Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Selayang Pandang’ Category

What I hear, I forget
What I see, I remember
What I do, I understand
(Confusius)

Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya lakukan, saya paham.
(Confusius)

What I hear, I forget
What I hear, see, and ask question about or discuss with someone else, I begin to understand.
What I hear, see, discuss, and do, I acquire knowledge and skill.
What I teach to another, I master.

Apa yang saya dengar, saya lupa.
Apa yang saya dengar, lihat, tanyakan atau berdiskusi dengan seseorang, saya mulai paham.
Apa yang saya dengar, lihat, diskusi dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan.
Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya menguasainya.
(Mel Siberman, Active Learning)

Melengkapi postingan saya mengenai Learning Pyramid, rasanya perkataan diatas  cocok untuk menerangkan gambar tersebut. Secara jika kita belajar dari mendengar saja, ternyata kata-kata yang terserap hanya sedikit. Apalagi untuk anak-anak, dengan kecapatan guru bicara kadang mungkin yang terserap hanya sekian persen. Jadi mulailah dikenal konsep ‘Active Learning’. Seperti gambar disamping ini.

Sayangnya walau paham bahwa active learning adalah cara yang lebih baik untuk belajar, tapi saya tetap kekurangan ide untuk mempraktekkannya dengan anak-anak. hahaha…. Jadi belajar lagi sek…. ;p

Gambar diambil dari: edutechie.ws dan foundationcoalition.org

Read Full Post »

Subhanallah… saya mendapat berita gembira dari seorang ibu HSer (Mira Julia), bahwa beberapa anak homeschool diterima diperguruan tinggai negeri. MasyaAllah….

Anak-anak ini bergabung dengan komunitas homeschooling berkemas, yang diasuh oleh Bu Yayah Komariah. Ketika saya konfirmasi dengan Bu Yayah ternyata dalam status facebooknya sudah tertera berita gembira seperti ini:

SELAMAT pada anak-anakku yg telah diterima di SNMPTN 2011:
1. Irfan Sjarief (Paket C), Fak. Teknik Otomotif – Univ. Negeri Padang
2. Rumaisha Rifdah Mukhlishah (UAN), Fak. Komunikasi – UI
3. Nadira (Paket C), Fak. Hukum – UI
4. Raffi Tarent (Paket C), Fak. Ekonomi – UI
5. Ryan Namora (Paket C), Fak. Hukum – UI
6. Raffta Bastari (Paket C), Fak. Sastra Jepang – UI
7. Masih konfirmasi nama, – Univ. Braw. Malang

Rumaisha Rifdah Mukhlishah adalah anak yang ikut ujian melalui sekolah setempat (umbrella school), dengan tambahan bahwa ia mendapatkan NEM tertinggi disekolah tempat ia menumpang ujian. Sedang anak HS yang lainnya mengambil ijazah dengan jalur kesetaraan (Paket C) juga tetap dapat berprestasi dan diterima di Universitas-universitas bergengsi tersebut.  MasyaAllah ini sungguh berita gembira bagi para homeschooler ^^

Read Full Post »

Saya mendapatkan gambar learning pyramid ini dari seorang guru sekolah jerman, Ines Setiawan. Ketika melihatnya pertama kali, gambarnya terkesan sangat sederhana, tapi memiliki arti yang mendalam untuk saya.

Piramida tersebut adalah hasil dari penelitian National Training Laboratories, Bethel, Maine. Begini kira-kira yang diterangkan oleh gambar tersebut. Konon tingkat retensi (bertahannya ingatan akan suatu ilmu, cmiiw) dilihat dari cara belajarnya seseorang adalah sebagai berikut:
1. Lecture (dari mendengarkan orang bicara)
2. Reading (dari membaca) 10%
3. Audiovisual (dapat dinikmati oleh mata dan telinga) 20%
4. Demonstration (dengan praktek) 30%
5. Discussion (dengan diskusi) 50%
6. Practice Doing (dipraktekkan kekehidupan nyata) 75%
7. Teach Others (Mengajarkan ilmu tsb pd orang lain) 90%

Ternyata tingkat retensi yang paling tinggi adalah bila kita mengajarkan ilmu tersebut pada orang lain, yaitu sebesar 90%. Kemudian saya membicarakan tentang jadwal belajar dan piramida ini dengan anak saya, Abbas. Hasilnya ia mau ada sesi “mister Abbas” dalam jadwal belajarnya. Dimana dalam sesi ini, ia akan mengajari saya pelajaran-pelajaran yang menurutnya penting untuk saya tahu. Jadi hari pertama saya sempat mendapatkan kuliah dari Abbas tentang zaman prasejarah. Bagaimana hiu zaman dulu berevolusi, menjadi hiu zaman sekarang, begitu katanya.

Begitu juga ketika menemui badak prasejarah yang berbulu lebat. Saya katakan, “Ah, masa badak bulunya lebat begitu…”. Lalu dijawab olehnya, “Ya mungkin saja Mi, khan dilihat dari zaman apa dia hidup.” Saya tanya lagi, “Lho kok? apa hubungannya zaman dengan bulu?”. Begini kira-kira jawabannya, “Kalau dia hidup dizaman es, dia harus berbulu lebat. Karena kalau tidak, badaknya bisa mati beku. Coba ummi inget khan, orang-orang eskimo perlu baju hangat yang tebal biar tidak membeku. Badak juga perlu bulu yang tebal.” MasyaAllah…. Demikian sedikit kisah belajar yang dikaruniakan Allah kepada kami. Alhamdulillah dari sesi mister abbas ini ia jadi terlatih setidaknya untuk berbicara, dan juga menyampaikan sesuatu.

Mengenai teori evolusi, tentu saja kami bukan penganutnya! Tapi kami (ayah abbas dan saya) berpendapat bahwa mengenalkan teori sains pd anak, bukan berarti menganutnya. Tapi mengenalkan saja bahwa ada fulan yang berpendapat demikian dan demikian. Allahu a’lam.

Kami telah belajar bahwa manusia pertama adalah nabi Adam alayhis salam. Alhamdulillah abbas dengan sendirinya bilang, mana mungkin monyet berubah jadi manusia dan manusia pertama itu adalah Nabi Adam. Sampai sekarang Abbas tidak bisa terima gambar manusia purba yang ada dibuku ensiklopedinya. Menurutnya Nabi Adam itu pasti ganteng. Yha iyalah, khan Nabi Adam alahissalam adalah manusia yang diciptakan langsung oleh tangan Allah Azza wa Jalla. Beda dengan manusia lainnya, yang ditiupkan ruhnya ^^

Kaitannya dengan dinosaurus, saya sendiri menganggap bahwa Dinosaurus itu adalah karunia Allah. Dengan adanya peninggalan fosil-fosilnya (bukti berupa tulang-tulangnya). Manusia diuntungkan dengan adanya fosil tsb yaitu berupa minyak bumi. Abbas juga pernah bilang, mungkin saja dino itu tinggi-tinggi, bukankah Nabi Adam juga setinggi gunung? Saya cuma senyum-senyum saja, terus inget perkataan Aisyah –radhiyallahu anha– ketika beliau ditanya tentang mengapa kudanya bersayap? Aisyah –radhiyallahu anha- menjawab “bukankah kuda Nabi Sulaiman bisa terbang?” ^^ Jawaban yang cerdas sekali, hingga Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam tertawa. Allahu a’lam.

Read Full Post »

Banyak orangtua yang ingin anaknya bisa membaca diusia dini. Sebenarnya itu keinginan yang wajar, asal diimbangi dengan pemahaman dan pengajaran yang sesuai. Orangtua mana yang tidak ingin anaknya cerdas? Saya juga berharap demikian ^^. Tapi jika kemudian jadi memaksa anak untuk bisa membaca hingga membuatnya kapok, hemmm… jangan deh. Karena bisa membaca itu adalah sebuah keahlian. Sedangkan esensi anak bisa membaca, agar mau membaca buku khan yha? sukur-sukur jadi cinta ilmu. Jika diawal saja anak udah kapok dengan pengalaman baca membaca. Bagaimana ia kemudian bisa menjadi anak yang suka membaca? bener nggak sih? Memori yang indah mengenai belajar membaca, mungkin saja menjadi tonggak utama anak untuk cinta membaca.

Saya belajar dari banyak teman mengenai mengajarkan anak membaca diusia dini, MasyaAllah. Beberapa saya praktekkan sendiri, sedang yang lain saya jadikan sebagai ilmu pengetahuan saja. Syukur-syukur kalau nanti dipakai untuk anak-anak kami lainnya ^^ Berikut beberapa usaha teman-teman yang saya tahu untuk mendampingi anak-anaknya bisa membaca:

1. Read Aloud (membaca buku bersama dengan bersuara).
Ini adalah metode terbaik menurut saya. Sebab didalamnya ada spirit kesenangan dari membaca. orangtua dan anak sama-sama penelusuri buku, membuatnya menjadi petualangan-petualangan yang mengasyikkan. Dari kegiatan ini ternyata ada lho anak yang lantas jadi bisa membaca, hanya dari read aloud bersama. Anak-anak ini merekam pola tulisan berulang yang dibacakan kepadanya. Hei, mungkin ada yang ingat buku berjudul “Matilda”, karya Roal Dahl. Iabisa membaca tanpa belajar membaca ^^ Komunitas Reading Bugs beberapa waktu mencanangkan agar orangtua mau sejenak meluangkan waktunya membaca bersama anak setidaknya 15 menit setiap hari.

Metode read aloud ini juga yang dipakai oleh para ulama salaf (terdahulu) dan khalaf. Mereka membacakan suatu kitab kemudian disimak oleh murid-muridnya. Metode ini bisa dipakai untuk semua umur, tidak hanya anak-anak. Anak kami yang pertama juga demikian, walau ia sudah bisa membaca, tetapi membacakannya suatu buku tetap hal yang mengasyikkan bagi kami.
Ada buku yang tuntas membahas tentang Read Aloud, judulnya Read Aloud Handbook, karya Jim Trelease, penerbit Hikmah.

2. Mengenalkan huruf
Anak-anak kadang belum memahami bahwa “buku” itu berawalan dari huruf “b”. Anak Anda begitu? jangan khawatir, anak kami Yasmin juga begitu. Agak sulit baginya menyadari bahwa “kodok” berawalan huruf “k”. Awalnya ia menduga itu berasal dari huruf “ko”, tetapi kemudian saya komunikasikan, bahwa tidak ada huruf “ko” yang ada adalah huruf “k”. Sedangkan yang ia bilang sebagai “ko” adalah merupakan suku kata.

Saat itu saya sering bermain tebak-tebakkan. “Ayo siapa tahu, apakah yang dimulai dari huruf ‘A’?, apakah batu, rumah atau apel.” Ia lalu menebak apel. Alhamdulillah lama kelamaan ia menyadari bahwa ada kaitan bunyi huruf, dengan huruf diawal kata. Setelah mengenal bahwa simbol itu melambangkan suatu bunyi/makna, maka masuk ke metode selanjutnya.

3. Metode fonik
Ini adalah metode membaca dengan suku kata, tidak dieja seperti jaman saya belajar membaca dulu. Misalnya mengenalkan “ba”, “ca” dst. Tetapi ada juga yang sekaligus mengenalkan “ba, bi, bu, be, bo.”

Seorang ibu dari anak homeschooler, pernah menuliskan ilustrasinya mengajarkan membaca pada anaknya. Ia memakai kertas karton yang bertuliskan “__a, __i, __u, __e, __o”. Hari pertama ia selipkan semua huruf b pada kertas itu. Hingga tulisannya menjadi “ba, bi, bu, be, bo.” Hari selanjutnya diganti dengan c dan seterusnya. Dengan metode ini menurut ibu tersebut, anak jadi memahami pola “a, i, u ,e, o” tersebut. Sehingga memudahkannya untuk mengenali suku kata, dan akhirnya mudah belajar membaca.

Bagi saya, ternyata cara ini kurang cocok. Secara anak saya (Yasmin, 4th 6bln) sering lupa lagi, lupa lagi :p Saya tidak ingin ia jadi tidak PD, karena ia sering lupa pada pola-pola itu. Jadi saya hanya mengenalkan satu suku kata saja setiap hari. Misalnya hari ini ia belajar “ba”, besok belajar suku kata “ca” dan seterusnya. Alhamdulillah ini mendongkrak PDnya, ia jadi senang menuliskan suku kata yang ia tahu. Misalnya “ta di pa gi a da ma ta ha ri.” Senangnya melihat dia bangga bahwa sudah dapat menyusun suku kata menjadi makna.

4. Metode Glen Doman
Metode ini mashyur menggunakan kartu flash. Dimana anak sudah di “flash” dengan banyak kata-kata sejak bayi. Misalnya kata “kapal”, ‘mama”… dituliskan seluruh katanya. Setelah itu kita flash kepada anak/bayi dengan durasi yang sangat cepat. Saya belum pernah mencoba memakai metode ini, mungkin juga karena saya terlanjur melihat VCD dari Discovery Chanel yang mengkritik metode ini. Tetapi ada pengalaman keluarga homeschooler yang menggunakan kartu flash untuk kata berbahasa inggris, berhasil. Hmm… bagus juga menurut saya. Secara kata dalam bahasa inggris memiliki pola yang berbeda dari bahasa indonesia.

Tetapi bila flash card diperuntukkan agar anak memiliki banyak kosa kata, boleh juga. Mungkin sama fungsinya dengan buku, yang membuat anak bisa melihat dunia dari sana. Tidak salah rasanya kalau buku disebut sebagai jendela dunia.

5. Mengeja
Nah, metode ini sepertinya sudah banyak ditinggalkan. Secara mengeja ‘mungkin’ memerlukan waktu yang cukup lama, dan energi yang lebih banyak. Tapi saya pernah bertemu beberapa orang guru, yang tetap percaya bahwa mengajarkan anak membaca dengan mengeja adalah tetap cara yang terbaik mengajarkan anak membaca.

Semua metode tersebut akan lebih asyik bila didukung oleh kegiatan yang juga mengasyikkan. Berikut sedikit ide kegiatan yang berkaitan dengan membaca dan menulis untuk anak usia dini:

1. Mencoba menebak huruf, atau kata yang tertera dijalan-jalan.
2. Mencoba menebak tulisan dibungkus belanjaan atau jajanan anak-anak kita.
3. Membuat kue berbentuk huruf.
4. Bermain puzzle huruf.
5. Bermain tebak kata.
Misalnya, “coba tebak hewan apa yang berawalan huruf ‘Z’?”.
6. Melompat sambil menebak huruf-huruf dalam kata.
Misalnya bisakah kamu menyebutkan huruf-huruf yang menyusun kata ‘kapal’? anak melakukan sambil melompat, ‘k’, ‘a’, ‘p’, ‘a’, ‘l’.
7. Menuliskan kata-katanya sendiri.
Agar memudahkan anak, menurut saya perlu untuk menuliskan contoh suku kata ditempat yang bisa ia lihat. Agar, ia bisa meniru dan menuliskannya dengan benar. Misalnya kita menulis ‘a, ba, ca, da…, za’ diatas kertas kreasinya. Kemudian anak mau menulis ‘ha na’, maka ia memilih sendiri (dengan melihat contoh yang kita tulis diatas) seperti apa huruf ‘ha’ dan ‘na’ itu.
8. Menulis huruf dipasir.
9. Menuliskan nama teman-temannya.
10. Mencocokkan gambar dengan tulisan. Misalnya tulisan ‘rumah’ dicocokkan pada gambar yang sesuai
dan banyak lagi, Anda bisa menambahkan pada kolom komentar kami ^^.
11. Menggunakan software permainan yang mendukung kemampuan membaca.

Dan lain sebagainya, Anda bisa menambahkan kegiatan mengasyikkan lainnya yang Anda tahu, pada kolom komentar dibawah ini ^^

Perlu diingat! Jangan berikan tantangan yang terlalu sulit pada awal-awal berlatih. Biasanya akan membuatnya jera untuk mencoba. Tetapi berikanlah yang termudah, InsyaAllah ia akan dengan mudah mengerjakannya. Dengan demikian ia jadi percaya bahwa dirinya bisa! dan bisa menyelesaikan hal lainnya lagi yang lebih sulit. InsyaAllah Ta’ala.

Gambar diambil dari indonetwork.

Read Full Post »

Bagaimana cara agar anak-anak kita menjadi pribadi yang PD? itu juga masih menjadi PR kami ^^ Memberi rasa aman pada anak, konon bisa membuat anak merasa nyaman dengan dirinya, merasa dirinya berharga dan akhirnya membuat anak lebih PD.

Berikut 7 Langkah Ortu membangun percaya diri anak, menurut buku “Parenting for Character Building” karya Andri Priyatna :
1. Menyimak
2. Jangan menyepelekan
3. Jangan memberi kritik bernada negatif
4. Segera bertanya setiap kali terjadi perubahan perilaku
5. Tidak pelit memberi pujian
6. Mendorong anak untuk “berfikir”
7. Berfokus pada hal-hal positif.

Karena saya seorang muslimah, jadi saya akan mengulas point demi point tersebut diatas, dalam perspektif pemahaman agama saya ^^

1. Menyimak
Menurut ebook “30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama” terbitan IslamHouse.Com, merupakan keistimewaan anak adalah banyak bertanya dengan pertanyaan yang memenatkan. Bagi setiap ayah dan ibu jangan menghardik putra-putri mereka karenanya. Keistimewaan ini memiliki banyak manfaat:
a. Membuka wawasan akal anak
b. Anak akan lebih dekat dengan orangtuanya
c. Mengetahui kecenderungan anak dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya.

Pada ebook tsb juga disertakan contoh praktis mengenai hal ini. Jika anak anda bertanya tentang api, maka jawab dan katakan “Api diciptakan oleh Allah. Jika Allah berkehendak maka akan mengatakan ‘jadi! maka jadilah apa yang dikehendaki-Nya’….

2. Jangan menyepelekan
Terkadang anak bertengkar karena masalah yang kita anggap sepele. Tetapi ketahuilah, masalah tersebut menurut mereka besar, hingga timbul pertengkaran tsb.

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam mencontohkan perhatian kepada anak. Abu Thalhah punya anak bernama Abu umair. Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dahulu suka bercanda dengannya. Suatu hari beliau melihatnya sedih lalu bertanya, “Hai Abu Umair apa yang dilakukan Nughair (burung kecilnya)?” (HR. Ahmad dalam Musnad 3/155 dengan sanad shahih)

Demikian Rasulullah shalallahu alayhi wa sallam tidak menyepelekan perasaan Abu Umair saat itu.

3. Jangan memberi kritik bernada negatif
Ketika anak melakukan sesuatu yang salah, jangan memberikan kritik bernada negatif. Langsung saja kita memberi koreksi positif atas setiap kesalahan yang telah dia lakukan, agar lain waktu jangan terulang kembali.

Umar bin Salamah berkata:
“Ketika Aku dalam pengasuhan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, tanganku mengacak-acak nampan ketika makan. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam pun berkata kepadaku:
‘Nak, makanlah dengan menyebut nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan dari yang terdekat denganmu.’ Dan demikianlah cara makanku setelahnya.

Contoh lainnya, Anas radiallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah, aku telah berkhidmat kepadanya selama 9 tahun, dan tidak pernah mendapatinya berkata: ‘Kenapa kamu lakukan demikian dan demikian’ atau berkata ‘Kenapa kamu tidak melakukan demikian dan demikian’. (HR. Muslim no. 2304-2310 kitab: al-Fadhail bab: Kana Rasulullah Ahsanunnas Khuluqon)

4. Segera bertanya setiap kali terjadi perubahan perilaku
Jika kita merasa ada suatu perilakunya yang tidak seperti biasanya, cobalah segera untuk bertanya kepada anak. Dan bangun komunikasi yang baik dengannya.

5. Tidak pelit memberi pujian
Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, mendahulukan memberikan pujian dalam memberi nasehat, “Sebaik-baiknya pemuda adalah Ibnu Umar jika dia selalu qiyamullail.”

6. Mendorong anak untuk “berfikir”
Memang sudah tidak zamannya lagi, anak hanya mengikuti orangtua tanpa alasan yang jelas. Sebaiknya kita bangun komunikasi yang baik dengan anak, bangun sikap kritisnya pada koridor syariat. Adakalanya akal tidak dapat menjangkau ilmu Allah yang sangat luas. Pada tataran ini, kita sebagai muslim sebaiknya bersikap sebagaimana para shahabat dahulu bersikap, yaitu sami’na wa atho na, saya dengar dan saya patuhi. Tidak bersikap sebagaimana kaumnya nabi Musa alayhis salam kepada Nabinya.

Sikap kritis ini harus tunduk dibawah naungan ilmu Ilahi, agar menjadi kebaikan di akhirat dan dunia kita. Misalnya, tidak dengan serta merta mengekor pada perkataan seseorang, tanpa dalil yang jelas dalam masalah agama. Untuk masalah keduniaan kita, sikap kritis diperlukan hampir disemua bidang. Bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi dlsb. Sehingga anak-anak mempunyai pemikirannya sendiri, tidak mengekor pada orang lain. InsyaAllah.

7. Berfokus pada hal-hal positif.
Fokus pada setiap kelebihan anak. Sebab, jarang sekali ada manusia yang unggul di semua bidang. Ada hal yang dikuasai dan disenanginya, ada hal yang dia tidak suka. Fokus pada kelebihan anak juga membuat kita lebih fokus dalam mengasuh dan mendidiknya.

Demikianlah pemahaman saya mengenai ketujuh hal tersebut. Sebaik-baiknya contoh adalah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam. Terakhir, bila ada kritik, saran atau tambahan bagi tulisan ini, dipersilahkan untuk menambahkan yha ^^

Daftar Pustaka:
1. “Tarbiyatul Abna’: Bagaimana Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mendidik anak”, Syaikh Musthofa Al Adawi, Media Hidayah.
2. Ebook “30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama”, Salin Sholih Ahmad Ibn Madhi, IslamHouse.
3. “Parenting for Character Building, Andri Priyatna, Elex Media Komputindo.

Read Full Post »

Sebagai muslim kita diajarkan untuk berterima kasih kepada manusia, sebagai wujud rasa syukur kepada Rabb kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Tidaklah seseorang bersyukur kepada Allah seseorang yang tidak berterima kasih kepada manusia (atas kebaikan mereka, pen)” (Shahih Sunan Abi Dawud no. 4811)
Masya Allah, begitu mulia Islam mengajarkan kepada umatnya hal-hal baik seperti ini yang mungkin luput dari perhatian umatnya.

…dan janganlah kalian melupakan keutamaan (siapapun) di antara kalian … (Qs. al-Baqarah/ 2:237)

Tapi sayang, terkadang saya sebagai muslim suka terlupa mengucapkan terima kasih atau memberi penghargaan atas hal baik yang dilakukan oleh orang lain untuk kita. Ketika menghadiri sebuah kajian agama islam yang di bimbing oleh Ustadz Abu Ihsan, beliau mengatakan, “Jangan seperti Qorun, ketika datang kenikmatan menghampirinya. Ia mengatakan ini adalah hasil kerja saya sendiri.” Naudzu billah min dzalik

Padahal hampir tidak mungkin kita melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Misalnya kita ingin pergi ke Masjid, tapi kita tak tahu tempatnya, kita bertanya pada orang lain di mana letak masjid. Orang yang menunjukkan masjid ini adalah bantuan agar kita dapat pergi ke masjid. Belum termasuk masjid yang kita gunakan adalah tanah hasil waqaf orang lain, belum lagi air yang kita gunakan untuk berwudhu, belum perlengkapan sholat yang kita pinjam, belum lampu yang digunakan untuk penerangan, dan lain sebagainya. Pernahkah kita memperhatikan bahwa ada banyak jasa orang lain di dalamnya? Masya Allah.. maka janganlah kita lupa untuk menghargai mereka.

Ada dua wujud rasa pengakuan terhadap bantuan orang lain kepada kita yaitu bersedekah dan mengucapkan terimakasih. Bersedekah adalah wujud pengakuan adanya bantuan dari orang lain sehingga kita bisa memiliki harta yang sekarang ini kita miliki. Harta yang kita dapat dari gaji ataupun laba usaha kita, ada sebagiannya yang menjadi andil orang lain. Bagi orang yang berangkat bekerja ke kantor, perhatikanlah sejak ia melangkah keluar rumah sampai ke kantor, pasti ada bantuan orang lain sehingga menjadi sebab ia sampai ke kantor dan menjalankan tugas. Demikian pula bagi mereka yang berdagang. Dalam setiap barang dagangannya pasti ada andil orang lain, sejak tahap produksi sampai terjual. Untuk itulah kita perlu mengeluarkan sedekah. Ustadz Abu Ihsan mencontohkan, jika kita lihat uang yang ada di dompet kita dengan alat pemeriksa sidik jari, tentu ada banyak sekali sidik jari orang lain yang ada di uang tersebut. Hal ini membuktikan bahwa harta kita sampai ke kita melalui jalan orang lain.

Cara kedua dalam mengakui bantuan orang lain adalah dengan berterimakasih kepadanya. Hal ini cukup sederhana namun kadang dilupakan orang. Kebanyakan orang merasa dengan membayar upah atau menganggapnya sebagai kewajiban orang itu, ia tidak mengucapkan terimakasih. Demikian pula dalam pergaulan sehari-hari di dunia maya, kita bisa mengklik tombol Like This, mengucapkan terima kasih ataupun mendo’akan kebaikan baginya sebagai wujud syukur dan penghargaan baginya. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam yang mulia mencontohkan kepada kita, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhu,

Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masuk ke kamar kecil (untuk membuang hajat). Maka aku menyediakan air bersih untuk Beliau pakai berwudhu. Ketika Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selesai dari hajatnya, Beliau bertanya, “Siapakah yang telah meletakkan (air wudhu) ini?” Kemudian Beliau diberitahu, bahwa akulah yang telah melakukannya. Maka Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (membalas kebaikanku dengan) berdoa: “Ya Allah… berikanlah dia (Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu) pemahaman dalam agama”.(HR. al-Bukhari no.134 dan Muslim no. 6318)

Berapa banyak bantuan atau informasi bermanfaat bagi kita, baik untuk urusan akhirat maupun dunia, untuk urusan saat ini maupun masa depan, yang kita dapat dari kawan-kawan kita. Untuk itu marilah kita hargai andil tersebut dengan akhlak Islam yang baik. Ucapkanlah terima kasih dan doakan kebaikan untuknya ^^

Topik yang sama “Haruskah Membalas Budi?”

Read Full Post »

Cerita dibawah ini sebenarnya tulisan ayahnya abbas dan saya berencana mau menjadikannya sebagai buku bacaan bagi Abbas. Menurut kami, penting bagi seorang muslim untuk belajar matematika. Terutama mengenai timbangan dan takaran (berat dan volume), karena hal tersebut menyempurnakan timbangan dan takaran tertulis dalam Al Qur’an. Bagaimana seorang muslim harus memahami tekhnik perhitungan yang baik, dan juga bersikap amanah. Saya postingkan sedikit cerita mengenai timbangan, InsyaAllah kalau penulisnya (ayah abbas) ada waktu akan ada lanjutan mengenai takaran ^^

Sempurnakanlah timbangan

Anakku,
hari ini kita akan berkenalan dengan timbangan. Kamu tentu sudah tau apa itu timbangan. Timbangan itu alat yang digunakan untuk mengetahui berat suatu benda. Misalnya saja ketika ummi membeli jeruk 2 kilogram, maka berat benda (jeruk) adalah 2 kilogram. Contoh lain misalnya berat badan Ayah 72 kilogram, dokter memberi obat 5 miligram, Nenek membeli perhiasan emas seberat 20 gram, jembatan yang baru dibuat itu mampu menahan beban 100 ton, Paus biru bobotnya 30 ton, Amphicoelias diperkirakan bobotnya 30 ton, dan seterusnya. Coba bisakah kamu menemukan contoh berat yang lainnya?

Penting lho belajar mengenai timbangan. Apalagi kalau kita ingin menjadi pedagang, dokter, arsitek, insinyur, dll. Kalau kita jadi pedagang, maka Allah melarang kita untuk mengurang-ngurangi timbangan. Kalau kita bilang jual jeruk 1 kilogram, maka kita harus memastikan bahwa jeruk yang dijual beratnya tidak kurang dari 1 kilogram. Kalau kita jadi insinyur, maka Allah juga melarang kita untuk mengurang-ngurangi timbangan benda-benda yang kita buat. Misalnya kita membuat jalan yang menghabiskan aspal 5 ton, maka kita katakan bahwa jalan ini menghabiskan aspal sebanyak 5 ton. Tidak boleh mengatakan bahwa aspal yang digunakan adalah 10 ton atau 3 ton. Kalau kita menjadi dokter, maka tidak boleh memberikan resep yang seharusnya 5 miligram dengan obat yang 3 miligram saja. Demikian pula kalau kita menjadi pedagang emas.

Begitu pentingnya masalah takaran dan timbangan ini, sampai-sampai ada didalam Al Qur’an:
“Dan kepada penduduk Madyan, kami (utus) Syua’ib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada tuhan selain Ia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikitpun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman.” (Qur’an surat Al-A’raaf : 85)

Nah, apa yang terjadi yha kalau ternyata kita tidak paham cara menimbang? Bisa saja merugikan orang lain ataupun merugikan kita. Sebagai umat  Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam kita diwajibkan untuk betul dalam menimbang, serta tidak boleh mengambil milik orang lain.



Read Full Post »

Older Posts »