Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uliansyah family’ Category

Lagi senang menulis tentang peranan ibu rumah tangga nih ^^. Saya pernah melihat postingan dimilis sekolah rumah (yang diposting oleh Pak Sumardiono), tentang ibu rumah tangga yang merangkap banyak profesi dirumah. Sayang saya belum menemukan kembali artikel tersebut, padahal bagus juga untuk dipasang di blog saya ini. Secara dalam artikel tersebut semua tugas sebagai ibu dikonversikan dengan materi yang telah dihematnya. Hehe…

Misalnya seorang ibu rumah tangga, kadang ia berprofesi sebagai pengasuh anak (anak-anaknya), Bila menyewa jasa baby sitter bayangkan berapa materi yang harus dibayarkan untuk sebuah jasa layanan baby sitter yang penuh dengan cinta, murni kepada anak-anaknya sendiri.

kadang ibu berpfofesi menjadi tukang masak dan memenuhi kebutuhan nutrisi dirumahnya.

kadang ibu berprofesi sebagai pembersih rumah.

Kadang menjadi supir pribadi untuk anak-anaknya.

Kadang menjadi tumpahan cerita anak-anaknya.

Kadang menjadi guru dan pembimbing anak-anaknya.

Yang terutama peran seorang ibu yang baik, bisa membuat kepala rumah tangga bekerja dengan lebih tenang diluar rumah. Karena, anak-anak dan rumah tangga dikelola seseorang yang dapat dipercayainya.

Untuk semua itu, seorang ibu biasanya memberikan secara GRATIS kepada seluruh orang-orang yang dicintai dalam rumahnya.

Iklan

Read Full Post »

Hidup dizaman ini menuntut keistiqomahan dalam keputusan akan profesi sebagai ibu rumah tangga. Ketika saya bekerja dulu, mau tidak mau memang sebagian hati saya tertinggal dirumah. Sehingga ketika bekerja diluar rumah (walau tidak 8 to 5) tidak bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaan. Bagi saya bekerja seperti itu bukanlah merupakan kenikmatan. Tetapi ketika dirumahpun, saya tidak terlalu memahami tugas penting sebagai ibu. Alhamdulillah, semangat untuk belajar dan memperbaiki diri selalu membuat saya bergairah dan optimis.

Ketika saya kemudian memutuskan menjadi ibu rumah tangga, sayapun tidak otomatis menerima begitu saja, rasa ego saya terus merusak pemahaman agama yang telah saya dapat. Saya khawatir kurang dihargai karena berprofesi mulia ini. Memang mau tidak mau ajaran dari ibu mengalir kepada saya. Ibu saya terutama, sering berpesan, agar tidak bergantung secara finansial kepada suami. Katanya sih, agar kita sebagai wanita dihargai. Mau apa-apa tidak bergantung pada suami, tinggal beli saja dengan uang dari penghasilan sendiri.

Oleh sebab itu ketika sudah dirumahpun, saya tetap merintis jalan untuk tetap memiliki penghasilan dari rumah. Saya pernah berjualan susu kacang kedelai, es kacang hijau, donat dengan merekrut satu orang pekerja. Sempat juga memiliki gerobak untuk berjualan keliling. Saya juga pernah membuka bisnis garmen kecil-kecilan, yang walaupun kecil bisa membuat saya sedikit memberi hadiah pada kedua orangtua. Semua itu demi bisa berpenghasilan dan sekaligus berada dirumah, mengusir galau pada pengetahuan saya akan tugas utama seorang wanita.

Kegelisahan akan dilema ini bahkan pernah membuat saya bermimpi-mimpi. Bagaimana jika saya ditanya oleh Allah mengenai waktu saya, untuk apa saya gunakan? Sedang saya tidak bisa mengatakan bahwa saya telah berusaha mengenalkan anak-anak saya akan agamanya, mengajarkan tauhid dan beribadah kepada-Nya. Sebagian waktu saya bahkan dipersembahkan untuk yang lain.
“Sayang sekali”, seharusnya begitu komentar yang terucap dari orang-orang yang berfikir. Tetapi saya seringnya menerima komen, “Sayang sekali, sudah sekolah tinggi-tinggi cuma untuk jadi ibu rumah tangga.” ^^

Oh… diri. Saya nasehatkan kepada diri sendiri, untuk melihat pada sabda Nabi ini, “Seandainya dunia ini di sisi Allah punya nilai setara dengan sebelah sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum seorang kafir seteguk air pun.” [HR. At-Tirmidzi, dishahihkan al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 940]

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah pasar sementara sahabat-sahabat berada di sekitarnya, beliau melewati bangkai seekor anak kambing yang cacat telinganya. Beliau memegang telinga bangkai hewan tersebut, lalu berkata:
“Siapa di antara kalian ingin memiliki bangkai anak kambing ini dengan membayar satu dirham?”
“Kami tidak ingin memilikinya walau dengan membayar sedikit, karena apa yang akan kami perbuat dengannya?” jawab mereka yang ditanya.
Beliau kembali mengulangi pertanyaannya, “Apakah kalian ingin bangkai anak kambing ini jadi milik kalian?”
“Demi Allah, seandainya pun hewan ini masih hidup, ia cacat, telinganya kecil, apalah lagi ia sudah menjadi bangkai!” jawab mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maka demi Allah, sungguh dunia ini lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.” [HR Muslim]

Demikianlah hikmah dan pelajaran yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam kepada kita umatnya. Agar tetap fokus pada tujuan utama sebagai muslim/muslimah. Walau demikian Allah Azza wa Jalla berfirman “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7).

 

Read Full Post »

Ied


Read Full Post »

Kemarin untuk kesekian kalinya ada seorang kawan yang bertanya bagaimana membuat anak senang membaca. Pertanyaannya itu muncul karena dilihatnya anak saya, Abbas senang sekali membaca buku. Lain lagi kira-kira 2 minggu yang lalu, ada seorang ibu di Gramedia menanyakan pertanyaan yang sama pada saya. Demi, melihat Abbas yang asyik duduk dengan bukunya. Kemudian dilanjutkan dengan meminta-minta agar dibelikan sebuah buku yang menarik baginya.

Jujur saja, selama ini saya tidak terlalu menganggap Abbas memiliki kebiasaan membaca yang istimewa. Karena ada banyak anak lain dengan orang tua yang gemar membaca, anak-anaknya seperti menuruni hobi yang serupa. Suami saya dan Saya kebetulan memang senang membaca. Terkadang kami mendiskusikan bahan bacaan kami di depan anak-anak. Jadi setiap Abbas selesai membaca, dia sepertinya juga butuh untuk mendiskusikan bahan bacaannya. Tidak terasa ternyata ini kebiasaan yang baik sekali.

Walau tidak bisa disebut tips, tapi saya merasa mungkin beberapa hal dibawah ini yang bisa membuat seorang anak gemar membaca.

1. Budaya membaca ada di rumah.
Kebetulan Ayah abbas dan Saya senang sekali membaca. Jadi adegan membaca bermacam-macam sering dilihat oleh anak-anak kami. Mungkin saja berawal dari sana, anak kami merasa bahwa membaca itu asyik. Dilihat dari bukti Ayah dan Umminya yang senang membaca di setiap kondisi.

Dulu saya pernah dekat dengan seorang ibu, kebetulan anak ibu ini berada dalam bimbingan les saya. Ibu ini sering mengeluhkan anaknya yang tidak senang membaca buku. Saya coba tanya, apakah bapak atau ibunya senang membaca? dengan senyum-senyum dia mengatakan bahwa suaminya yang seorang pilot kebetulan memang tidak senang membaca. Ibu anak itu juga berkisah kalau kebetulan dia juga hanya suka membaca tabloid wanita saja. Tanpa saya jawab pertanyaan ibu tersebut, rupanya dia telah menyadari jawabannya mengapa anaknya tidak suka membaca.

2. Membacakan buku.
Membacakan buku secara keras kepada anak konon memiliki sumbangan yang besar agar anak juga cinta membaca. Dari membacakan buku, banyak hal yang dapat kita peroleh. Diantaranya, kedekatan hubungan antara orang tua dan anak, memberitahu bahwa tiap buku mempunyai kisah yang berbeda dan kisah-kisah tersebut ternyata mengasyikkan! memberikan gambaran alur membaca buku. Dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan. Bahwa buku itu punya halaman-halaman sendiri, dan tiap halaman ternyata berkesinambungan. Membuat dia menyadari bahwa ada banyak informasi yang ingin dia peroleh ada di dalam buku! Keren khan bagi seorang anak mengetahui ada binatang yang sebesar rumah? MasyaAllah, bagi anak-anak itu fakta yang menarik sekali.

Membacakan buku juga tidak harus menunggunya sampai dia besar dan paham apa yang kita katakan. Menurut Jim Trealease, dalam bukunya “Read Aloud Handbook” seorang bayi sudah dapat dibacakan sebuah buku. Hal ini disebabkan karena kemampuan mendengarnya sudah berkembang dengan baik lebih daripada kemampuan bicaranya. Dalam halaman 72 dalam buku itupun dikatakan, pilihan buku di tahun pertama usia anak, sebaiknya buku-buku yang menstimulasi penglihatan dan pendengarannya.

Salah satu studi internasional yang paling komprehensif tentang membaca dilakukan oleh Warwick Elley untuk International Association for the Evaluation of Educational Echievement (IEA) pada tahun 1990 dan 1991. Melibatkan 32 negara, studi ini mengkaji 210.000 anak-anak usia sembilan dan empat belas tahun. Untuk usia sembilan tahun, empat negara teratas adalah: Finlandia (569), Amerika Serikat (547), Swedia (539), dan Perancis (531). Tetapi posisi AS merosot keposisi delapan pada anak usia empat belas tahun.

Ternyata dari anak-anak pembaca terbaik tersebut mempunyai beberapa kemiripan. Beberapa diantaranya:
1. Frekuensi guru dalam membaca lantang kepada murid-muridnya.
2. Frekuensi dari sustained silent reading (SSR), atau membaca karena kegemaran di sekolah. Anak-anak yang setiap hari melakukan SSR memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya membaca sebulan sekali.

Satu lagi studi internasional tentang membaca yang dilakukan terhadap 150.000 orang anak kelas empat, para penemu menemukan kalau siswa-siswa yang “sering” dibacakan buku dirumah mendapatkan nilai 3o lebih tinggi dibanding siswa yang hanya “sesekali” dibacakan buku di rumah. Berarti semakin sering seorang anak dibacakan buku, semakin banyak kata-kata yang dia dengar (lebih mendorong pemahaman anak), dan semakin mungkin si anak mengasosiasikan membaca dengan pengalaman harian yang menyenangkan.

3. Menyediakan buku bacaan.
Sediakan banyak buku bacaan yang bisa ia pilih sedini mungkin. Mungkin ketika anak kita berusia belum 1 tahun, buku tersebut hanya masuk ke kategori pegang, gigit atau dibalik-balik. Tapi ini kenalan awal yang baik sekali. Mungkin akan terekam dalam benaknya, benda kertas berlapis-lapis itu. Dengan gambar dan warna yang menarik. Sediakan juga rak khusus untuknya, jika bisa. Agar dia bisa memilih dan mengkoleksi buku-buku miliknya sendiri.

4. Membebaskannya memilih buku, walaupun saat itu Ia belum bisa membaca.
Sering saya melihat orangtua yang memarahi anaknya, dikarenakan anaknya menginginkan sebuah buku sedang ia belum bisa membaca. Ataupun, buku yang dipilih bukan buku yang mendukung pelajarannya disekolah. Menurut kami kebetulan, kecintaan membaca itu muncul berawal dari dia membutuhkan informasi dalam suatu buku. Menganggap suatu buku itu pantas dan layak untuk dia balik lembar demi lembarnya. Walaupun saat itu ia belum dapat membaca. Jadi jika sejak awal ia sudah dihalangi kemesraannya dengan buku, tidak bisa disalahkan jika kemudian hari anak tersebut memilih tidak menyukai buku-buku yang kita tawarkan.

Saya dan suami selalu bergantian untuk membacakannya buku-buku yang dipilihnya. Suami saya terutama, yang mencontohkan kepada saya bagaimana nikmatnya membacakan buku pada anak. Sekarang seiring bertambah kesibukan Ayah abbas, saya bisa dengan santai menggantikan posisi sebagai pembaca buku di rumah.

Sering juga terjadi pilihan buku yang diinginkan oleh anak-anak saya, kurang sesuai dengan keinginan saya. Saya misalnya menginginkan anak usia balita adalah saatnya menanamkan adab-adab dan karakter yang baik. Maka saya menginginkan buku-buku yang dibacanya adalah berkisar cerita tentang penanaman karakter baik pada anak. Tetapi ternyata tidak demikian, anak saya lebih senang buku ensiklopedia. Mulai dari serangga, mamalia, artropoda, amfibi sampai sekarang dinosaurus. Tetapi saya tetap mengedepankan minatnya, sambil tetap memancing minatnya pada buku-buku yang saya inginkan dia baca.

5. Ajak anak berkunjung ke perpustakaan, penyewaan buku dan buatkan kartu anggota untuknya jika memungkinkan.
Selama di Yogyakarta, saya hanya dua kali mengajaknya ke perpustakaan. Tetapi saya sering mengajaknya ke toko buku, yang kami anggap juga sebagai perpustakaan umum ;p Tetapi ketika tinggal di rumah kami di Pondok Aren dulu kami sering berkunjung ke library@senayan atau ke penyewaan buku elex. Saya juga berniat membuatkannya kartu anggota perpustakaan bila umurnya telah mencukupi untuk memiliki kartu tersebut.

Read Full Post »

Bergaris Dua

Ceritanya beberapa hari belakangan ini, Ummu abbas uring-uringan. Ditambah Yasmin yang tambah sensitif dan manja sekali. Jadi bertambah uring-uringannya Ummu abbas. Pernah juga Ummu abbas merasa tidak mau bertemu matahari, rasanya panas dan silau. Untung ini hanya berlangsung sehari saja. Terakhir kemarin ummu abbas mengusahakan refresh ke toko buku, minum jamu, tapi tak kunjung juga perasaan ini lega. Rasanya semak, ada sesuatu yang salah rasanya.

Ummu abbas mencoba mengingat-ingat. Ah, bulan kemarin rasanya Ummu abbas tidak datang bulan seperti biasanya. Tapi, biasanya juga datang bulannya Ummu abbas telat, apa bedanya dengan sekarang. Kemarin-kemarin juga sudah beli tespek, hasilnya selalu garis satu. Akhirnya setelah didesak-desak ayah abbas, jadi deh ummu abbas menggunakan tespeknya.  Alhamdulillah hasilnya bergaris dua. Walau samar-samar. Habis belinya yang tiga ribuan sih ^^. Eh, itu benar-benar bergaris dua khan yha? Ummu abbas tidak percaya dengan penglihatannya. Setelah diyakinkan Ayah abbas beberapa kali, baru deh Ummu abbas percaya. Ih, saya hamil, sudah punya anak dua masih saja merasa heran dan takjub. Tapi garis dua itu hamil atau bukan yha? gimana yha, rasanya nggak percaya. Dan seperti ada yang sedang bercanda dengan saya…;p Tapi rasanya Allah Azza wa Jalla tidak bercanda yha, “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.“(Az-Zumar: 62). Allah yang menciptakan janin kecil ini diperut saya. Allah mempercayakannya pada saya! Tidakkah kamu pikir ini hebat? Saya langsung teringat seorang sahabat yang juga berharap diberi nikmat seperti ini. Tapi nikmat itu tak kunjung jua datang. Pernah datang sekali, tapi hanya beberapa bulan didalam perutnya. Kemudian, Allah pemiliknya telah mengambilnya kembali. Hhhh… Ya Allah semoga Engkau juga mengkaruniakan Anak bagi saudari-saudari Saya yang sedang resah dan gundah hatinya menunggu karunia-Mu yang satu ini.

Alhamdulillah setidaknya ada hormon yang bisa disalahkan dari uring-uringannya saya kemarin. hehehe…

Selain senang, Ummu abbas sekaligus merasa gentar. Khawatir dengan kemampuan diri mengasuh tiga orang anak. Mengasuh dua orang anak saja sudah merasa kesulitan. Bagaimana dengan tiga orang anak? “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Al Baqarah: 286).
Ya Allah semoga kami termasuk yang mendapatkan pahala dari usaha-usaha kami. Aamiin.

Read Full Post »

Beberapa waktu yang lalu Ummu abbas dan Yasmin pergi ke pasar beringharjo. Belanja disana, ramai sekali deh. Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan disini. Apalagi pas di pasar hanya beli kaus kaki, dan pakaian dalam Abbas *sensor* hehe…maaf. Ketika memasuki waktu sholat dzuhur, Ummu abbas ditelpon oleh Ayah abbas. “Mau dijemput dimana Mi?”, begitu katanya. Maunya sih dijemput ditempat makan asyik. Hehe…begini deh kalau istri nggak bisa dialem. Yha cerita selanjutnya nggak terlalu penting, akhirnya janji dijemput di Taman Pintar. Jaraknya dengan pasar bringharjo sekitar 200 meter. Coz, Ummu abbas mau sholat dzuhur di mesjid yang kebetulan ada disana.

Sesampainya disana, Ummu abbas langsung ke toilet yang berada di food court. Disana Ummu abbas membersihkan diri dan berwudhu, ketika keluar dari toilet ada tiga orang anak perempuan yang manis-manis sekali. Mungkin berumur 4th – 8th, pakaian juga bergaya sekali. Ah, mungkin mereka dari Jakarta, ke Taman pintar ini dalam rangka berlibur. Tapi saya kok merasa di intimidasi yha.

Anak-anak itu melihat saya semua, juga melihat Yasmin tentunya. Yasmin selalu senyum, dia memang murah senyum. Tapi yang disenyumin kok nggak balas senyum. Saya juga menyapanya, kok tidak dijawab yha. Ibunya juga cuek aja membetulkan rias wajahnya.

Lalu, ketiga anak itu berlenggak-lenggok didepan saya. Ada yang memamerkan tasnya, bajunya, gelangnya, celana jeansnya. Perasaan saya saja, atau anak-anak ini sedang mengintimidasi Saya dan Yasmin yha. Alhamdulillah, Yasmin dipamerkan semua benda-benda bagus itu hanya senyum-senyum saja. Udah gitu, Yasminnya juga lagi kucel. Khan habis bangun tidur. Iya, tadi dipasar Yasmin tidur, saya gendong tentunya. Kebayang donk sayanya juga kucel, karena habis gendong Yasmin ditambah keringetan lagi.

Saya langsung membimbing Yasmin ke wastafel, sebab kalau ke toilet dia paling ribut harus cuci tangan dulu. Lho…lho ini kok malah langsung keluar. Saya panggil, “De, nggak cuci tangan dulu?”
Dengan terburu-buru Yasmin masuk kembali dan mencuci tangannya, terus langsung keluar. Apa dia juga merasa terintimidasi seperti saya yha? Aduh saya memang sudah tua, tidak paham dengan pergaulan anak-anak sekarang. Anak-anak itu paling berumur 4-8th, kok bisa bersikap seperti itu yha. Bahkan senyum saja tidak, padahal sudah saya sapa. Ibunya juga mungkin sibuk sekali, hingga tidak sempat mengajarkan anak-anaknya untuk menjawab sapaan orang lain.

Aduh, sampai diluar saya langsung membagi cerita ini sama Ayah abbas. Baru kali ini saya bertemu dengan anak-anak bersikap dingin seperti itu. Zaman saya dulu perasaan anak-anak masih ramah yha. Atau sayanya saja yang ramah, hehehe…
Btw, itu termasuk bullying nggak yha? aduh seramnya bila anak-anak saya satu sekolah dengan anak-anak itu.

Read Full Post »

Anak-anak itu memang anugerah Allah yang tak terhingga.

Ummi: “Ayo Abbas pakai dulu celananya.”
Abbas: “Sebentar Mi, ini tangan ummi kok luka? sakit nggak? Abbas obatin yha.” Lalu dia bergegas mengambil solasi. Ahwwww…so Sweet.

Ketika Abbas dan Yasmin sedang pilek, mereka berlomba-lomba membuat balon. Balonnya keluar dari hidung mereka. Balon yang paling besar yang menang. Sampai saat ini Yasmin pemecah rekor dengan balon terbesar. Sayang tidak ada hadiahnya.

Ungkapan cinta ala Abbas
Ummi: “I Love You.”
Abbas: “You love me.”

Ummu: “Ummi Sayang Abbas dan Yasmin.”
Lalu Yasmin tersipu-sipu malu.
Kyaaaa….cantiknya. 🙂

Begini deh balada ibu-ibu, yang sedang volin in love dengan anak-anaknya 🙂

Read Full Post »

Older Posts »