Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Math’ Category

Kemarin ketika kami ber”lebaran” ke rumah saudara, beliau bercerita kalau anaknya kursus disuatu lembaga kursus. Diantara kursus yang dimasukinya adalah kursus metematika, harga kursus disana disebutkan sekitar Rp. 1,5 jt. Saya yang mendengarnya lumayan bersyukur, karena kami tidak harus mengeluarkan kocek sedalam itu untuk sebuah kursus yang namanya matematika.

Internet adalah suatu tempat belajar yang sangat luas dan murah. Misalnya untuk belajar matematika, anak kami menggunakan IXL math. IXl math adalah suatu situs belajar online untuk anak usia pra sekolah sampai kelas 6 SD. Bentuknya adalah drill soal-soal. Harganya juga lumayan murah bila dibandingkan lembaga kursus disekitar rumah kami, apalagi bila kita dapat berlangganan secara rombongan. Seingat saya, saya hanya membayar Rp. 100rb/th untuk satu orang anak. Karena kami menggunakan dua akun untuk dua anak, jd kami membayar Rp. 200rb untuk satu tahun.

Alhamdulillah, awalnya anak kami merasa sulit untuk menyesuaikan diri. Apalagi bila ia salah menjawab, poin perolehan akan dikurangi, dan itu cukup membuat kesal. Tapi, alhamdulillah karena ada hadiah gambar lucu sesudahnya dan juga laporan berkala, jadi lama kelamaan ia merasa senang kembali. Sampai tadi pagi, anak pertama kami sudah menyelesaikan 2500 soal untuk tingkat kelas dua ^^

Sengaja kami pilihkan kelas dua, secara bahasa yang digunakan adalah bahasa inggris. Untuk soal-soal geometri, pengukuran, belajar jam dan soal cerita, anak kami harus memahami kata perkata. Lain halnya dengan soal hitungan, kadang tidak perlu membaca soalnya, sudah tahu jawabannya. Tentu saja tidak mudah baginya, kadang ada satu atau lebih kata yang tidak ia mengerti. tapi ada goole terjemah yang membantunya menterjemahkan bila ada kosa kata yang tidak paham.

Selain latihan, award untuk anak, orangtua juga akan mendapatkan laporan berkala mengenai perkambangan anak-anaknya. Atau bisa juga memantau kegiatan anak-anak melalui situsnya secara langsung. Untuk belajar online ixl math, anak kami menggunakan waktunya antara 5-10 menit setiap harinya. Jadi lama kelamaan ternyata banyak juga yang sudah diselesaikan.

Mengenai matematika lagi, ada juga kurikulum matematika online yang bisa kita unduh secara gratis. MEP atau Centre for Innovation in Mathematics Teaching ini bisa digunakan secara ofline, tentunya harus diunduh kemudian di print dulu untuk bisa digunakan. Mengenai MEP dan bagaimana situs ini banyak yang merekomendasikan, bisa Anda baca ceritanya disini.

Ada juga game matematika online gratis. Anak kami sering menggunakan hoodamath sebagai salah satu game yang dimainkan.

Iklan

Read Full Post »

Hoodamath

Maaf, saya tidak dapat dengan lancar mengupdate blog ini lagi. Walau proses sekolah rumah kami tetap berjalan dengan aneka banyak cerita, tetapi menuliskannya rupanya membutuhkan effort yang tidak sedikit juga ^^ MasyaAllah..

Tidak terasa kini anak kami Abbas telah menyelesaikan buku matematika kelas 2 nya. Kebetulan kami memakai kurikulum diknas, kami ikuti saja alur topik yang ada di buku. Selanjutkan kami kembangkan masing-masing sesuai dengan topik saat itu. Alhamdulillah anak kami, Abbas telah mengenal perkalian dan pembagian sederhana. Begitu juga bila masuk soal cerita, Ia lumayan suka dengan itu. Mungkin sedikit menantang dibandingkan hanya angka dikali angka, atau angka dibagi angka…^^

Dalam belajar matematika, Abbas juga menggunakan game online sebagai sarana belajar dan bermainnya. Abbas menggunakan situs Hoodamath untuk mengasah kemampuan logika dan berhitungnya. Di situs tersebut ada geometry, arithmetic dan logic games. Abbas lebih sering main logic game. Disana juga ada game jualan lho, kami pernah jualan kopi, es dan mengolah properti ^^

Read Full Post »

Math, jam 2

Salah satu cara belajar yang kami gunakan adalah dengan bermain. Seperti kali ini Abbas belajar tentang jam. Beberapa waktu yang lalu kami juga belajar tentang jam, hanya saja kali ini kami mulai memasukkan soal-soal cerita di dalamnya. Untuk penyebutan jam juga sekali lagi kami bedakan penyebutan jam untuk pagi dan malam hari sesuai dengan kaidah bahasa indonesia. Misalnya Pk. 08.45 malam, akan dikatakan Pk. 20.45.

Permainan pertama, kami bertindak menjadi jarum panjang dan pendek sebuah jam. Di lantai rumah, saya menggambar sebuah jam besar lengkap dengan angka 1 sampai 12 di dalamnya. Kemudian, ada yang bertindak menjadi jarum panjang, ada yang menjadi jarum pendek, dan ada yang memberikan instruksi. Alhamdulillah Ayah abbas dan Yasmin juga bisa ikutan. Cara mainnya, saya akan meminta jarum panjang dan jarum pendek untuk menujukkan Pk. 13.15, maka si jarum pendek akan berjalan menuju angka satu dan si jarum panjang ke angka tiga. Perjanjiannya, ketika ada yang salah menunjuk angka akan diganti oleh pemain yang lain. Alhamdulillah permainan tidak ada yang salah, jadi si pemain rupanya harus diganti dengan paksa. Hehe…

Ketika giliran Yasmin yang main, dia menjadi jarum pendek, dan soal-soal hanya menunjukkan angka-angka dari 1 sampai 12 saja. Alhamdulillah permainan berjalan asyik dan lancar. Sebagai ortu, saya perlu menambahkan antusiasme dan rasa riang dalam permainan ini. Agar anak-anak ikut merasa gembira dan senang dengan jalannya permainan.

Permainan kedua mengenai jam adalah dengan menggunakan peta. Misalnya kita memakai peta pulau jawa. Kita sepakati bahwa kita berangkat dari Jakarta Pk. 08.00 dan akan tiba di Yogyakarta Pk. 16.15, maka berapa lama perjalanan yang kita tempuh? Pertanyaan dapat juga dibalik menjadi: jam berapa kita akan sampai di yogya yha, kalau waktu tempuhnya 8 jam 30 menit. Karena menggunakan peta, kita bisa memakai kota-kota besar lainnya sebagai tujuan kita.

Permainan ini saya modifikasi dari buku tematik grasindo.

Read Full Post »

Dalam belajar matematika, dulu saya ingin membantu Abbas berhitung. Bila ada soal 7 + 5, saya katakan tujuhnya di mulut Bas, limanya di tangan. Abbas tidak mengindahkan saya, dan tetap dengan caranya berhitungnya. Saat itu saya katakan, “ya gpp… yang penting hasilnya benar.” Padahal begitu khan cara guru saya dulu mengajar.

Begitu juga dalam perkalian, saya sudah mengenalkan konsepnya dari jauh-jauh hari. Alhamdulillah, belajar perkalian juga lancar. Walau bukan hafal perkalian, tetapi Abbas paham maksudnya. Jadi ketika ada permainan lomba menjawab matematika, Abbas tidak kelimpungan seperti beberapa temannya. “Ini pakai tambah, kurang, kali atau bagi sih umminya Abbas”… ^^ MasyaAllah.

Hingga ketika Abbas masuk pada belajar pembagian. Saya sudah bingung duluan, gimana nih cara ngenalinnya. Supaya mudah dicerna, gitu lho. Eng…ing…eng, pas duduk, saya katakan misalnya ada 8 pensil, ingin dibagikan ke 4 orang anak. Satu anak mendapat berapa pensil. Saya sudah bersiap dengan 100-an tusuk pensil sebagai alat peraga. Lalu Abbas menjawab, “Dua!”. MasyaAllah… ketika saya coba lagi, ia menjawab betul lagi. Hei… saya khan belum menggunakan tusuk gigi ini protes saya dalam hati ;p

Begitu juga ketika Abbas mengerjakan worksheet yang saya ambil dari Houghton Mifflin. Ada soal 6 : 2, Abbas langsung mengisinya 3. “Dibuletin dulu Bas, seperti contoh,” kata saya. Dalam contohnya memang dia harus membuat bulatan-bulatan untuk menegaskan maksud pembagiannya. Eh dia malah memandang saya aneh…^^

Saya kemudian hari baru tau, ketika Abbas anak pertama saya menghitung seperti soal diatas, 7 + 5, maka yang ada dalam otaknya adalah 7 buah (tabung mungkin) dari 10 tabung yang dia ingat. Ketika dikatakan tujuh, maka otaknya memproses bahwa yang kosong tinggal 3 tabung. Maka ketika ditambahkan 5 akan jadi lebih cepat. Yaitu tinggal tambahkan 2 tabung lagi. Jadi ketemu deh hasilnya 12. Hmm… kemudian hari saya akui cara tersebut lebih gampang dan mudah, dari pada harus di mulut dan di tangan ^^

Read Full Post »

Cerita dibawah ini sebenarnya tulisan ayahnya abbas dan saya berencana mau menjadikannya sebagai buku bacaan bagi Abbas. Menurut kami, penting bagi seorang muslim untuk belajar matematika. Terutama mengenai timbangan dan takaran (berat dan volume), karena hal tersebut menyempurnakan timbangan dan takaran tertulis dalam Al Qur’an. Bagaimana seorang muslim harus memahami tekhnik perhitungan yang baik, dan juga bersikap amanah. Saya postingkan sedikit cerita mengenai timbangan, InsyaAllah kalau penulisnya (ayah abbas) ada waktu akan ada lanjutan mengenai takaran ^^

Sempurnakanlah timbangan

Anakku,
hari ini kita akan berkenalan dengan timbangan. Kamu tentu sudah tau apa itu timbangan. Timbangan itu alat yang digunakan untuk mengetahui berat suatu benda. Misalnya saja ketika ummi membeli jeruk 2 kilogram, maka berat benda (jeruk) adalah 2 kilogram. Contoh lain misalnya berat badan Ayah 72 kilogram, dokter memberi obat 5 miligram, Nenek membeli perhiasan emas seberat 20 gram, jembatan yang baru dibuat itu mampu menahan beban 100 ton, Paus biru bobotnya 30 ton, Amphicoelias diperkirakan bobotnya 30 ton, dan seterusnya. Coba bisakah kamu menemukan contoh berat yang lainnya?

Penting lho belajar mengenai timbangan. Apalagi kalau kita ingin menjadi pedagang, dokter, arsitek, insinyur, dll. Kalau kita jadi pedagang, maka Allah melarang kita untuk mengurang-ngurangi timbangan. Kalau kita bilang jual jeruk 1 kilogram, maka kita harus memastikan bahwa jeruk yang dijual beratnya tidak kurang dari 1 kilogram. Kalau kita jadi insinyur, maka Allah juga melarang kita untuk mengurang-ngurangi timbangan benda-benda yang kita buat. Misalnya kita membuat jalan yang menghabiskan aspal 5 ton, maka kita katakan bahwa jalan ini menghabiskan aspal sebanyak 5 ton. Tidak boleh mengatakan bahwa aspal yang digunakan adalah 10 ton atau 3 ton. Kalau kita menjadi dokter, maka tidak boleh memberikan resep yang seharusnya 5 miligram dengan obat yang 3 miligram saja. Demikian pula kalau kita menjadi pedagang emas.

Begitu pentingnya masalah takaran dan timbangan ini, sampai-sampai ada didalam Al Qur’an:
“Dan kepada penduduk Madyan, kami (utus) Syua’ib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada tuhan selain Ia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikitpun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman.” (Qur’an surat Al-A’raaf : 85)

Nah, apa yang terjadi yha kalau ternyata kita tidak paham cara menimbang? Bisa saja merugikan orang lain ataupun merugikan kita. Sebagai umat  Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam kita diwajibkan untuk betul dalam menimbang, serta tidak boleh mengambil milik orang lain.



Read Full Post »

Kemarin Abbas belajar tentang alat ukur panjang. Dengan menggunakan jengkal, depa (ukuran dengan kedua tangan dibentangkan), benang dan penggaris (centi meter). Abbas mengukur papan tulis, buku, meja, pintu, halaman rumah, sampai panjang rumah dengan menggunakan jengkal dan depa. Lucunya ketika saya minta untuk mengukur panjang rumah dengan ukuran depa, Abbas langsung berkomentar “Hah… nggak apa-apa deh. Untung pakai ukuran depa, bukan pakai ukuran jengkal. Kalau jengkal cape deh Abbas.” Hihi…

Lucunya lagi, karena alat ukur jengkal dan depa ini bukan alat ukur standar. Jadi jumlah ukuran tentu berbeda antara Abbas dan Yasmin. Apalagi dengan Hana (bayi berumur belum 2 bulan-pun) ^^ Ketika kami mengukur buku, Abbas mengatakan 2 jengkal, Hana bisa 5 jengkal. Saya yang mengangkat tangan Hana untuk ikut-ikutan mengukur. Abbas dan Yasmin tertawa-tawa geli melihatnya.

Nah, paginya entah bagaimana jalan ceritanya Ayah menantang Abbas apakah dia mengetahui jumlah rambutnya. Abbas mengatakan tidak mungkin manusia tahu jumlah rambutnya… Terus cerita sampai kepada pertanyaan, tahu nggak berapa panjangnya negara Amerika itu? Abbas bingung, aduh bagaimana cara ukurnya? Nanti disuruh hitung pakai jengkal lagi. Mulai deh kami saling ledek-ledekan. Saya mengatakan ada satu cara mengetahuinya. Abbas berlari mendekati saya, agar saya berbisik padanya (maksudnya supaya tidak didengar ayahnya). Saya katakan padanya tentang skala pada peta. Abbas sedikit familiar mengenai skala ini, berhubung hobinya pada dinosaurus selalu dikelilingi oleh skala perbandingan antara dinosaurus dan manusia. Mulailah Abbas terlihat tertarik.

Siangnya kami mulai mengambil peta dan penggaris. Saya ukur negara amerika secara sederhana, didapatlah panjang 7 cm. Skala perbandingan 1 : 60.000.000. Saya menuntun Abbas, kalau 1 cm sama dengan panjang sebenarnya 60.000.000 cm. Kalau 2 cm jadi berapa Bas? Abbas menjawab,”Ooo… ditambahkan aja enamnya yha… hmmm… jadi 120.000.000.” “Betul,” kata saya. Saya tanya lagi kalau 3, kalau 4… dst. Sampai kalau 7cm, Abbas menjawab 420.000.000 cm!

“Wah… panjang sekali yha,” begitu komentar saya. Kalau dijadikan ke kilometer (km) gimana yha Bas? (kebetulan Abbas juga sudah agak familiar dengan kilometer karena hobi dinosaurusnya itu). “Iya, bagaimana tuh Mi?” tanya Abbas. Saya kemudian membuatkan anak tangga yang menggambarkan ukuran dari kilometer sampai mili meter. “Centi meter ke kilo meter sepertinya dikurangi nolnya lima Bas ,” kata saya sambil memperlihatkan anak tangga satuan ukur panjang. “Jadi 420.000.000 cm sama dengan 4.200 km,” kata saya menegaskan. Yang terjadi kemudian kami saling bergantian bertanya… Abbas bertanya kalau negara australia berapa panjangnya. Satuan ukur panjang juga kami rubah-rubah.

Abbas kemudian bertanya, “kalau ini apa mi?” katanya sambil menunjuk satuan ukur dekameter (yang saya tulis dam). “Dekameter,” jawab saya. “Berapa panjangnya?” tanyanya lagi. “Satu deka meter sama dengan sepuluh meter,” jawab saya. Abbas kemudian langsung berdiri, dan mulai menghitung ubin dirumah. Saya memang sering mengatakan bahwa tiga ubin dirumah kami sama dengan satu meter (walau tidak benar persis seperti itu ;p). Jadi Abbas melompat-lompat, melompati tiga ubin sampai didapatkan sepuluh kali lompatan tiga ubin, hingga ke dapur rumah kami. “wah panjang sekali yha!” ujarnya takjub. “Bagaimana kalau yang ini?” tanyanya sambil menunjuk tangga km (kilo meter). “Kalau itu sepuluh kalinya hekto meter,” jawab saya. “Kok begitu?” tanyanya. “Menurut Abbas ini (hekto meter) sepuluh kalinya ini (kilometer),” koreksinya kemudian. Hehe… Abbas benar. Bahasa dan maksud yang ingin saya sampaikan rupanya tidak sinkron dengan apa yang saya ucapkan. Alhamdulillah, walaupun sederhana saya lihat Abbas sudah memahami konsep satuan untuk mengukur panjang.

Read Full Post »

Matematika game

Pola belajar setiap HSer tentu saja beragam, kadang untuk abang-adik pun bisa berbeda. Apalagi antara keluarga HSer, mungkin bisa jadi jauh berbeda. Jadi, saya suka bingung bila ada yang bertanya mengenai cara belajar. Definisi belajar di keluarga kami mungkin saja bisa berbeda dengan definisi belajar di keluarga lain. Misalnya bila kami menganggap nonton TV serial dunia laut dolphino adalah termasuk belajar, maka belum tentu keluarga lain menganggapnya demikian. Jadi agak susah mendefinisikan makna belajar, bila yang dimaksud penanya adalah duduk diam dan mengerjakan kertas kerja.

Kami juga melakukan drilling latihan soal, tapi dalam kenyataannya drilling tersebut tidak mengharuskan HSer kami untuk duduk diam mengerjakan Soal. Abbas masih bebas untuk menyambinya dengan kegiatan lain, semisal berlari-lari, loncat-loncat, menggoda adiknya ^^ dan lain sebagainya.

****

Alhamdulillah Abbas sudah memasuki buku kelas dua, untuk pelajaran matematika. Padahal bila ditotal sebenarnya Abbas hanya belajar 2-3 jam perharinya. Belum ditambah dengan hari libur dua hari seminggu ^^. Sisa waktu biasanya dimanfaatkan olehnya untuk main game offline/online ^^, baca buku, nonton TV, menggambar dinosaurus, dan bermain dengan adiknya atau bermain di luar.

Mengenai game online, Abbas kebetulan sedang asyik-asyiknya main game Monster Galaxy menggunakan account facebook saya dan ayahnya. Saya sendiri tidak terlalu bisa menikmati permainan game online, tapi Abbas dan ayahnya terlihat asyik sekali. Saya melihat tampilan grafiknya InsyaAllah tidak terlalu cepat dan sesuai sebenarnya untuk anak-anak. Manfaat yang diambil saya tidak tau pasti, tapi dalam setiap pertandingan akan ada score sendiri. Pemain memiliki beberapa monster yang akan melawan monster musuh. Para monster akan saling menyerang bergantian, setiap serangan akan mengurangi poin kesehatan lawan. Memilih monster mana yang harus diturunkan melawan musuh, ternyata membutuhkan perhitungan yang matang. Setiap monster memiliki kemampuan yang unik sehingga pemain harus memilih monster mana yang paling cocok untuk melawan tipe monster musuh yang sedang dihadapi. Hehe… jangan bayangkan monster-monster yang berwajah seram yha. Dalam game ini monsternya mungil-mungil, tiruan dari binatang-binatang dengan berwarna-warni. Dari game ini, Abbas bisa melihat sendiri praktik matematika dalam hal yang ia sukai. Misalnya jika musuh memiliki poin kesehatan 38, Abbas memahami jika serangan berikutnya lebih besar dari 38 maka ia akan menang. Sering Abbas berteriak, “wow serangan kita 127 critical, lawannya tinggal 68. Kita menang nih.” Lama kelamaan ketika Abbas harus mengurutkan bilangan secara acak sampai 500 saya tidak perlu mengajarkan lagi, mana yang lebih besar mana yang lebih kecil.

Begitu juga dengan kegemarannya dengan buku dinosaurus. Abbas pernah membuat perbandingan tinggi masing-masing dino bila dibandingkan manusia viking (katanya, manusia yang besar sekali). Saat itu Abbas memakai buku kotak-kotak kecil, agar skalanya bisa sesuai. Kalau sudah berurusan dengan kegemarannya (dinosaurus), Abbas kebanyakan bisa saya tinggal untuk menyelesaikan pekerjaan lainnya. Selain itu Abbas juga membuat kolom juara berat dino, di buat dalam kilogram. Siapa dino juara yang paling berat, dan lain sebagainya. Abbas juga senang mengelompokkan dinosaurus-dinosaurus tersebut kedalam zamannya masing-masing mereka hidup. Saya pikir yang dilakukannya juga termasuk kedalam pelajaran matematika, hanya saja tanpa buku atau kertas kerja yang harus diisinya. Semua berjalan natural saja. Manfaat lainnya yang saya rasakan dari kegemarannya akan dino, Abbas terbiasa melihat peta. Menyenangkan bagi Abbas melihat Canada (misalnya), tempat ditemukannya fosil dinosaurus.

Pernah juga kami bermain jualan-jualanan pisang. Ceritanya saya penjual yang tidak pandai berhitung yang membutuhkan seorang asisten yang pandai berhitung (Abbas). Saya mengelompokkan brick-brick untuk dia bayangkan sebagai pisang. Brick 3 blok untuk ratusan, 2 blok untuk puluhan dan 1 blok untuk satuannya. Ratusan berisi pisang 100 buah (satu tandan besar), puluhan berisi pisang 10 buah (satu tandan kecil), dan satuannya yang sudah terpecah dari tandannya. Pembelinya juga kami khayalkan, berhubung Abbas ikutan jadi penjual, jd pembelinya ada monyet, gajah, burung, jerapah dlsb. Angka dimulai dari yang kecil, kemudian makin membesar ketika usaha makin berkembang. Bayangkan kerepotan asisten saya (abbas) bila ada yang memesan pisang sebanyak 127 buah pisang. Dia harus memasukkan 1 ratusan, 2 puluhan, dan 7 satuan. Jika tidak ada 7 satuan pisang, dia harus membongkar brick bagian puluhan. begitu juga bila brick puluhan sudah habis, dia harus membongkar brick ratusan. Hehe… terakhir ketika angka sudah sampai kepada ribuan, abbas kemudian lari keluar kamar dan kembali dengan kalkulator di tangannya ^^ seru sih, Abbas terus minta-minta lagi, sayang saya harus menyiapkan makan siang. Ide permainan tersebut saya dapatkan dari salah satu buku Edutivity, judulnya Baba Gorilla Menjual Apel ^^

Eh, tidak terasa kok sudah masuk bab satu buku kelas dua. Padahal rasanya belajar kami santai-santai saja. Saya juga sempat menjahit membuat 3 baju untuk saya sendiri, xixixi ^^

Read Full Post »

Older Posts »