperti apa ya, pasti mahaberat. (MIT gitu loh! MIT! Masuk kuliah ke sana aja susah setengah mati, apalagi jadi direktur lab.). Aku membayangkan, mungkin orang-orang sekeliling dia mencemooh,”Ijazah S1 aja nggak punya, kok mau jadi direktur lab MIT. Mimpi kaliiii… Kamu nggak mungkin terpilih.”
Joichi Ito mungkin bilang,”AKU NGGAK PERCAYA.” Dia mencalonkan diri, dan karena prestasi dan reputasinya memang luar biasa, dia mengalahkan 250 kandidat lain yang punya ijazah profesor doktor. Mungkin …

———

Memang kalau hanya memikirkan tentang ijazah, keasyikan homeschool bisa hilang ^^

Read Full Post »

Older Posts »