Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘parenting’ Category

Dulu sekali, saya belum mengajarkan perkara aqidah ini kepada anak pertama kami. Karena saya tidak berfikir ia belum paham permasalahan ini. Ternyata tidak demikian, itu hanya ketakutan saya saja…  anak-anak ternyata mudah menerimanya… Mungkin karena memang sesuai dengan fitrah mereka sebagai hamba Allah.

Seperti contoh percakapan disuatu pagi:
Ummi: Nama kamu siapa sih?
H : Fulanah
Ummi: Ayah kamu siapa?
H: B*
Ummi: Ayah lagi dimana?
H: Di kanto(r)
Ummi: Kalau ibu kamu namanya siapa?
H: Ali cucanti (;p)
Ummi: Memang ibu kamu ada dimana?
H: Ini ummi (sambil nunjuk emaknya)
Ummi: Ohh… ini ibu kamu yha? aku pikir ini ummi kamu?
Cengar-cengir… ngambil jeda

Ummi: Hana, Kalau Tuhan kamu siapa?
H: Allah
Ummi: Allah ada dimana?
H: Dilangit (sambil menunjuk langit).

===========
Pelajaran ini saya ambil dari buku: Pelajaran Aqidah, Hikmah Anak Sholih, hal 14-15
Di mana Allah?

Kalau engkau ditanya di mana Allah?
Jawablah Allah di atas langit
Allah bersemayam, tinggi dan naik di atas ‘Arsy
Apakah ‘Arsy itu?
‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar
‘Arsy juga makhluk yang letaknya paling tinggi
‘Arsy berada di atas langit ketujuh.

Allah Azza wa Jalla berfirman:
” Ar rahman (Dzat Yang Maha Penyayang) Beristiwa’ (Bersemayam, tinggi dan naik) di atas ‘Arsy” (QS. Thoha:5)

Pada suatu hari rasulullah shallallahu ‘alayhi bertanya kepada seorang budak perempuan,
“Di mana Allah?”
Budak itu menjawab:
“Diatas langit”
Kemudian Rasulullah bersadba,
Bebaskan budak itu karena sesungguhnya dia adalah seorang yang beriman.” (Riwayat Muslim)
===============================

Allah telah memberitakan dalam Al Qur’an mengenai dirinya yang berada di Arsy. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga telah mencontohkan cara mengajari seseorang dan mengetahui keimanan seseorang dengan bertanya, “Di mana Allah?”. Ketika budak tsb menjawab, “Diatas langit.”
Maka Rasulullah mengatakan, “Bahwa sungguh ia seorang yang beriman.”
Ini sungguh pengakuan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Jadi termasuk keimanan adalah meyakini Allah ada dilangit yang paling tinggi, sesuai dengan apa yg difirmankan Allah, dan disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

 

Read Full Post »

Ini adalah tulisan Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A, yang dibagikan oleh Ummu Abdirrahman di facebook. Awal mula tulisannya ini seperti yang diceritakan sendiri oleh Ustadz Abdullah Zaen, “Di bulan Ramadhan tahun ini, kami mendapat amanah untuk mengimami shalat Tarawih dan Subuh di Masjid Agung Darussalam Purbalingga selama lima hari. Masih dalam rangkaiannya, kami ditugaskan untuk memberikan kuliah Tarawih dan kuliah Subuh. Kebetulan materi pengajian Tarawih seputar pilar-pilar penting dalam mendidik anak.

Karena banyaknya permintaan dari jama’ah, bahan materi tersebut kami kumpulkan dalam bentuk makalah yang kami beri judul “Jurus Jitu Mendidik Anak”. Tentu masih terlalu jauh dari  format sempurna, namun semoga yang sederhana ini bisa bermanfaat bagi kita semua….”

Jurusnya sederhana, kata-katanya juga sederhana tapi indah, membuat sadar siapa yang membacanya –insyaAllah– akan tanggung jawab mendidik anak. Saya copas secara bertahap untuk perenungan saya pribadi juga share saya kepada teman-teman. Semoga postingan ini dapat bermanfaat untuk saya dan kaum muslimin yang membacanya. Aamiin.

JURUS PERTAMA: MENDIDIK ANAK PERLU ILMU

Ilmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya.

Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.

Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua.

Padahal, menjadi orangtua harus berbekal ilmu yang memadai. Sekadar memberi mereka uang dan memasukkan di sekolah unggulan, tak cukup untuk membuat anak kita menjadi manusia unggul. Sebab, sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap.

Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya.

Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas.

Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang!

Ilmu apa saja yang dibutuhkan?

Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai varianya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.

Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,

“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”.

“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.

Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Demi merealisasikan wasiat Nabi shallallahu’alaihiwasallam untuk para orangtua,

“مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْر”.

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur sepuluh tahun”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.

Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu kepada orang lain?

Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, tidak lupa adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.

Dalam hal ini Nabi shallallahu’alaihiwasallam mempraktekkannya sendiri, antara lain ketika beliau bersabda menasehati seorang anak kecil,

“يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ”.

“Nak, ucapkanlah bismillah (sebelum engkau makan) dan gunakanlah tangan kananmu”. HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah.

Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.

Ayo belajar!

Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!

Gambar diambil dari infomuslimah.com

Read Full Post »

Alhamdulillah ramadhan sudah berlalu delapan hari. MasyaAllah… saya merasa ramadhan kali ini cepat sekali berlalu. Atau saya saja yang merasa demikian yha…;p Anak-anak kami sudah mulai berpuasa tahun ini. Si sulung cukup membanggakan saya, ia dua hari berbuka di waktu ashar, dan sisanya ia berbuka ketika maghrib. MasyaAllah…
Begitu juga dengan anak kedua kami, ia berbuka jam 10 atau ketika dzuhur. Pernah berbuka jam setengah dua, tapi itu karena ketiduran. Hehehe…

Saya katakan, bila berpuasa sampai dzuhur ada pahala dari Allah –insyaAllah– karena telah belajar berpuasa. Juga ada hadiah dari ummi lho… hadiahnya es krim ^^ Padahal ia juga biasa makan es krim. Tapi dibulan ramadhan sepertinya es krim terasa lebih istimewa. Kami juga mengisi pohon ramadhan dengan gambar-gambar apel yang penuh. Walau puasa hanya setengah hari, yasmin tidak mau apelnya setengah, hehehe…

Saya sedang berusaha memberikan motivasi dan motivasi untuk beribadah kepada Allah. Motivator yang terbaik tentu adalah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam. Ketika pada perang Badr, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam berkata, “Bangkitlah menuju surga seluas langit dan bumi.” …  Maka segera bangkitlah Umair bin Hamam menuju jihad sampai dia tidak mempunyai cukup waktu untuk kurmanya. (Shahih Muslim, Kitab Al-Jihad, Bab Tsubut Al-Jannah lisy Syahid, no. 4892) MasyaAllah… begitu contoh Nabi kita yang mulia Muhammad -shalallahu ‘alayhi wa sallam-

Beibi cantik kami bulan ini sudah mulai makan, Alhamdulillah. Saya merasa mudah dalam menjalankan puasa tahun ini. Saya racik-racik menu tunggal untuknya. Ditambah dengan buah-buah segar. Alhamdulillah jogja murah dan ramah, hingga buah seribu rupiah masih bisa didapat. Semua adalah karunia Allah Azza wa Jalla.

Gambar diambil dari ummiscircle.blogspot. Klik digambar untuk menju link.

Read Full Post »

What I hear, I forget
What I see, I remember
What I do, I understand
(Confusius)

Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya lakukan, saya paham.
(Confusius)

What I hear, I forget
What I hear, see, and ask question about or discuss with someone else, I begin to understand.
What I hear, see, discuss, and do, I acquire knowledge and skill.
What I teach to another, I master.

Apa yang saya dengar, saya lupa.
Apa yang saya dengar, lihat, tanyakan atau berdiskusi dengan seseorang, saya mulai paham.
Apa yang saya dengar, lihat, diskusi dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan.
Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya menguasainya.
(Mel Siberman, Active Learning)

Melengkapi postingan saya mengenai Learning Pyramid, rasanya perkataan diatas  cocok untuk menerangkan gambar tersebut. Secara jika kita belajar dari mendengar saja, ternyata kata-kata yang terserap hanya sedikit. Apalagi untuk anak-anak, dengan kecapatan guru bicara kadang mungkin yang terserap hanya sekian persen. Jadi mulailah dikenal konsep ‘Active Learning’. Seperti gambar disamping ini.

Sayangnya walau paham bahwa active learning adalah cara yang lebih baik untuk belajar, tapi saya tetap kekurangan ide untuk mempraktekkannya dengan anak-anak. hahaha…. Jadi belajar lagi sek…. ;p

Gambar diambil dari: edutechie.ws dan foundationcoalition.org

Read Full Post »

Ketika anak kedua kami berumur 3 tahun, ia sudah mulai mencoret-coret sesuatu. Tapi cara memegang alat tulisnya masih digenggam seluruhnya ;p Sayapun berinisiatif untuk bersama-sama berlatih memegang alat tulis bersamanya. Berikut seingat saya yang saya lakukan saat itu ^^

1. latihan memegang alat tulis yuk.
Ambil alat tulis yang anak inginkan. Apakah berupa crayon, pensil, pensil warna, pulpen dlsb. Setelah itu kita katakan jari telunjuk dan jempol dibentuk seperti senapan. Anda bisa mengatakan membentuk seperti huruf “L” atau angka “7” jika ia sudah mengenalnya. Berhubung anak saya lebih familiar dengan senapan mainan yang dimainkan anak tetangga, jadi saya katakan itu. Setelah itu, selipkan alat tulis diantaranya. Lalu tutup jari telunjuk dan jempol satu persatu. Buat itu seperti sebuah permainan, berilah penghargaan bila ia bisa melakukannya. Walaupun terkesan sederhana, tapi bagi anak melatih motorik halus mereka adalah sebuah perjuangan ^^

2. Sediakan media
Setelah ia terampil memegang alat tulis, sediakan medianya. Bisa dengan menggunakan kertas, papan tulis, kertas dibuku, kertas warna-warni atau apa saja yang membuatnya tertarik. Beragam media bisa membuatnya betah berlama-lama mencoba. Apalagi jika kita juga ikut menemani dan mencontohkan caranya. Variasi latihan juga bisa dengan mewarnai sebuah gambar, mengikuti garis, atau membiarkannya saja dulu membuat benang kusut ^^

3. Penghargaan
Penghargaan penting menurut saya, agar dia merasa diperhatikan. Penghargaan bisa dengan verbal, ciuman, atau memajang hasil karyanya.

Begitu sedikit share saya, semoga bermanfaat yah ^^

Read Full Post »

Saya mendapatkan gambar learning pyramid ini dari seorang guru sekolah jerman, Ines Setiawan. Ketika melihatnya pertama kali, gambarnya terkesan sangat sederhana, tapi memiliki arti yang mendalam untuk saya.

Piramida tersebut adalah hasil dari penelitian National Training Laboratories, Bethel, Maine. Begini kira-kira yang diterangkan oleh gambar tersebut. Konon tingkat retensi (bertahannya ingatan akan suatu ilmu, cmiiw) dilihat dari cara belajarnya seseorang adalah sebagai berikut:
1. Lecture (dari mendengarkan orang bicara)
2. Reading (dari membaca) 10%
3. Audiovisual (dapat dinikmati oleh mata dan telinga) 20%
4. Demonstration (dengan praktek) 30%
5. Discussion (dengan diskusi) 50%
6. Practice Doing (dipraktekkan kekehidupan nyata) 75%
7. Teach Others (Mengajarkan ilmu tsb pd orang lain) 90%

Ternyata tingkat retensi yang paling tinggi adalah bila kita mengajarkan ilmu tersebut pada orang lain, yaitu sebesar 90%. Kemudian saya membicarakan tentang jadwal belajar dan piramida ini dengan anak saya, Abbas. Hasilnya ia mau ada sesi “mister Abbas” dalam jadwal belajarnya. Dimana dalam sesi ini, ia akan mengajari saya pelajaran-pelajaran yang menurutnya penting untuk saya tahu. Jadi hari pertama saya sempat mendapatkan kuliah dari Abbas tentang zaman prasejarah. Bagaimana hiu zaman dulu berevolusi, menjadi hiu zaman sekarang, begitu katanya.

Begitu juga ketika menemui badak prasejarah yang berbulu lebat. Saya katakan, “Ah, masa badak bulunya lebat begitu…”. Lalu dijawab olehnya, “Ya mungkin saja Mi, khan dilihat dari zaman apa dia hidup.” Saya tanya lagi, “Lho kok? apa hubungannya zaman dengan bulu?”. Begini kira-kira jawabannya, “Kalau dia hidup dizaman es, dia harus berbulu lebat. Karena kalau tidak, badaknya bisa mati beku. Coba ummi inget khan, orang-orang eskimo perlu baju hangat yang tebal biar tidak membeku. Badak juga perlu bulu yang tebal.” MasyaAllah…. Demikian sedikit kisah belajar yang dikaruniakan Allah kepada kami. Alhamdulillah dari sesi mister abbas ini ia jadi terlatih setidaknya untuk berbicara, dan juga menyampaikan sesuatu.

Mengenai teori evolusi, tentu saja kami bukan penganutnya! Tapi kami (ayah abbas dan saya) berpendapat bahwa mengenalkan teori sains pd anak, bukan berarti menganutnya. Tapi mengenalkan saja bahwa ada fulan yang berpendapat demikian dan demikian. Allahu a’lam.

Kami telah belajar bahwa manusia pertama adalah nabi Adam alayhis salam. Alhamdulillah abbas dengan sendirinya bilang, mana mungkin monyet berubah jadi manusia dan manusia pertama itu adalah Nabi Adam. Sampai sekarang Abbas tidak bisa terima gambar manusia purba yang ada dibuku ensiklopedinya. Menurutnya Nabi Adam itu pasti ganteng. Yha iyalah, khan Nabi Adam alahissalam adalah manusia yang diciptakan langsung oleh tangan Allah Azza wa Jalla. Beda dengan manusia lainnya, yang ditiupkan ruhnya ^^

Kaitannya dengan dinosaurus, saya sendiri menganggap bahwa Dinosaurus itu adalah karunia Allah. Dengan adanya peninggalan fosil-fosilnya (bukti berupa tulang-tulangnya). Manusia diuntungkan dengan adanya fosil tsb yaitu berupa minyak bumi. Abbas juga pernah bilang, mungkin saja dino itu tinggi-tinggi, bukankah Nabi Adam juga setinggi gunung? Saya cuma senyum-senyum saja, terus inget perkataan Aisyah –radhiyallahu anha– ketika beliau ditanya tentang mengapa kudanya bersayap? Aisyah –radhiyallahu anha- menjawab “bukankah kuda Nabi Sulaiman bisa terbang?” ^^ Jawaban yang cerdas sekali, hingga Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam tertawa. Allahu a’lam.

Read Full Post »

Banyak orangtua yang ingin anaknya bisa membaca diusia dini. Sebenarnya itu keinginan yang wajar, asal diimbangi dengan pemahaman dan pengajaran yang sesuai. Orangtua mana yang tidak ingin anaknya cerdas? Saya juga berharap demikian ^^. Tapi jika kemudian jadi memaksa anak untuk bisa membaca hingga membuatnya kapok, hemmm… jangan deh. Karena bisa membaca itu adalah sebuah keahlian. Sedangkan esensi anak bisa membaca, agar mau membaca buku khan yha? sukur-sukur jadi cinta ilmu. Jika diawal saja anak udah kapok dengan pengalaman baca membaca. Bagaimana ia kemudian bisa menjadi anak yang suka membaca? bener nggak sih? Memori yang indah mengenai belajar membaca, mungkin saja menjadi tonggak utama anak untuk cinta membaca.

Saya belajar dari banyak teman mengenai mengajarkan anak membaca diusia dini, MasyaAllah. Beberapa saya praktekkan sendiri, sedang yang lain saya jadikan sebagai ilmu pengetahuan saja. Syukur-syukur kalau nanti dipakai untuk anak-anak kami lainnya ^^ Berikut beberapa usaha teman-teman yang saya tahu untuk mendampingi anak-anaknya bisa membaca:

1. Read Aloud (membaca buku bersama dengan bersuara).
Ini adalah metode terbaik menurut saya. Sebab didalamnya ada spirit kesenangan dari membaca. orangtua dan anak sama-sama penelusuri buku, membuatnya menjadi petualangan-petualangan yang mengasyikkan. Dari kegiatan ini ternyata ada lho anak yang lantas jadi bisa membaca, hanya dari read aloud bersama. Anak-anak ini merekam pola tulisan berulang yang dibacakan kepadanya. Hei, mungkin ada yang ingat buku berjudul “Matilda”, karya Roal Dahl. Iabisa membaca tanpa belajar membaca ^^ Komunitas Reading Bugs beberapa waktu mencanangkan agar orangtua mau sejenak meluangkan waktunya membaca bersama anak setidaknya 15 menit setiap hari.

Metode read aloud ini juga yang dipakai oleh para ulama salaf (terdahulu) dan khalaf. Mereka membacakan suatu kitab kemudian disimak oleh murid-muridnya. Metode ini bisa dipakai untuk semua umur, tidak hanya anak-anak. Anak kami yang pertama juga demikian, walau ia sudah bisa membaca, tetapi membacakannya suatu buku tetap hal yang mengasyikkan bagi kami.
Ada buku yang tuntas membahas tentang Read Aloud, judulnya Read Aloud Handbook, karya Jim Trelease, penerbit Hikmah.

2. Mengenalkan huruf
Anak-anak kadang belum memahami bahwa “buku” itu berawalan dari huruf “b”. Anak Anda begitu? jangan khawatir, anak kami Yasmin juga begitu. Agak sulit baginya menyadari bahwa “kodok” berawalan huruf “k”. Awalnya ia menduga itu berasal dari huruf “ko”, tetapi kemudian saya komunikasikan, bahwa tidak ada huruf “ko” yang ada adalah huruf “k”. Sedangkan yang ia bilang sebagai “ko” adalah merupakan suku kata.

Saat itu saya sering bermain tebak-tebakkan. “Ayo siapa tahu, apakah yang dimulai dari huruf ‘A’?, apakah batu, rumah atau apel.” Ia lalu menebak apel. Alhamdulillah lama kelamaan ia menyadari bahwa ada kaitan bunyi huruf, dengan huruf diawal kata. Setelah mengenal bahwa simbol itu melambangkan suatu bunyi/makna, maka masuk ke metode selanjutnya.

3. Metode fonik
Ini adalah metode membaca dengan suku kata, tidak dieja seperti jaman saya belajar membaca dulu. Misalnya mengenalkan “ba”, “ca” dst. Tetapi ada juga yang sekaligus mengenalkan “ba, bi, bu, be, bo.”

Seorang ibu dari anak homeschooler, pernah menuliskan ilustrasinya mengajarkan membaca pada anaknya. Ia memakai kertas karton yang bertuliskan “__a, __i, __u, __e, __o”. Hari pertama ia selipkan semua huruf b pada kertas itu. Hingga tulisannya menjadi “ba, bi, bu, be, bo.” Hari selanjutnya diganti dengan c dan seterusnya. Dengan metode ini menurut ibu tersebut, anak jadi memahami pola “a, i, u ,e, o” tersebut. Sehingga memudahkannya untuk mengenali suku kata, dan akhirnya mudah belajar membaca.

Bagi saya, ternyata cara ini kurang cocok. Secara anak saya (Yasmin, 4th 6bln) sering lupa lagi, lupa lagi :p Saya tidak ingin ia jadi tidak PD, karena ia sering lupa pada pola-pola itu. Jadi saya hanya mengenalkan satu suku kata saja setiap hari. Misalnya hari ini ia belajar “ba”, besok belajar suku kata “ca” dan seterusnya. Alhamdulillah ini mendongkrak PDnya, ia jadi senang menuliskan suku kata yang ia tahu. Misalnya “ta di pa gi a da ma ta ha ri.” Senangnya melihat dia bangga bahwa sudah dapat menyusun suku kata menjadi makna.

4. Metode Glen Doman
Metode ini mashyur menggunakan kartu flash. Dimana anak sudah di “flash” dengan banyak kata-kata sejak bayi. Misalnya kata “kapal”, ‘mama”… dituliskan seluruh katanya. Setelah itu kita flash kepada anak/bayi dengan durasi yang sangat cepat. Saya belum pernah mencoba memakai metode ini, mungkin juga karena saya terlanjur melihat VCD dari Discovery Chanel yang mengkritik metode ini. Tetapi ada pengalaman keluarga homeschooler yang menggunakan kartu flash untuk kata berbahasa inggris, berhasil. Hmm… bagus juga menurut saya. Secara kata dalam bahasa inggris memiliki pola yang berbeda dari bahasa indonesia.

Tetapi bila flash card diperuntukkan agar anak memiliki banyak kosa kata, boleh juga. Mungkin sama fungsinya dengan buku, yang membuat anak bisa melihat dunia dari sana. Tidak salah rasanya kalau buku disebut sebagai jendela dunia.

5. Mengeja
Nah, metode ini sepertinya sudah banyak ditinggalkan. Secara mengeja ‘mungkin’ memerlukan waktu yang cukup lama, dan energi yang lebih banyak. Tapi saya pernah bertemu beberapa orang guru, yang tetap percaya bahwa mengajarkan anak membaca dengan mengeja adalah tetap cara yang terbaik mengajarkan anak membaca.

Semua metode tersebut akan lebih asyik bila didukung oleh kegiatan yang juga mengasyikkan. Berikut sedikit ide kegiatan yang berkaitan dengan membaca dan menulis untuk anak usia dini:

1. Mencoba menebak huruf, atau kata yang tertera dijalan-jalan.
2. Mencoba menebak tulisan dibungkus belanjaan atau jajanan anak-anak kita.
3. Membuat kue berbentuk huruf.
4. Bermain puzzle huruf.
5. Bermain tebak kata.
Misalnya, “coba tebak hewan apa yang berawalan huruf ‘Z’?”.
6. Melompat sambil menebak huruf-huruf dalam kata.
Misalnya bisakah kamu menyebutkan huruf-huruf yang menyusun kata ‘kapal’? anak melakukan sambil melompat, ‘k’, ‘a’, ‘p’, ‘a’, ‘l’.
7. Menuliskan kata-katanya sendiri.
Agar memudahkan anak, menurut saya perlu untuk menuliskan contoh suku kata ditempat yang bisa ia lihat. Agar, ia bisa meniru dan menuliskannya dengan benar. Misalnya kita menulis ‘a, ba, ca, da…, za’ diatas kertas kreasinya. Kemudian anak mau menulis ‘ha na’, maka ia memilih sendiri (dengan melihat contoh yang kita tulis diatas) seperti apa huruf ‘ha’ dan ‘na’ itu.
8. Menulis huruf dipasir.
9. Menuliskan nama teman-temannya.
10. Mencocokkan gambar dengan tulisan. Misalnya tulisan ‘rumah’ dicocokkan pada gambar yang sesuai
dan banyak lagi, Anda bisa menambahkan pada kolom komentar kami ^^.
11. Menggunakan software permainan yang mendukung kemampuan membaca.

Dan lain sebagainya, Anda bisa menambahkan kegiatan mengasyikkan lainnya yang Anda tahu, pada kolom komentar dibawah ini ^^

Perlu diingat! Jangan berikan tantangan yang terlalu sulit pada awal-awal berlatih. Biasanya akan membuatnya jera untuk mencoba. Tetapi berikanlah yang termudah, InsyaAllah ia akan dengan mudah mengerjakannya. Dengan demikian ia jadi percaya bahwa dirinya bisa! dan bisa menyelesaikan hal lainnya lagi yang lebih sulit. InsyaAllah Ta’ala.

Gambar diambil dari indonetwork.

Read Full Post »

Older Posts »